Harga BBM Non-Subsidi Berubah, Pembelian di SPBU Pangkalbalam Tetap Normal
Asmadi Pandapotan Siregar June 01, 2026 03:03 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi yang mulai berlaku pada 1 Juni 2026 tidak memengaruhi aktivitas pembelian konsumen di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kota Pangkalpinang.

Pantauan di SPBU 23.331.11 Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Pasir Garam, Kecamatan Pangkalbalam, Kota Pangkalpinang, Harga Pertamax Turbo mengalami kenaikan sebesar Rp850 per liter, dari sebelumnya Rp20.350 menjadi Rp21.200 per liter. Sementara itu, harga Dexlite turun menjadi Rp23.500 per liter dan Pertamina Dex menjadi Rp25.350 per liter.

Pengawas SPBU 23.331.11 Pangkalbalam, Ades mengatakan, perubahan harga BBM non-subsidi sejauh ini tidak memengaruhi pola pembelian konsumen.

“Kalau untuk Pertamax Turbo memang naik dari Rp20.350 menjadi Rp21.200 per liter. Tapi pemakainya tidak terlalu banyak, jadi dampaknya juga tidak terlalu terlihat,” kata Ades kepada Bangkapos.com, Senin (1/6/2026).

Menurutnya, pengguna Pertamax Turbo umumnya berasal dari kalangan tertentu yang membutuhkan bahan bakar beroktan tinggi, seperti pemilik motor besar maupun kendaraan dengan spesifikasi mesin tertentu.

“Biasanya dipakai motor-motor kapasitas mesin besar 250cc keatas atau kendaraan yang memang membutuhkan bahan bakar dengan spesifikasi khusus,” ujarnya.

Ades mengungkapkan penjualan Pertamax Turbo di SPBU Pangkalbalam tergolong rendah. Dalam sehari, volume penjualan bahkan tidak mencapai 100 liter.

“Kalau Pertamax Turbo itu di bawah 100 liter per hari. Kendaraan yang mengisi juga paling tidak sampai 10 unit sehari,” katanya.

HARGA BBM NONSUBSIDI -- Penyesuaian mulai 1 Juni 2026 SPBU di Pangkalbalam, Pertamax Turbo naik menjadi Rp21.200 per liter, sementara Dexlite turun menjadi Rp23.500 per liter dan Pertamina Dex menjadi Rp25.350 per liter.
HARGA BBM NONSUBSIDI -- Penyesuaian mulai 1 Juni 2026 SPBU di Pangkalbalam, Pertamax Turbo naik menjadi Rp21.200 per liter, sementara Dexlite turun menjadi Rp23.500 per liter dan Pertamina Dex menjadi Rp25.350 per liter. (Bangkapos.com/Erlangga/Erlangga)

Ia menambahkan, peningkatan pembelian biasanya hanya terjadi saat terdapat kegiatan otomotif atau balap motor di Bangka Belitung.

“Kalau ada event balap baru ramai karena kebanyakan beli di sini. Selain itu biasa saja,” ujarnya.

Meski harga Pertamax Turbo naik, Ades menyebut tidak ada keluhan berarti dari konsumen.

“Karena pemakaiannya tidak terlalu signifikan, jadi tidak ada reaksi khusus. Konsumen datang dan isi seperti biasa,” katanya.

Sementara itu, dua jenis BBM diesel non-subsidi, yakni Dexlite dan Pertamina Dex mengalami penurunan harga, yakni Dexlite menjadi Rp23.500 per liter dan Pertamina Dex menjadi Rp25.350 per liter. Namun kondisi tersebut juga belum berdampak pada peningkatan jumlah pembeli.

“Kalau untuk Dexlite Rp23.500 per liter dari sebelumnya Rp26.600 dan Pertamina Dex Rp25.350 per liter dari yang sebelumnya Rp28.500 per liter. Kebutuhan konsumen memang sudah rutin. Jadi walaupun harga turun, pola pembeliannya kurang lebih masih sama,” ujar Ades.

Menurut dia, pengguna Dexlite dan Pertamina Dex didominasi kendaraan diesel pribadi dan kendaraan operasional yang menggunakan BBM berkualitas tinggi.

“Mobil diesel itu biasanya isi sesuai kebutuhan. Ada yang seminggu sekali, ada juga yang sebulan sekali tergantung pemakaian kendaraan,” katanya.

HARGA BBM NONSUBSIDI -- Penyesuaian mulai 1 Juni 2026 SPBU di Pangkalbalam, Pertamax Turbo naik menjadi Rp21.200 per liter, sementara Dexlite turun menjadi Rp23.500 per liter dan Pertamina Dex menjadi Rp25.350 per liter.
HARGA BBM NONSUBSIDI -- Penyesuaian mulai 1 Juni 2026 SPBU di Pangkalbalam, Pertamax Turbo naik menjadi Rp21.200 per liter, sementara Dexlite turun menjadi Rp23.500 per liter dan Pertamina Dex menjadi Rp25.350 per liter. (Bangkapos.com/Erlangga/Erlangga)

Untuk penjualan harian, Dexlite dan Pertamina Dex rata-rata terjual sekitar 500 liter per hari.

“Rata-rata sekitar 500 liter per hari. Kadang naik sampai 700 liter, kadang turun ke 400 liter,” ujarnya.

Ades menilai perubahan harga BBM non-subsidi tidak terlalu berpengaruh terhadap volume penjualan karena konsumen membeli berdasarkan kebutuhan kendaraan mereka.

“Waktu harga sempat tinggi juga penjualannya tetap jalan. Karena yang menggunakan memang sesuai kebutuhan,” katanya.

Ia menambahkan, dibandingkan BBM non-subsidi, perubahan harga pada BBM subsidi biasanya lebih banyak mendapat perhatian masyarakat karena jumlah penggunanya jauh lebih besar.

“Kalau yang paling terasa biasanya BBM subsidi karena penggunanya jauh lebih banyak. Untuk non-subsidi, naik atau turun biasanya tidak terlalu berpengaruh terhadap jumlah pembeli,” ujarnya. (Bangkapos.com/Erlangga)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.