Baca Puisi di Pasar Gintung, Ruang Ekonomi jadi Ruang Kebudayaan
Sri Widya Rahma June 01, 2026 05:54 PM

Laporan Wartawan Tribun Gayo Fikar W Eda | Jakarra

TribunGayo.com, TANGERANG SELATAN - Pasar Gintung, Ciputat Timur, Sabtu (30/5/2026), menjelma ruang kebudayaan.

Baca juga: Lintas Generasi Penyair Aceh Rayakan Hari Puisi Nasional

Lapak-lapak berubah menjadi panggung, lorong pasar menjadi ruang perjumpaan, dan manusia-manusia di dalamnya menjadi bagian dari peristiwa seni yang hidup.

Lebih dari 200 orang dari berbagai kalangan anak-anak, remaja, hingga seniman dan tokoh masyarakat turut ambil bagian dalam Aktivasi Ruang Kreatif Distrik Gintung.

Mereka tampil bergantian membacakan puisi, memainkan musik, bermonolog, mendongeng, hingga melukis dan menggambar.

Pasar yang biasanya riuh oleh transaksi, hari itu dipenuhi ekspresi dan imajinasi.

Kegiatan ini diinisiasi oleh sastrawan Mustafa Ismail bersama penulis dan pegiat seni Rintis Mulya, serta digerakkan oleh Ruang Merdeka Inspira (RMI) dan Lingkar Sajak.

Dukungan datang dari berbagai komunitas seni, literasi, hingga organisasi masyarakat di Tangerang Selatan dan sekitarnya.

“Distrik Gintung kami cita-citakan sebagai ruang bersama tempat orang bertemu, berekspresi, belajar, dan merawat kebudayaan,” ujar Rintis Mulya, Ketua RMI sekaligus Ketua Panitia kegiatan.

Ia menegaskan bahwa ruang kreatif seperti ini tidak bisa berjalan sendiri.

Baca juga: Taufiq Ismail Baca Puisi di SMA Fajar Harapan Banda Aceh, Pertemuan Batin Antara Kata dan Sejarah

Kolaborasi lintas komunitas dan dukungan pemerintah menjadi kunci agar Distrik Gintung dapat tumbuh sebagai simpul kebudayaan baru di Tangerang Selatan.

Senada dengan itu, Mustafa Ismail menyampaikan bahwa pihaknya tengah menyiapkan agenda rutin untuk menghidupkan Pasar Gintung sebagai ruang seni yang berkelanjutan.

Salah satu agenda terdekat adalah Temu Komunitas se-Tangerang Selatan.

Acara yang dimulai sejak pukul 14.00 WIB ini juga menghadirkan diskusi sastra bertajuk “Estetika Puisi Generasi Terkini” dengan pembicara Ahmadun Yosi Herfanda.

Ia menyoroti perkembangan puisi di era digital, termasuk munculnya konsep “puitika hibrida” yang memadukan teks dengan unsur visual, suara, hingga teknologi.

“Puisi akan terus hidup sebagai ruh kebudayaan, bahkan ketika teknologi mencoba menirunya,” ungkap Ahmadun.

Tak hanya pentas seni, kegiatan ini juga menghadirkan ruang bermain dan belajar bagi anak-anak, area baca terbuka, meja kreasi bagi penulis dan kreator digital, serta bazar UMKM.

Pesan kepedulian lingkungan turut dihadirkan melalui penggunaan gelas guna ulang oleh komunitas Guna Ulang Aja (GUA).

Sekretaris Jenderal ICMI Tangerang Selatan, H Arief Jamaluddin MSi, yang turut hadir, mengapresiasi kegiatan ini.

Menurutnya, kehadiran ruang kreatif di Pasar Gintung dapat menghidupkan aktivitas masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan UMKM lokal.

“Ini bukan sekadar kegiatan seni, tetapi ruang lahirnya ide dan pergerakan bersama,” ujarnya.

Aktivasi ini menjadi penanda bahwa pasar rakyat memiliki potensi besar sebagai ruang kebudayaan.

Ketika seni hadir di tengah kehidupan sehari-hari, ia tidak hanya menghibur, tetapi juga menghidupkan menghubungkan manusia dengan sesamanya, dan dengan nilai-nilai yang lebih dalam. (*) 

Baca juga: Sengkewe Sepanjang Musim: Teater Puisi di Tengah Reruntuhan, Cahaya dari Taman Kota Takengon

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.