Akurasi Tinggi, LFNU Trenggalek Padukan Ad Durul Aniq-Teknologi Digital untuk Kalibrasi Arah Kiblat
Sudarma Adi June 01, 2026 07:14 PM

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Madchan Jazuli

TRIBUNJATIM.COM, TRENGGALEK – Dalam menentukan arah kiblat bisa dengan berbagai metode.

Bagi pria satu ini memilih menggunakan kalibrasi arah kiblat menggunakan aplikasi, sebuah alat ukur serta memanfaatkan bayangan matahari.

Metode yang digunakan kini memadukan antara ilmu falak klasik dan teknologi astronomi kontemporer modern.

Ketua Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama Trenggalek, Ahmad Aly Musyafa' menerangkan bahwa perhitungan kalibrasi arah kiblat saat ini dapat memanfaatkan teknologi mutakhir.

Baca juga: Warga Keluhkan PJU Mati di Jalur Durenan-Bandung, Disperkimhub Trenggalek Tunggu Provinsi

Mengapa Bukan Kompas Biasa?

Caranya adalah dengan menghitung titik koordinat lintang dan bujur lokasi saat ini. Lalu diperbandingkan dengan posisi Ka'bah yang sudah diketahui koordinatnya.

"Posisi Ka'bah itu berada di lintang utara, sedangkan kita berada di lintang selatan. Melalui perhitungan astronomis, semuanya bisa diukur secara presisi," ujar Musyafa' ditemui di kediamannya, Senin (1/6/2026).

Ia menambahkan, jika menggunakan cara manual tanpa alat bantu, perhitungan astronomis tersebut akan memakan waktu yang sangat lama karena rumusnya yang panjang. 

Akan tetapi, melalui aplikasi digital, proses pencarian posisi bayangan matahari tersebut kini bisa dipangkas secara drastis. 

Aplikasi yang ia gunakan adalah Qiblat.apk. Selanjutnya alat yang belum memiliki nama baku seperti lingkaran 360 derajat. Dengan logam panjang di tengah sebagai penanda bayangan matahari.

"Dengan adanya aplikasi, perhitungan yang panjang itu hanya dihitung dalam jangka sepersekian detik. Kasih (input data) sehingga hanya sekian detik kita sudah bisa menghitung bayangan matahari menunjukkan angka berapa saat itu juga," jelasnya.

Pria yang pernah mengenyam pendidikan selama empat tahun di Pondok Pesantren Lirboyo ini mengaku usai mengetahui angka bayangan matahari pada jam tertentu diketahui, maka dapat langsung menentukan empat arah mata angin secara pasti.

Yaitu bisa ditentukan utara, timur, selatan, dan barat. Arah utara yang dihasilkan dari metode kalibrasi ini adalah utara sejati, bukan utara magnetik. Seperti yang biasa ditunjukkan oleh kompas biasa.

"Kalau utara magnetik dengan utara sejati itu kan ada selisih deviasi. Untuk Pulau Jawa, selisihnya sekitar 1 derajat," akuinya.

Melalui perhitungan kalibrasi model ini, Musyafa' mengatakan tidak memperhitungkan deviasi pergeseran utara magnet, sehingga hasilnya jauh lebih akurat. 

Setelah titik-titik mata angin utama itu dikunci, barulah pengukuran arah kiblat yang presisi dilakukan.

Sejauh ini, LFNU Trenggalek telah melakukan kalibrasi arah kiblat di sekitar lima tempat ibadah. Musyafa' menegaskan pihaknya memang lebih memfokuskan sasaran pada masjid atau musala yang baru akan dibangun.

"Adapun musala atau masjid yang sudah jadi (bangunannya), itu tidak akan kami kalibrasi ataupun tidak akan kami cek. Kami hanya sekadar membetulkan safnya saja, tidak sampai mengubah bentuk bangunan fisik yang sudah ada," terangnya.

Beberapa lokasi yang sudah disentuh oleh layanan kalibrasi ini di antaranya adalah musala baru di SMK 1 Durenan yang diinisiasi oleh Haji Mukhalis.

Selain itu, pengukuran juga dilakukan pada beberapa musala dan penandaan makam di Desa Sumberejo Kecamatan Durenan.

Terkait waktu pelaksanaan, Musyafa' menyebutkan proses kalibrasi tidak harus bergantung pada hari tertentu, melainkan bisa dilakukan setiap hari. Namun, faktor waktu dan cuaca memegang peranan penting demi menjaga akurasi bayangan.

"Setiap hari pun bisa. Waktu yang bagus itu pagi sekitar jam 09.00 saat bayangan sedang panjang. Kalau sore, ya sekitar jam 15.00 atau jam 16.00," paparnya. 

Pria yang juga pernah mondok selama empat tahun di Pondok Pesantren Mojosari Nganjuk ini mewanti-wanti agar menghindari waktu siang hari saat matahari tepat di atas kepala.

"Kalau bayangan terlalu pendek, maka kita akan kesulitan membuat akurasinya karena angka bayangan tidak bisa terbaca dengan akurat," sambungnya.

Ditanya mengenai latar belakang keilmuannya, Musyafa' mengisahkan ilmu falak telah ia pelajari sejak berada di lingkungan pesantren melalui kajian kitab kuning klasik.

Baca juga: Kekurangan SDM, RPH Ngadirenggo Trenggalek Hanya Potong 1-2 Ekor Sapi per Hari

Seiring berjalannya waktu, Kementerian Agama (Kemenag) serta Lembaga Falakiyah NU, mulai dari tingkat cabang hingga Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) rutin menggelar pelatihan yang memadukan metode falak klasik dengan metode kontemporer.

Pelatihan ini menguji berbagai sistem dari satu kitab ke kitab lainnya yang memiliki metode berbeda.

Saat ini, LFNU Jawa Timur menggunakan satu kitab khusus yang menjadi acuan utama karena tingkat akurasinya yang sangat tinggi.

"Untuk nama kitab yang saat ini menjadi acuan Lembaga Falakiyah PWNU Jawa Timur itu namanya adalah Kitab Ad-Durul Aniq," ungkapnya.

Perihal keunggulan kitab ini, Musyafa' menerangkan telah teruji secara sahih pada peristiwa alam besar satu dekade lalu.

Yaitu pernah diuji cobakan pada tahun 2016 saat terjadi gerhana matahari total. Di antara sekian banyak kitab yang ada, ternyata Kitab Ad-Durul Aniq memiliki akurasi tertinggi.

"Bahkan saat gerhana bulan tersebut mengalahkan sistem Ephemeris yang saat itu menjadi acuan utama Kementerian Agama," pungkasnya. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.