Karena itu penguatan kualitas keluarga, percepatan penurunan stunting, pengendalian angka kematian ibu dan bayi, serta pembangunan kependudukan harus menjadi agenda bersama lintas sektor.
Surabaya (ANTARA) - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan penurunan stunting menjadi fondasi utama dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) unggul menuju Indonesia Emas 2045.
“Karena itu penguatan kualitas keluarga, percepatan penurunan stunting, pengendalian angka kematian ibu dan bayi, serta pembangunan kependudukan harus menjadi agenda bersama lintas sektor,” katanya, dalam keterangan diterima di Surabaya, Senin.
Khofifah mengatakan Indonesia sedang menghadapi bonus demografi yang harus disiapkan secara serius melalui pembangunan manusia berkualitas sejak dari keluarga.
Menurutnya, pembangunan kependudukan tidak hanya berbicara mengenai jumlah penduduk, tetapi juga kualitas SDM,, mobilitas penduduk, kualitas pengasuhan keluarga, kesehatan ibu dan anak, serta ketahanan keluarga sebagai fondasi pembangunan bangsa.
Khofifah menjelaskan arah pembangunan tersebut sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang menempatkan pembangunan manusia sebagai prioritas utama menuju Indonesia Emas 2045.
"Ada Asta Cita dan Nawa Bhakti Satya yang harus nyekrup karena ada kualitas, kuantitas dan mobilitas penduduk . Terkait kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) kita perlu sinergi agar bisa dibangun lebih detail dan impresif sehingga kualitas, kuantitas dan mobilitas bisa berjalan dengan baik," ujarnya.
Khofifah menekankan pentingnya penguatan Indeks Modal Manusia (IMM) sebagai indikator utama keberhasilan pembangunan SDM dan proyeksi kualitas generasi masa depan.
"Peningkatan IMM, ditentukan penurunan angka kematian ibu, bayi, serta prevalensi stunting sebagai cerminan kualitas layanan kesehatan, pengasuhan, dan efektivitas pembangunan manusia," ungkapnya.
Berdasarkan data Maternal Perinatal Death Notification (MPDN), Angka Kematian Ibu (AKI) di Jawa Timur menunjukkan tren penurunan signifikan. Pada 2024, AKI tercatat 82,56 per 100 ribu kelahiran hidup dan turun menjadi 68,7 per 100 ribu kelahiran hidup pada 2025.
Capaian tersebut telah melampaui target Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang berada di bawah 70 per 100 ribu kelahiran hidup.
Meski demikian, Khofifah meminta perhatian terhadap angka kematian ibu dan bayi terus diperkuat, termasuk melalui edukasi usia perkawinan dan kesehatan reproduksi secara lebih komprehensif.
Selain itu, berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting di Jawa Timur turun dari 17,7 persen pada 2023 menjadi 14,7 persen pada 2024.
Capaian tersebut menempatkan Jawa Timur sebagai provinsi terbaik di Pulau Jawa dan peringkat kedua nasional dalam penurunan prevalensi stunting.
"Kita tetap membangun sinergi dengan semua elemen terutama posyandu yang akan menjadi media untuk memastikan intervensi di seluruh kabupaten kota berjalan efektif," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Timur yang baru dikukuhkan, Shodiqin, menyatakan komitmennya memperkuat kolaborasi dengan seluruh pemerintah daerah di Jawa Timur dalam menjalankan program pembangunan keluarga dan kependudukan.
"Kami bersama tim BKKBN Jatim akan melakukan roadshow di dinas-dinas tingkat provinsi, kabupaten dan kota," tegasnya.
Di sisi lain, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Biro Sumber Daya Manusia Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Republik Indonesia, Mayang Mariana, mengatakan kepemimpinan baru di BKKBN Jawa Timur diharapkan mampu memperkuat implementasi kebijakan nasional di daerah.
Menurutnya, Jawa Timur memiliki posisi strategis sebagai salah satu daerah penyangga utama pembangunan SDM nasional.
“Jawa Timur memiliki posisi strategis dalam pembangunan keluarga dan kependudukan. Kepemimpinan baru di BKKBN Jawa Timur diharapkan mampu menjadi motor penggerak implementasi kebijakan nasional dalam mewujudkan keluarga berkualitas dan berdaya saing,” katanya.





