Menikmati Lobster Fresh dengan Pemandangan Cantik Selat Bali di Banyuwangi
GH News June 01, 2026 01:09 PM
Banyuwangi -

Kalau mau cicip lobster fresh di Banyuwangi, kamu patut menyambangi Kamping Lobster. Suguhan pemandangan Selat Bali menambah poin plus bersantap di sini.

Selepas puas bermain air dan menikmati panorama Pulau Tabuhan, kami menuju Kampung Lobster. Jaraknya hanya sekitar 500 meter dari dermaga tempat perahu merapat. Kampung Lobster, salah satu destinasi wisata kuliner yang cukup populer di kawasan Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi.

Kami sengaja berjalan kaki, sekalian untuk mengeringkan pakaian yang lepek akibat cipratan ombak selama menyeberangi Selat Bali.

Saat tiba di Kampung Lobster, kumandang azan Jumat menggema dari musala yang letaknya tak jauh dari restoran. Namun dua rekan muslim dalam rombongan memutuskan tetap bertahan di lokasi.

Kampung Lobster BanyuwangiKampung Lobster Banyuwangi bisa jadi tujuan pencinta lobster untuk bersantap. Foto: Sudrajat

"Lagi pula kami kan musafir," ujar salah seorang dari mereka sambil tersenyum, seolah sudah menyiapkan pembelaan sebelum ada yang bertanya lebih jauh.

Sebelum memilih menu, kami diajak melihat area budidaya lobster. Di sebuah bangunan yang menyerupai dome, berjajar rapi akuarium berisi berbagai biota laut hidup. Selain lobster aneka ukuran, beberapa akuarium juga berisi kepiting dan ikan kerapu.

Di bagian lain terlihat tumpukan kerang dan cumi-cumi segar yang telah dibersihkan dan siap diolah menjadi berbagai hidangan laut.Kampung Lobster merupakan bagian dari PT Teras Samudra Sejahtera, perusahaan yang bergerak di bidang budidaya lobster sistem dasar sekaligus pemasok lobster untuk pasar ekspor.

Di perairan Bangsring, perusahaan ini mengelola sekitar 300 keramba tenggelam yang bentuknya menyerupai apartemen bawah laut. Ribuan benih lobster dibesarkan di sana hingga siap panen. Selain itu terdapat dome lobster berukuran besar yang digunakan untuk pembesaran lobster maupun ikan konsumsi lainnya.

Pemilik Kampung Lobster, Chandra Astan, bercerita bahwa awalnya lokasi tersebut murni digunakan untuk kegiatan budidaya lobster ekspor. Namun berkembangnya wisata bahari di Bangsring membuat mereka melihat peluang lain.

"Kampung Lobster awalnya tempat budidaya lobster untuk ekspor. Kemudian kami kembangkan menjadi wisata kuliner yang menyajikan berbagai olahan seafood dengan spesialis lobster," ujar Chandra yang juga politisi PDI Perjuangan.

Kampung Lobster BanyuwangiArea budidaya di Kampung Lobster Banyuwangi bisa dilihat pengunjung. Foto: Sudrajat

Ia menjamin hampir seluruh menu andalan di restoran ini bertumpu pada kesegaran bahan baku. "Kuliner kita adalah kuliner laut. Mulai ikan dan spesial adalah lobster yang ditangkap langsung sehingga fresh," katanya.

Salah seorang pelayan menambahkan, waktu terbaik menikmati suasana Kampung Lobster sesungguhnya bukan saat makan siang seperti yang kami lakukan, melainkan menjelang petang.

"Di sini makin sore makin ramai karena bisa sekalian menikmati sunset," ujarnya.

Karena itu meja-meja sengaja ditata menghadap langsung ke Selat Bali. Dari kejauhan tampak perahu-perahu wisata hilir mudik mengantar wisatawan menuju Pulau Tabuhan atau kembali ke daratan.

Kampung Lobster BanyuwangiSuguhan pemandangan Selat Bali yang cantik. Foto: Sudrajat

Namun siang itu pun pemandangannya tak kalah menarik. Laut berwarna biru kehijauan membentang di depan mata, sementara semilir angin pantai membuat suasana makan terasa lebih santai.

Tepat setelah waktu salat Jumat usai, pengunjung mulai berdatangan. Restoran yang sebelumnya relatif lengang perlahan terisi. Selain wisatawan lokal, kami kembali bertemu dengan lima pasangan wisatawan asal China yang sebelumnya kami jumpai saat berkunjung ke Pulau Tabuhan.

Tak perlu waktu lama untuk menentukan pilihan menu. Dua porsi lobster bakar saus mentega menjadi pesanan utama. Kami juga memesan kepiting saus Padang, kerang saus Padang, serta plecing kangkung sebagai pendamping masing masing dua porsi.

Kampung Lobster BanyuwangiSajian lobster dan kepiting fresh yang menggugah selera. Foto: Sudrajat

Ketika hidangan tiba di meja, aroma mentega dari lobster bakar langsung mendominasi. Daging lobster yang tebal dan manis berpadu dengan bumbu yang meresap sempurna. Kepiting dan kerang saus Padang pun tak kalah menggoda.

Untuk minuman kami memilih jeruk peras dan aneka jus lainnya. "Sadar kolesterol ya bro...," canda saya.

Dalam perjalanan kembali ke penginapan, saya malah menyempatkan diri mampir ke sebuah apotek untuk membeli simvastatin. Kali ini giliran anggota rombongan yang meledek saya. "Usia emang gak bohong, ya Kang. Gak cukup air jeruk tapi harus didoping simvastatin juga," seru Audrey disambut tawa rombongan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.