Tragis! Mama Muda 24 Tahun di Konawe Selatan Tewas Diduga Dianiaya Suami dengan 28 Luka Memar
Muliadi Gani June 01, 2026 01:53 PM

 

PROHABA.CO, KONAWE SELATAN –  Sebuah peristiwa tragis yang menyita perhatian publik terjadi di Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), Sulawesi Tenggara (Sultra).

Seorang mama muda berinisial AS (24) ditemukan meninggal dunia di dalam rumahnya di kawasan BTN Rezky, Desa Ambepua, Kecamatan Ranomeeto, pada Sabtu (30/5/2026).

Kematian perempuan muda tersebut meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan warga sekitar.

Ironisnya, korban baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-24 hanya dua hari sebelum ditemukan tak bernyawa, tepatnya pada Kamis (28/5/2026).

Kasus ini sontak mengundang perhatian aparat kepolisian.

Tidak membutuhkan waktu lama, tim gabungan dari URC Buser77 Satreskrim Polresta Kendari, Unitkam Sat Intelkam Polresta Kendari, dan Intelmob Polda Sultra berhasil mengamankan terduga pelaku yang tak lain adalah suami korban sendiri, IS (28).

Ditemukan Tak Bernyawa di Samping Anak Balita

Peristiwa memilukan itu pertama kali diketahui saat korban ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa di dalam rumahnya pada malam hari.

Suasana semakin mengharukan karena jasad AS ditemukan berada di dekat anak semata wayangnya yang masih berusia sekitar dua tahun.

Keluarga yang datang ke lokasi mulai curiga setelah melihat sejumlah luka memar yang tersebar di beberapa bagian tubuh korban.

Luka tersebut terlihat pada wajah, lengan, bahu hingga paha.

Kasat Reskrim Polresta Kendari, AKP Welliwanto Malau, membenarkan adanya penemuan mayat perempuan muda tersebut.

Menurutnya, sejak awal pihak kepolisian melihat adanya indikasi kekerasan yang perlu didalami lebih lanjut.

“Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia dan terdapat sejumlah luka memar pada tubuhnya.

Karena itu kami langsung melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab pasti kematiannya,” ujar Welliwanto.

Temuan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan pemeriksaan medis dan autopsi guna mengungkap penyebab kematian korban secara ilmiah.

Baca juga: Suami Aniaya Istri dan Anak di Rohil, Pelaku Ditangkap Polisi Usai Dilaporkan Keluarga

Hasil Autopsi Ungkap Kekerasan Brutal

Setelah dilakukan penyelidikan lebih lanjut, Polresta Kendari merilis hasil hasil autopsi yang dilakukan tim dokter forensik Rumah Sakit Bhayangkara Kendari mengungkap fakta mengejutkan. 

Korban diketahui mengalami puluhan luka akibat kekerasan fisik yang diduga terjadi secara berulang.

Menurut AKP Welliwanto Malau, hasil visum luar menunjukkan terdapat 28 luka memar yang tersebar hampir di seluruh tubuh korban, mulai dari kepala hingga kaki,” ujar AKP Welliwanto saat ditemui pada Minggu (31/5/2026). 

Kasat Reskrim kemudian merinci puluhan luka yang diderita olah korban mulai pada bagian Kepala dan Wajah, terdapat dua luka memar di kepala bagian belakang, serta dua memar di bagian depan kanan dan kiri.

Sementara pada wajah terdapat memar di pipi kanan, luka robek pada kelopak mata kanan, serta luka lecet pada area alis dan kelopakmata kiri.

Tak hanya itu, tim medis juga menemukan luka memar pada dada dan lengan, satu luka memar di dada bagian tengah, dua luka lecet pada bahu kanan, tiga luka memar di lengan atas kanan, satu memar di lipatan dalam siku kanan, serta satu luka lecet tekan di bagian belakang siku kiri.

Bagian Bawah Tubuh, satu luka memar di panggul kiri, dua memar bagian atas dan satu memar bagian luar pada paha kanan.

Sementara pada paha kiri ditemukan jaringan sikatrik serta satu luka memar atas, betis depan memar, satu luka lecet dari betis hingga pergelangan kaki kanan, serta dua luka memar pada pergelangan kaki kiri sisi dalam.

Banyaknya luka yang ditemukan memperlihatkan bahwa korban diduga mengalami kekerasan fisik dalam intensitas yang cukup berat.

Selain pemeriksaan luar, tim Dokter Forensik RS Bhayangkara Kendari juga melakukan otopsi mendalam untuk mengetahui penyebab utama kematian.

Dokter menemukan adanya resapan darah dan memar pada kepala, pembengkakan hebat pada otak, serta pelebaran pembuluh darah pada selaput otak korban.

"Jadi penyebab utama kematian korban AS adalah akibat trauma tumpul pada kepala bagian belakang," terang Welliwanto.

"Cedera fatal ini menyebabkan pembengkakan pada otak, kondisi tersebut menekan pusat pernapasan sehingga korban akhirnya meninggal dunia,” jelas Welliwanto.

Temuan ini semakin memperkuat dugaan bahwa korban meninggal akibat tindak kekerasan yang dilakukan sebelum kematiannya.

Baca juga: Tergiur Upah Rp1 Juta, IRT Karanganyar Nekat Selundupkan Sabu ke Lapas Sragen Saat Besuk Suami

Diduga Lama Mengalami Kekerasan dalam Rumah Tangga

Dari hasil penyelidikan dan informasi yang dihimpun penyidik, korban diduga telah lama mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

AS kerap menerima kekerasan fisik dan psikis yang brutal dari sang suami. 

Motif di balik aksi keji IS disinyalir akibat mengarah pada rasa cemburu berlebihan yang dimiliki pelaku terhadap istrinya. 

Korban disebut kerap dituduh berselingkuh tanpa adanya bukti yang jelas.

Tuduhan tidak berdasar tersebut selalu berujung pada penyiksaan fisik.

Tragisnya, IS juga kerap mempermalukan korban secara sengaja.

Setelah menuduh selingkuh, pelaku memaksa korban keluar rumah dengan pakaian seksi dan nyaris tanpa busana.

Hal ini dilakukan pelaku dengan maksud menghukum sekaligus mempermalukan istrinya di hadapan pria lain yang dicurigai, mulai dari juru parkir hingga penjual udang yang ditemui korban saat berbelanja di pasar.

Penderitaan korban berlanjut saat tiba di rumah.

Pelaku kembali menendang dan membanting korban hingga babak belur, bahkan sempat menggunting rambut panjang korban.

Fakta mencengangkan lain mengungkap bahwa dorongan seksual pelaku justru memuncak saat melihat istrinya merintih kesakitan akibat dipukuli.

Usai melakukan penganiayaan tanpa ampun, pelaku langsung menyetubuhi korban yang sudah dalam kondisi tidak berdaya.

Kondisi tersebut diduga berlangsung dalam kurun waktu cukup lama hingga akhirnya berujung pada tragedi yang merenggut nyawa korban.

Baca juga: Wagub Fadhlullah Tanggung Biaya Pemulangan Jenazah Warga Aceh dari Malaysia

Puncak Kekerasan Terjadi pada Hari Kematian Korban

Berdasarkan hasil penyelidikan awal, polisi menduga aksi kekerasan terakhir yang menyebabkan korban meninggal terjadi pada Sabtu (30/5/2026).

Korban diperkirakan telah meninggal dunia sejak waktu subuh.

Namun, kematian tersebut baru dilaporkan kepada keluarga setelah memasuki malam hari.

Perbedaan waktu antara dugaan kematian dan pelaporan kepada keluarga kini menjadi salah satu fokus penyelidikan penyidik.

Setelah menerima informasi mengenai peristiwa tersebut, tim gabungan kepolisian langsung bergerak menuju lokasi kejadian untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) sekaligus mengamankan terduga pelaku.

“Begitu menerima informasi, tim langsung bergerak ke lokasi.

Dari hasil pemeriksaan awal kami kemudian mengamankan IS yang merupakan suami korban untuk dimintai keterangan lebih lanjut,” kata Welliwanto.

Saat ini IS telah diamankan di Mapolresta Kendari untuk menjalani pemeriksaan intensif.

Penyidik masih terus mendalami kronologi lengkap kejadian, motif, serta kemungkinan adanya tindak pidana lain yang berkaitan dengan kematian korban.

Sejumlah barang bukti juga telah diamankan guna mendukung proses penyidikan.

Polisi berupaya mengumpulkan seluruh fakta dan keterangan saksi untuk memperjelas rangkaian peristiwa yang terjadi sebelum korban ditemukan meninggal dunia.

Baca juga: Motif Suami Bunuh Istri di Ciputat Tangsel Dipicu Masalah Cemburu

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.