Olivier Giroud meraih trofi paling bergengsi di dunia sepak bola pada Piala Dunia 2018, namun pencapaian tersebut mungkin tidak akan terjadi tanpa titik terendah yang ia alami dua tahun sebelumnya.
Tidak ada penghargaan yang lebih besar bagi seorang pesepak bola selain Piala Dunia. Tanyakan pada siapa pun yang pernah mengangkat trofi ikonik itu, dan mereka akan mengatakan bahwa kemenangan tersebut adalah puncak dari kerja keras dan pengorbanan seumur hidup.
Namun, euforia kemenangan itu terkadang juga membangkitkan kenangan pahit. Hal itu dirasakan oleh Olivier Giroud, yang tampil gemilang bersama tim nasional Prancis di Piala Dunia 2018, ketika Les Bleus menaklukkan Kroasia di partai final untuk menjadi juara dunia.
Meski pemain berusia 39 tahun itu mengakui bahwa momen tersebut merupakan puncak kariernya, ia juga menyadari bahwa keberhasilan itu mungkin tidak akan terwujud tanpa kekalahan telak yang dialaminya dua tahun sebelumnya.
Giroud merupakan bagian dari skuad Prancis yang mencapai final Euro 2016 di kandang sendiri, namun harus menelan kekalahan menyakitkan dari tim kuda hitam Portugal melalui perpanjangan waktu.
Pada pertandingan yang berlangsung berat sebelah itu, Prancis mencatat 18 tembakan berbanding sembilan milik Portugal, mendominasi penguasaan bola dan memberikan tekanan konstan kepada tim tamu.
Fakta bahwa bintang Portugal, Cristiano Ronaldo, harus ditarik keluar karena cedera pada menit ke-25 semakin memperkuat keyakinan banyak pihak bahwa Prancis akan keluar sebagai pemenang.
Namun, gol kemenangan dari Eder di babak perpanjangan waktu membuat dunia sepak bola terkejut. Bagi Giroud, yang saat itu tampil di final besar pertamanya bersama tim nasional, hasil tersebut terasa sangat menghancurkan.
“Sebagai sebuah tim, kekalahan itu sangat menyakitkan,” ujar Giroud kepada FourFourTwo dalam sebuah wawancara eksklusif. “Mungkin orang akan menganggap aneh jika saya memasukkan pertandingan ini ke dalam daftar laga paling berpengaruh dalam karier saya, tapi pertandingan itu mengubah cara pandang saya terhadap banyak hal. Kekalahan itu membuat saya semakin lapar untuk meraih kesuksesan.”
“Pertandingannya sendiri sangat gila,” lanjut penyerang yang kini masih bermain profesional bersama Lille di Prancis. “Jika kami memainkan laga itu 10 kali, kami akan menang sembilan kali. Tapi begitulah sepak bola, di situlah letak keindahannya.”
“Saya menangis di akhir pertandingan itu karena itu adalah final besar pertama saya bersama tim nasional, dan itu sangat menyakitkan. Namun saya juga tahu itu mungkin menjadi kesempatan terakhir bagi beberapa teman dan rekan setim saya untuk memenangkan turnamen besar. Pemain seperti Andre-Pierre Gignac. Saya bisa melihat betapa emosionalnya mereka,” tambahnya.
Giroud kemudian menjadi sosok penting ketika Prancis menjuarai Piala Dunia di Rusia dua tahun kemudian, dan ia percaya bahwa keberhasilan itu tidak akan tercapai tanpa pelajaran berharga dari kekalahan di Euro 2016.
“Dari pengalaman saya, karier dan kesuksesan seseorang dibangun dari momen-momen sulit yang terjadi sebelumnya,” ujarnya. “Saya telah melalui banyak masa berat dan selalu berusaha menjadikannya sebagai batu loncatan untuk bangkit kembali.”