TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG — Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang tengah mematangkan persiapan akhir untuk bertindak sebagai tuan rumah gelaran akbar Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI Tahun 2026.
Selain berfokus pada kesiapan teknis kompetisi, pemkot secara khusus menggandeng Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) untuk menghadirkan program heritage tour wisata religi bagi ribuan peserta dan tamu dari berbagai penjuru tanah air.
Langkah ini diambil sebagai strategi hospitality terpadu untuk memberikan pengalaman budaya yang mendalam, sekaligus memanfaatkan momentum berskala nasional tersebut untuk menggenjot sektor pariwisata daerah.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, menegaskan bahwa perhelatan MTQ Nasional XXXI Tahun 2026 ini mengemban misi besar yang lebih luas dari sekadar perlombaan seni membaca Al-Qur'an.
Acara ini dibidik menjadi panggung utama untuk memperkenalkan sejarah panjang peradaban Islam serta potret toleransi beragama yang hidup di Ibu Kota Jawa Tengah tersebut.
"Semarang adalah kota yang dibangun oleh banyak peradaban. Melalui heritage tour religi ini, kami ingin para tamu MTQ pulang membawa cerita tentang jejak ulama, sejarah penyebaran Islam, dan semangat kerukunan yang hidup di Kota Semarang hingga hari ini," ujar Agustina dalam keterangan tertulisnya, Senin (1/6/2026).
Baca juga: Ketahuan Sembunyikan Sabu-Sabu di Pemakaman, Pemuda Asal Cirebon Diringkus Satresnarkoba Brebes
Menelusuri Jejak Ulama hingga Simbol Toleransi Kota
Dalam skema program wisata yang dirancang bersama ASITA, para kafilah dan delegasi akan diajak berziarah sekaligus menelusuri garis waktu sejarah penyebaran Islam di Kota Atlas.
Beberapa destinasi jangkar yang disiapkan meliputi Makam Sunan Terboyo, Makam KH Sholeh Darat, Makam Ki Ageng Pandanaran, hingga Masjid Kauman Semarang.
Menariknya, paket wisata ini tidak membatasi diri pada situs-situs bernapaskan Islam saja. Untuk merepresentasikan wajah keberagaman dan keharmonisan sosial kota, ASITA juga menyediakan paket wisata heritage yang merajut kawasan cagar budaya Kota Lama, Lawang Sewu, Gereja Blenduk, hingga Pura Agung Giri Natha.
Sebaran Venue dan Target Kesuksesan Multisektor
Demi menampung berbagai cabang perlombaan, panitia telah memetakan sejumlah titik strategis di penjuru kota yang akan disulap menjadi tempat kompetisi resmi.
Baca juga: Penipuan Internasional Bermodus Kisah Cinta Palsu di Sukoharjo Terbongkar: Mantan Artis Jadi Umpan
Berikut adalah daftar lokasi utama yang disiapkan sebagai venue perlombaan:
Masjid Baiturrahman
Rumah Dinas Wali Kota Semarang
Auditorium Kanwil Kemenag Jawa Tengah
Kampus UIN Walisongo
Universitas Diponegoro (Undip)
Sejumlah gedung pemerintahan dan fasilitas publik terpilih lainnya.
Melalui kemitraan strategis lintas sektor ini, Pemkot Semarang optimistis dapat mengulang sukses ganda, baik dari segi prestasi penyelenggaraan maupun dampak ekonomi bagi masyarakat lokal.
"Melalui kolaborasi dengan ASITA tersebut, kami berharap penyelenggaraan MTQ Nasional XXXI tidak hanya sukses dari sisi perlombaan, tetapi juga meninggalkan kesan mendalam tentang Semarang sebagai kota yang merawat sejarah, memperkuat syiar, dan merayakan keberagaman dalam satu harmoni," pungkas Agustina. (idy)