Penglipuran Bali Kembangkan Wisata Berbasis Pengolahan Sampah, Daun Bambu Disulap Jadi Pupuk Organik
Putu Dewi Adi Damayanthi June 01, 2026 11:03 AM

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI – Di tengah meningkatnya persoalan sampah yang menjadi tantangan di berbagai daerah, Desa Wisata Penglipuran, Kabupaten Bangli, Bali, terus menunjukkan komitmennya dalam menjaga lingkungan melalui pengelolaan sampah yang berkelanjutan. 

Tak hanya menjaga kebersihan kawasan wisata, pengelolaan sampah di desa ini juga dikembangkan menjadi potensi ekonomi sekaligus sarana edukasi bagi wisatawan.

Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah pengolahan limbah daun bambu menjadi pupuk organik. 

Program tersebut melibatkan masyarakat secara langsung sebagai bagian dari upaya pelestarian lingkungan berbasis kearifan lokal.

Baca juga: PLESIRAN Tenang! Tiket Masuk Desa Penglipuran Bali Kini Sudah Termasuk Asuransi Personal Accident

Warga Penglipuran, I Nengah Cana, Senin 1 Juni 2026 menjelaskan, proses pembuatan pupuk organik diawali dengan pengumpulan dan pemilahan daun bambu kering yang banyak ditemukan di lingkungan desa. 

Daun-daun tersebut kemudian dicacah menjadi ukuran lebih kecil untuk mempercepat proses penguraian.

“Setelah dicacah, daun bambu dicampur dengan pupuk kandang dan difermentasi sekitar 10 hari hingga menjadi pupuk organik yang siap digunakan,” ujarnya.

Pupuk organik hasil olahan tersebut tidak hanya dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman di lingkungan desa, tetapi juga memiliki nilai ekonomi karena dapat dipasarkan kepada masyarakat.

Manager Desa Wisata Penglipuran, I Wayan Sumiarsa, mengatakan pihaknya berencana menjadikan aktivitas pengolahan sampah sebagai salah satu atraksi wisata edukatif. 

Melalui konsep tersebut, wisatawan tidak hanya menikmati keindahan dan keunikan Desa Penglipuran, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung mengenai pengelolaan sampah yang ramah lingkungan.

“Ke depan, pengelolaan sampah ini akan dikemas menjadi bagian dari atraksi edukasi wisata, sehingga pengunjung dapat belajar bagaimana sampah dapat diolah menjadi sesuatu yang bernilai dan bermanfaat,” jelasnya.

Menurut Sumiarsa, konsep wisata berbasis edukasi lingkungan diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat maupun wisatawan tentang pentingnya pengelolaan sampah yang baik dan benar.

"Dengan pengelolaan yang tepat serta dukungan masyarakat, sampah yang selama ini dianggap sebagai persoalan dapat diubah menjadi sumber manfaat," ujarnya.

Selain menghasilkan nilai ekonomi, inovasi tersebut juga menjadi media edukasi yang mendukung terwujudnya lingkungan bersih, sehat, dan berkelanjutan di kawasan wisata. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.