Suporter PSIM Yogyakarta Gelar Aksi Mural, Desak Penyelesaian Kasus Mandala Krida
Yoseph Hary W June 01, 2026 10:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Wadah suporter PSIM Yogyakarta yang tergabung dalam Guyub Seni (GS) Mataram menggelar aksi mural di Ringroad Selatan, Panggungharjo, Sewon, Bantul, Senin (1/6/2026). 

Aksi tersebut menjadi bentuk respons sekaligus kritik terhadap lambannya penanganan kasus korupsi dan renovasi Stadion Mandala Krida yang sudah memakan waktu cukup lama.

Perwakilan GS Mataram Wage menjelaskan, gerakan ini dipicu oleh sejumlah pernyataan pejabat setempat yang muncul belakangan. 

Suarakan aspirasi lewat mural

Di satu sisi, para suporter mengapresiasi langkah instansi terkait dalam menangani perkara tersebut. Namun di sisi lain, mereka merasa terusik oleh adanya sindiran yang meminta suporter untuk tidak terlalu berisik di media sosial.

Menurutnya, kondisi itu justru mendorong suporter untuk menyuarakan aspirasi melalui medium lain yang lebih dekat dengan masyarakat.

“Kalau memang tidak boleh berisik di media sosial, kami akan berisik di media lain, yaitu lewat mural. Kami langsung turun ke jalan dan bertemu masyarakat. Kami ingin melihat bagaimana respons warga terhadap kondisi Mandala Krida saat ini,” ujar Wage.

Aksi mural massal ini mengusung satu pesan utama, yakni “Usut Tuntas Korupsi Mandala Krida”. Seluruh laskar dari Brajamusti maupun The Maident secara serentak menyuarakan tuntutan yang sama melalui karya mural di wilayah masing-masing.

Meski mengangkat tema yang seragam, setiap kelompok diberi kebebasan untuk menuangkan ide, konsep visual, dan kreativitasnya sendiri sesuai karakter masing-masing regional.

Mandala Krida milik semua kalangan

Wage menegaskan, gerakan tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi kelompok suporter PSIM. Aksi ini juga terbuka bagi suporter umum, komunitas seni, hingga elemen masyarakat yang peduli terhadap nasib Stadion Mandala Krida.

“Stadion Mandala Krida itu milik semua kalangan. Semua cabang olahraga dan masyarakat bisa memanfaatkannya, bukan hanya suporter. Karena itu gerakan ini bersifat universal dan siapa saja boleh ikut terlibat,” katanya.

Terkait pemilihan lokasi mural, setiap laskar dan komunitas menggarap dinding di lingkungan masing-masing. Selain mempermudah proses perizinan, langkah tersebut dinilai mampu mendekatkan pesan yang disampaikan kepada masyarakat sekitar.

“Istilahnya, dalam bahasa Jawa, nembung tonggone dewe. Meminta izin ke tetangga sendiri tentu lebih mudah secara legalitas. Pesan yang dibawa juga bisa lebih mengena dan langsung diterima masyarakat sekitar,” jelasnya.

Melalui aksi mural ini, para suporter berharap seluruh persoalan yang membelit Stadion Mandala Krida, baik dari sisi hukum, administrasi, maupun perbaikan fasilitas, dapat segera diselesaikan. 

Mereka menilai stadion tersebut memiliki peran penting sebagai sarana olahraga masyarakat sekaligus kandang yang diharapkan bisa kembali digunakan PSIM Yogyakarta pada musim kompetisi mendatang.

“Harapan kami jelas, masalah Mandala Krida bisa segera selesai dan fasilitasnya kembali menjadi sarana olahraga bagi masyarakat luas. Terutama agar PSIM dapat menggunakan stadion ini dengan tenang untuk menghadapi musim depan,” pungkas Wage.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.