“Semoga Mereka Pulang Lebih Cepat”: Mimpi Buruk DFB, Cucurella Sebut Jerman Sebagai Kuda Hitam di Piala Dunia
Rina Kusumawati June 01, 2026 10:58 PM

Pemain tim nasional Spanyol, Marc Cucurella, yang sempat menjadi momok bagi tim DFB di Kejuaraan Eropa 2024 yang digelar di Jerman, menilai bahwa Ekuador adalah kuda hitam yang patut diperhitungkan di Piala Dunia 2026.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan kejutan di turnamen tersebut, Cucurella menjawab dalam konferensi pers: “Tentu saja, selalu ada tim-tim favorit yang biasa. Tapi saya pikir Belanda punya skuad yang sangat kuat. Dan kemudian ada Ekuador, yang mungkin belum banyak diperhatikan.”

Ekuador, lawan ketiga Jerman di fase grup Piala Dunia yang akan dimulai pada 11 Juni, “bisa memainkan peran penting,” tegas Cucurella. Bek kiri tersebut—yang handball-nya di kotak penalti pada babak perpanjangan waktu perempat final Euro 2024 melawan Jerman tidak dihukum—menambahkan: “Mereka punya banyak pemain bagus. Banyak yang meremehkan mereka, tapi saya yakin mereka akan tampil baik. Meski begitu, saya harap mereka pulang lebih cepat,” ujar Cucurella sambil menatap kemungkinan pertemuan di babak gugur.

Tim yang saat ini dilatih oleh pelatih asal Argentina, Sebastián Beccacece, memulai kualifikasi Amerika Selatan untuk Piala Dunia 2026 dengan penalti pengurangan tiga poin karena kesalahan administratif dalam sertifikat kelahiran seorang pemain pada kampanye kualifikasi 2022. Meski demikian, Ekuador tetap melaju dengan meyakinkan ke putaran final 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, finis di posisi kedua di bawah juara dunia Argentina.

Mereka menutup kualifikasi di atas Brasil, Kolombia, dan Uruguay, dan pada September lalu sempat mengejutkan Argentina dengan kemenangan 1-0. Ketangguhan pertahanan mereka sangat mencolok: hanya kebobolan lima gol dalam 18 pertandingan—terendah di kawasan—serta mencatat 13 kali nirbobol.

Ekuador: Pertahanan Kuat, Namun Apakah Beban Serangan Terlalu Berat di Satu Pemain Veteran?

Skuad Ekuador memiliki sejumlah pemain bertahan yang menonjol. Juara Liga Champions, Willian Pacho dari Paris Saint-Germain, mantan pemain Bayer Leverkusen, Piero Hincapie yang kini membela finalis Liga Champions Arsenal, serta Joel Ordonez dari Club Brugge—yang tengah diminati banyak klub besar Eropa—menjadi andalan di lini belakang. Di lini tengah bertahan, ada Moisés Caicedo—rekan satu tim Cucurella di Chelsea—yang dikenal sebagai salah satu gelandang bertahan terbaik di Liga Premier Inggris.

Namun di lini depan, statistik mereka kurang mengesankan: hanya mencetak 14 gol sepanjang kualifikasi Piala Dunia, rata-rata kurang dari satu gol per pertandingan. Angka tersebut menunjukkan ketergantungan besar pada striker berusia 36 tahun, Enner Valencia, yang bermain untuk klub Meksiko, CF Pachuca. Mantan penyerang West Ham dan Fenerbahce itu mencetak enam dari 14 gol tersebut selama kualifikasi, dan juga menjadi top skor Ekuador di Piala Dunia 2014 dan 2022, masing-masing dengan tiga gol.

Tanggung jawab untuk membantu serangan banyak dipikul oleh Gonzalo Plata. Winger kanan berusia 25 tahun yang kini memperkuat klub papan atas Brasil, Flamengo, menunjukkan performa impresif dalam beberapa laga uji coba terakhir. Pilihan lain di lini serang termasuk Nilson Angulo (AFC Sunderland), Kendry Paez—yang dipinjamkan Chelsea ke River Plate—serta John Yeboah (Venezia FC). Yeboah, kelahiran Hamburg dan jebolan akademi VfL Wolfsburg, sempat memperkuat tim muda Jerman dari U16 hingga U20. Namun karena ibunya berasal dari Ekuador, ia memilih membela negara tersebut dan menjalani debut seniornya pada musim semi 2024. Dalam laga persahabatan melawan Arab Saudi yang berakhir 2-1 akhir pekan lalu, Yeboah mencatat dua assist.

Ekuador: Satu-Satunya Penampilan di Babak Gugur Piala Dunia Terjadi Setelah Satu Grup dengan Jerman

Ekuador akan memulai perjalanan di Piala Dunia dengan laga penting melawan Pantai Gading pada 13 Juni, yang kemungkinan besar akan menentukan perebutan posisi kedua di bawah favorit grup, Jerman. Kemenangan atas tim kejutan Curaçao pada 20 Juni menjadi keharusan, sebelum Hincapie dan rekan-rekannya menghadapi Jerman pada 25 Juni.

Ini akan menjadi penampilan kelima La Tri di Piala Dunia setelah 2002, 2006, 2014, dan 2022. Mereka berambisi menembus babak gugur untuk kedua kalinya. Sejarah memberi sedikit harapan: pada 2006, Ekuador lolos ke babak 16 besar untuk pertama dan satu-satunya kali setelah finis di belakang Jerman di fase grup dan menghadapi tuan rumah pada laga ketiga (kalah 0-3). Di babak 16 besar, mereka tampil cukup tangguh melawan Inggris, namun akhirnya kalah 0-1 lewat tendangan bebas David Beckham.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.