TRIBUNJATENG.COM - Sosok P menantu dari wanita asal Boyolali yang diduga diracun jadi sorotan keluarga korban.
Sebelumnya wanita berinisial A (57), warga Dukuh Sindon, Desa Sindon, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah ditemukan meninggal dunia di rumahnya pada Selasa (19/5/2026) pagi.
Ia meninggal setelah menerima kiriman sate ayam yang belum jelas asal-usulnya.
Kecurigaan keluarga korban diracun muncul karena A disebut sempat memakan sate ayam yang dikirim melalui jasa ojek online sebelum ditemukan tidak bernyawa.
Baca juga: Sate yang Diduga Tewaskan Lansia Boyolali Dikirim Ojol, Ayam Korban Ikut Mati Setelah Makan Sisanya
Baca juga: Bukti Baru Janggalnya Kematian Wanita Lansia Boyolali usai Makan Sate, Tewas Diracun?
Sejumlah kejanggalan kemudian menguatkan dugaan keluarga, setelah melihat kondisi tubuh korban saat ditemukan, hingga lima ayam yang mati setelah memakan sisa bumbu sate.
Keluarga menduga sate ayam yang diterima korban dikirim oleh seseorang berinisial P melalui jasa ojek online.
Widodo (61) kakak korban mengatakan, hubungan korban dengan P selama ini tidak harmonis.
Menurut dia, P kerap meminta uang kepada korban dengan berbagai alasan.
“Terduga pelaku P sering meminta uang ke korban dengan cara berbohong. Jadi P ini tidak merasa bersalah, tidak merasa dosa, dan tidak punya malu,” ujar Widodo, Minggu (31/5/2026).
Widodo menyebut hubungan korban dan menantunya memburuk setelah sejumlah kebohongan P diketahui oleh korban.
Ia juga menilai rekam jejak P kurang baik. “Track record P ini sudah jelek. Tiap hari cari utang ke teman-temannya dan sering main judi online,” katanya.
Meski demikian, keluarga menyatakan tetap menyerahkan proses hukum kepada kepolisian dan menjunjung asas praduga tak bersalah.
Namun, atas kecurigaan tersebut, keluarga meminta polisi menyelidiki kematian korban hingga dilakukan ekshumasi atau pembongkaran makam pada Sabtu (30/5/2026).
Kuasa hukum keluarga korban, Wiwik Dwi Habsari, mengatakan, sate ayam yang diterima korban diduga dibeli di wilayah Pandean, Kecamatan Ngemplak.
Sate itu kemudian dikirim ke rumah korban di Dukuh Sindon menggunakan jasa ojek online.
Menurut Wiwik, informasi tersebut diperoleh dari keterangan pengemudi ojek online yang mengetahui kabar meninggalnya korban melalui media sosial.
“Proses pembelian sate ayam di Desa Pandean hingga makanan tersebut diantar ke rumah korban diketahui dari cerita driver ojek online yang kemudian mengetahui kabar meninggalnya A dari tayangan di Facebook,” jelas Wiwik.
Nama anak korban dipakai untuk memesan Kecurigaan keluarga bertambah setelah diketahui bahwa pemesanan layanan ojek online tersebut menggunakan nama Luriyanti, anak kedua korban.
Luriyanti tinggal di Kismoyoso, Kecamatan Ngemplak. Namun, Luriyanti disebut tidak pernah memesan atau mengirim sate ayam kepada ibunya.
“Setelah ditelusuri, ternyata anak kedua korban yang namanya digunakan dalam pemesanan itu merasa tidak pernah mengirim sate ayam kepada ibunya yang tinggal sendirian di Sindon,” ujarnya.
Sebelum memakan sate itu, korban sempat menghubungi Luriyanti untuk menanyakan asal kiriman makanan.
Luriyanti kemudian meminta ibunya agar tidak memakan sate tersebut karena pengirimnya tidak jelas.
“Awalnya tidak tahu siapa yang mengirim. Bahkan anak korban sempat meminta agar sate itu tidak dimakan karena pengirimnya tidak jelas,” terangnya.
Korban ditemukan setelah lampu rumah masih menyala Kecurigaan lain muncul pada pagi hari setelah korban menerima kiriman sate ayam.
Kakak kandung korban, Widodo (61), mengatakan, anak kedua korban datang ke rumah ibunya seperti biasa untuk menitipkan anak.
Saat tiba di rumah, anak korban melihat lampu rumah masih menyala. Kondisi itu dianggap tidak biasa karena korban biasanya sudah mematikan lampu pada pagi hari sebelum beraktivitas.
"Anaknya curiga karena lampu rumah masih menyala. Biasanya pagi hari lampu sudah dimatikan semua."
"Setelah dipanggil berkali-kali tidak ada respons," katanya. Karena tidak ada jawaban dari dalam rumah, anak korban meminta bantuan tetangga untuk memeriksa kondisi ibunya.
Warga kemudian membuka pintu rumah secara paksa. Korban ditemukan sudah meninggal dunia dalam posisi terlentang di dalam rumah.
"Awalnya saya mendapat informasi dari tetangga untuk melihat kondisi adik saya. Saat itu korban ditemukan di dalam rumah dalam posisi terlentang," ujar Widodo seperti dilansir dari TribunSolo.com, Minggu (31/5/2026).
Keluarga sebut ada tanda janggal pada korban Keluarga menyebut ada sejumlah tanda yang dianggap janggal saat korban ditemukan meninggal.
Saat ditemukan, terdapat pakaian korban yang terkena muntahan sisa makanan. Mulut korban juga disebut mengeluarkan busa.
Selain itu, keluarga melihat bagian mulut dan telinga korban tampak membiru. Kondisi itu membuat keluarga menduga kematian A tidak wajar.
Keluarga kemudian berkonsultasi dengan Polsek Ngemplak pada Kamis (21/5/2026). Kasus tersebut dilaporkan secara resmi ke Polres Boyolali pada Senin (25/5/2026).
Lima ayam mati setelah memakan sisa sate
Dugaan keluarga semakin kuat setelah sejumlah ayam dilaporkan mati setelah memakan sisa bumbu sate milik korban.
Widodo membenarkan lima ayam mati setelah memakan sisa sate tersebut. Satu ayam yang mati kemudian disimpan sebagai sampel untuk kepentingan penyelidikan.
"Ada 5 ayam mati setelah memakan sate sisa dari korban. Untuk sample satu ayam yang mati itu kami simpan," tandasnya.
Wiwik juga menyebut penyidik telah mengamankan satu ayam yang mati sebagai barang bukti.
"Selain barang bukti berupa pakaian korban yang terkena muntahan, penyidik juga telah mengamankan satu ayam yang mati setelah memakan sisa sate," ujar Wiwik seperti dilansir dari TribunSolo.com, Minggu (31/5/2026).
Temuan itu membuat keluarga menduga ada zat tertentu dalam makanan yang diterima korban. Namun, kepastian penyebab kematian masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium forensik.
Makam korban dibongkar untuk autopsi
Korban sempat dimakamkan pada Selasa (19/5/2026). Namun, keluarga meminta polisi melakukan penyelidikan lebih lanjut karena menduga ada kejanggalan dalam kematian korban.
Polisi kemudian membongkar makam korban di Desa Sindon, Kecamatan Ngemplak, Boyolali, pada Sabtu (30/5/2026). Ekshumasi dilakukan untuk kepentingan autopsi dan pemeriksaan forensik.
Tim Dokkes Polda Jawa Tengah bersama Polres Boyolali dilibatkan dalam proses tersebut. Polisi juga telah memeriksa sejumlah saksi dan mengamankan beberapa barang bukti.
Keluarga tunggu hasil forensik Wiwik menegaskan, keluarga tidak ingin mendahului proses hukum. Pihak keluarga tetap menyerahkan pembuktian kepada aparat kepolisian dan menunggu hasil laboratorium forensik.
"Kami tidak menuduh siapa pun dan tetap menjunjung asas praduga tak bersalah," ujar Wiwik.
"Kami berharap hasil laboratorium forensik segera keluar sehingga penyebab kematian korban bisa terungkap secara jelas," kata Wiwik lagi.
Hingga kini, polisi masih menyelidiki rangkaian peristiwa tersebut, termasuk asal-usul sate ayam, dugaan keterkaitan pihak tertentu, dan penyebab pasti kematian korban. (*)