TRIBUN-MEDAN.com - Inilah alasan menantu dicurigai di balik tewasnya lansia usai santap sate.
Lansia berinisial A (57) itu pun sempat diwanti-wanti sang anak.
A ditemukan tewas di rumahnya di Desa Sindon, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Selasa (19/5/2026) pagi.
Baca juga: Indonesia Hajar Myanmar 3-0 di Piala AFF U19 2026, Dimas Wicaksono Jadi Pembeda
Ia ditemukan tak bernyawa diduga usai menyantap sate yang dikirim melalui ojek online, Senin (18/5/2026) sore.
Tewasnya A turut menyeret nama sang menantu.
Makanan tersebut diduga dikirim oleh anak menantunya berinisial P yang tinggal di Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah.
Baca juga: ART Dilecehkan di Rumah Bupati Berujung Damai, Tersangka Saudara Istri Bupati Beri Rp 25 Juta
Pada malam harinya, P juga sempat datang ke rumah korban untuk menjenguk mertuanya sambil membawa roti.
Dilansir TribunSolo.com, sebelum mengonsumsi sate ayam tersebut, korban sempat menghubungi anaknya.
Ketika itu, anak korban meminta agar orang tuanya tidak memakan sate tersebut karena belum mengetahui secara pasti siapa pengirimnya.
Namun, keesokan harinya, Selasa pagi, korban ditemukan sudah meninggal dunia.
Saat korban ditemukan, terdapat baju yang terkena muntahan sisa makanan.
Baca juga: Aniaya Istrinya Sampai Tewas, Suami di Konawe Mandikan, Sisir, dan Peluk Korban: Berharap Hidup Lagi
Selain itu, mulut korban juga mengeluarkan busa.
Keluarga semakin curiga setelah melihat kondisi mulut dan telinga korban yang tampak membiru.
Atas dasar kecurigaan tersebut, keluarga kemudian berkonsultasi dengan Polsek Ngemplak pada Kamis (21/5/2026).
Kasus tersebut selanjutnya dilaporkan secara resmi ke Polres Boyolali pada Senin (25/5/2026).
Korban telah dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Sindon, Selasa (19/5/2026).
Namun, setelah muncul dugaan kematian tidak wajar, keluarga meminta kepolisian melakukan penyelidikan lebih lanjut dengan membongkar makam korban untuk kepentingan autopsi.
Kakak kandung korban, Widodo (61), mengaku awalnya mendapat informasi dari tetangga mengenai kondisi adiknya.
Saat itu, korban ditemukan dalam keadaan tergeletak telentang di dalam rumah.
"Awalnya saya mendapat informasi dari tetangga untuk melihat kondisi adik saya. Saat itu korban ditemukan di dalam rumah dalam posisi telentang," ujarnya kepada TribunSolo.com, Minggu (31/5/2026).
Kecurigaan bermula dari anak kedua korban yang setiap pagi biasa menitipkan anaknya kepada sang ibu.
Baca juga: Bupati Toba Pimpin Upacara Hari Lahir Pancasila 2026, Bacakan Pidato Kepala BPIP
Pada hari kejadian, anak korban mendapati lampu rumah masih menyala hingga pagi hari, sesuatu yang tidak biasa karena korban selalu mematikan lampu sebelum beraktivitas.
"Anaknya curiga karena lampu rumah masih menyala. Biasanya pagi hari lampu sudah dimatikan semua. Setelah dipanggil berkali-kali tidak ada respons," ungkap Widodo.
Karena tidak mendapat jawaban dari dalam rumah, anak korban kemudian meminta bantuan tetangga untuk memeriksa kondisi ibunya.
Bersama warga sekitar, mereka berusaha masuk ke dalam rumah dengan membuka pintu secara paksa.
Setelah warga berhasil masuk, korban ditemukan sudah tidak bernyawa.
Dipesan Pakai Nama Anak Korban
Kuasa hukum keluarga korban, Wiwik Dwi Habsari, S.H., mengungkapkan pihaknya memperoleh sejumlah keterangan dari saksi yang mengarah pada dugaan keterlibatan seseorang berinisial P dalam pengiriman sate ayam kepada korban.
Menurut Wiwik, berdasarkan informasi yang diperoleh dari saksi, seseorang yang diduga berinisial P membeli sate ayam di wilayah Pandean, Kecamatan Ngemplak.
P kemudian meminta seorang pengemudi ojek online untuk mengantarkan makanan tersebut ke rumah korban di Dukuh Sindon.
Baca juga: Bupati Franc Bernhard Tumanggor Pimpin Upacara Hari Lahir Pancasila 2026 di Pakpak Bharat
Wiwik melanjutkan, pemesanan layanan ojek online tersebut menggunakan nama Luriyanti.
Padahal, Luriyanti merupakan anak kedua korban yang tinggal di Kismoyoso, Kecamatan Ngemplak, dan mengaku tidak pernah mengirim sate ayam kepada ibunya.
"Setelah ditelusuri, ternyata anak kedua korban yang namanya digunakan dalam pemesanan itu merasa tidak pernah mengirim sate ayam kepada ibunya yang tinggal sendirian di Sindon," jelas Wiwik.
Hubungan Tak Harmonis
Kakak kandung korban, Widodo, mengungkapkan selama ini hubungan antara korban dan P tidak harmonis.
Menurutnya, P kerap meminta uang kepada korban dengan berbagai alasan yang belakangan diketahui tidak benar.
"Terduga pelaku P sering meminta uang ke korban dengan cara berbohong. Jadi P ini tidak merasa bersalah, tidak merasa dosa, dan tidak punya malu," kata Widodo, Minggu.
Widodo menambahkan, hubungan antara korban dan menantunya semakin memburuk setelah sejumlah kebohongan yang dilakukan P diketahui oleh korban.
Sejak saat itu, komunikasi keduanya disebut tidak lagi berjalan baik.
Ia juga menilai rekam jejak P selama ini kurang baik.
Selain disebut sering meminjam uang kepada sejumlah teman, P juga diduga memiliki kebiasaan bermain judi online.
"Track record P ini sudah jelek. Tiap hari cari utangan ke teman-temannya dan sering main slot judi online," tambahnya.
Kecurigaan keluarga semakin kuat setelah muncul informasi bahwa tidak hanya korban yang meninggal dunia setelah mengonsumsi sate ayam tersebut.
Sejumlah ayam yang turut memakan sisa makanan itu juga dilaporkan mati.
Meski demikian, Widodo tetap menyerahkan kasus tersebut kepada pihak kepolisian.
Tim Dokkes Polda Jawa Tengah bersama Polres Boyolali telah melakukan ekshumasi dan autopsi terhadap jenazah korban di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Sindon, Sabtu (30/5/2026) lalu.
Masih Tunggu Autopsi
Polisi masih menunggu hasil autopsi jenazah korban untuk mengetahui penyebab pasti korban meninggal dunia mendadak pada 19 Mei 2026.
Kapolres Boyolali, AKBP Indra Maulana Saputra, menjelaskan saat ini proses pemeriksaan di Dokpol Polda Jateng masih berjalan.
Polisi belum menerima hasil resmi mengenai penyebab kematian.
“Apakah ada indikasi tanda-tanda kekerasan atau hal lain terkait penyebab meninggalnya itu,” ujar Indra, Senin (1/6/2026).
Pihaknya belum menyimpulkan penyebab kematian korban.
Termasuk apakah korban meninggal dunia secara wajar atau tidak wajar.
“Kan indikasinya banyak. Apakah karena sakit, apakah karena serangan jantung, atau penyebab lain. Kita masih menunggu hasil autopsi,” jelasnya.
Terkait isu yang beredar bahwa korban meninggal setelah mengonsumsi sate yang dikirim orang tak dikenal lewat ojek online, Kapolres menegaskan hal itu masih sebatas dugaan.
Apalagi, waktu kejadian dengan laporan ke polisi juga berselang sepekan.
Sehingga satu-satunya petunjuk yang akurat berasal dari hasil otopsi.
“Karena rumah pun sudah dibersihkan sama keluarga, sudah bersih dan semuanya. Sehingga kita menunggu hasil dari Dokpol saja,” jelas Indra.
(tribun-medan.com)