UPDATE Jet Tempur AS Kembali Gempur Iran, IRGC Balas Bombardir Pangkalan Udara AS di Teluk
Juang Naibaho June 01, 2026 03:27 PM

TRIBUN-MEDAN.com - Negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran tak kunjung mencapai kesepakatan.

Upaya itu makin menemui jalan buntu setelah kedua pihak terlibat aksi serang sepanjang akhir pekan.

Jet tempur AS meluncurkan gelombang serangan udara baru yang menggempur sejumlah wilayah Iran. 

Sebaliknya, Iran langsung membalas dengan membombardir pangkalan udara AS di wilayah Teluk.

Eskalasi militer ini terjadi di tengah mandeknya negosiasi gencatan senjata yang tengah diupayakan oleh kedua belah pihak. 

Akibat konflik yang terus berlanjut, jalur pelayaran vital di Selat Hormuz hingga saat ini dilaporkan masih terblokir total. 

Blokade de facto ini mulai memberikan tekanan besar terhadap lonjakan harga bahan bakar global, mengingat sekitar seperlima dari total pengiriman minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia biasanya bergantung pada jalur perairan Teluk tersebut. 

Baca juga: Megawati Tolak Ajakan Prabowo Jalan Bersama Menuju Mimbar, Usai Upacara Bergandengan Tangan

Komando Pusat AS (Centcom) mengonfirmasi bahwa jet tempur mereka telah mengeksekusi serangkaian serangan udara defensif, dilansir dari BBC, Senin (1/6/2026). 

Operasi ini menargetkan infrastruktur militer strategis Iran yang berada di wilayah daratan utama maupun pulau-pulau di sekitarnya. 

"Komando Pusat AS melakukan serangan bela diri terhadap radar Iran dan situs komando serta kendali untuk pesawat tanpa awak (drone) di Goruk, Iran, dan Pulau Qeshm akhir pekan ini," demikian pernyataan resmi Centcom melalui unggahan di media sosial X. 

Centcom merinci bahwa serangan tersebut berhasil menghantam sistem pertahanan udara militer Iran, sebuah stasiun kendali darat, serta dua unit drone.

Pihak militer AS mengeklaim alutsista tersebut "menimbulkan ancaman nyata bagi kapal-kapal yang transit di perairan regional". 

Dalam pernyataan resminya, Pentagon juga memastikan tidak ada personel atau tentara AS yang terluka maupun menjadi korban dalam operasi militer tersebut.

Washington menegaskan aksi ini merupakan respons atas tindakan agresif Iran sebelumnya, termasuk penembakan jatuh drone MQ-1 milik AS yang diklaim tengah beroperasi di wilayah udara internasional. 

Balasan IRGC dan Keterlibatan Kuwait 

Di pihak lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) langsung melancarkan aksi balasan. 

IRGC menyatakan telah membombardir sebuah pangkalan udara yang digunakan oleh pasukan AS. 

Serangan itu disebut sebagai aksi balasan atas hancurnya menara komunikasi mereka di Pulau Sirri, sebuah pulau strategis yang terletak di Teluk, berjarak sekitar 65 kilometer dari garis pantai selatan Iran. 

Namun, IRGC tidak menyebutkan secara spesifik lokasi pangkalan udara AS yang diserang.

Pihak IRGC menegaskan bahwa mereka tidak akan tinggal diam jika wilayahnya terus diusik.

"Respons (Iran) akan sepenuhnya berbeda jika agresi AS kembali terulang," tegas perwakilan IRGC, dikutip dari Fars. 

Ketegangan ini kian meluas setelah militer Kuwait melaporkan bahwa sistem pertahanan udara mereka mendeteksi dan menginterseptil serangan udara di wilayahnya. 

"Menghadapi serangan rudal dan drone yang bermusuhan," ungkap pihak militer Kuwait tanpa merinci lebih lanjut lokasi persis intersepsi tersebut terjadi.

Keterlibatan Kuwait bukan tanpa alasan. Pada pekan sebelumnya, Teheran sempat menargetkan pangkalan udara di Kuwait. 

Langkah itu diambil Iran sebagai balasan atas serangan udara AS terdahulu, yang diklaim Washington sengaja diluncurkan guna mencegah kapal-kapal dan rudal Iran memasang ranjau laut di sekitar jalur pelayaran Selat Hormuz. 

Negosiasi Damai Masih Buntu 

Kembali pecahnya kontak senjata ini memperkecil harapan tercapainya perdamaian dalam waktu dekat, meskipun kesepakatan gencatan senjata sejatinya telah berlaku sejak 8 April lalu. 

Presiden AS Donald Trump berulang kali mengeklaim bahwa Washington dan Teheran sudah sangat dekat dengan kesepakatan permanen dan proses negosiasi berjalan maju. 

Kendati demikian, hingga saat ini belum ada dokumen perjanjian formal yang ditandatangani. 

Berdasarkan laporan CBS News, draf proposal damai terbaru yang sedang digodok sebenarnya memuat tiga poin krusial: 

1. Penghentian kekerasan selama 60 hari. 

2. Pembukaan kembali jalur pelayaran Selat Hormuz. 

3. Kerangka kerja baru untuk membuka kembali negosiasi terkait program nuklir Iran. 

Namun, laporan media AS menyebutkan bahwa pada hari Minggu kemarin, Trump meminta sejumlah perubahan mendasar pada draf kesepakatan tersebut. 

Menurut sumber internal, revisi yang diminta Trump berkaitan erat dengan aturan di Selat Hormuz dan tuntutan pemusnahan uranium yang diperkaya tingkat tinggi (highly enriched uranium) milik Iran. 

Di sisi lain, pihak Teheran langsung bereaksi dingin dan mengabaikan tuntutan perubahan dari Trump tersebut dengan menyebutnya sebagai bentuk "spekulasi" semata. (*/tribunmedan.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.