Laporan Faulina Riska, Belli Nasution dan Suyanto
TRIBUNPEKANBARU.COM, MAKKAH - Pelaksanaan puncak ibadah haji tahun 1447 Hijriah secara umum berjalan baik. Jamaah haji Indonesia dapat melaksanakan wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, hingga melontar jumrah di Mina dengan fasilitas yang terus mengalami perbaikan dari tahun ke tahun.
Namun di balik keberhasilan tersebut, masih terdapat sejumlah persoalan teknis yang dirasakan jamaah di lapangan, khususnya terkait pengaturan transportasi antar lokasi puncak haji.
Keluhan itu disampaikan sejumlah jamaah Kloter BTH 3 asal Pekanbaru. Persoalan utama bukan lagi pada fasilitas tenda, konsumsi ataupun pelayanan dasar, melainkan pada pelaksanaan jadwal transportasi yang beberapa kali tidak berjalan sesuai kesepakatan rapat koordinasi.
Perjalanan puncak haji dimulai ketika jamaah diberangkatkan dari hotel di Makkah menuju Arafah untuk melaksanakan wukuf.
Secara umum jamaah mengapresiasi fasilitas yang disediakan tahun ini.
Tenda-tenda di Arafah lebih nyaman dibanding beberapa tahun sebelumnya.
Setiap jamaah mendapatkan matras untuk beristirahat, pendingin ruangan bekerja baik, fasilitas mandi cukup memadai, dan konsumsi tersedia lebih dari cukup.
Meski demikian, persoalan mulai muncul pada saat proses pemberangkatan menuju Arafah.
Berdasarkan hasil rapat sebelumnya, Kloter BTH 3 dijadwalkan menjadi rombongan pertama yang diberangkatkan menyusul berikutnya BTH 4 (Kampar) dan BTH 5 (Surabaya).
Jamaah bahkan sudah bersiap sejak dini hari. Namun saat pelaksanaan, jadwal tersebut berubah.
Bus yang ditunggu tidak kunjung datang dan rombongan lain justru diberangkatkan lebih dahulu.
Kejadian serupa kembali dirasakan setelah wukuf selesai. Saat proses pergerakan dari Arafah menuju Muzdalifah dan selanjutnya ke Mina, jamaah BTH 3 mengaku kembali mengalami keterlambatan karena rombongan lain masuk lebih dulu ke dalam armada yang tersedia.
Padahal sebelumnya telah disepakati urutan keberangkatan berdasarkan jadwal yang telah ditetapkan.
Terjadinya keberangkatan di luar jadwal tersebut, ada dugaan karena adanya intervensi orang berpengaruh dalam masing-masing kloter yang mendahului tersebut, sehingga mengacaukan hasil kesepakatan tentang jadwal itu.
Akibat perubahan di lapangan tersebut, sejumlah jamaah terutama lansia harus menunggu lebih lama dari yang direncanakan.
Bahkan ada jamaah yang kelelahan setelah menjalani rangkaian ibadah panjang sejak pagi hingga malam.
Sebagian harus bertahan di pinggir jalan dan area terbuka sambil menunggu kepastian transportasi berikutnya.
Di Muzdalifah, situasi yang sama kembali terulang. Armada yang dijanjikan datang tidak sesuai jumlah yang diinformasikan.
Bus yang tersedia harus bolak-balik mengangkut jamaah dalam kondisi lalu lintas yang sangat padat.
Akibatnya proses evakuasi jamaah dari Muzdalifah menuju Mina berlangsung lebih lama dari jadwal yang telah ditetapkan.
Persoalan tidak berhenti sampai di sana. Saat fase pemulangan jamaah dari Mina menuju Makkah, jamaah BTH 3 kembali mengeluhkan perubahan urutan keberangkatan.
Setelah dilakukan koordinasi dan penyampaian keluhan kepada petugas daerah kerja, akhirnya persoalan tersebut dapat ditindaklanjuti sehingga jamaah BTH 3 memperoleh hak keberangkatan sesuai jadwal yang semestinya.
Apa yang dikeluhkan BTH 3 ini bukan untuk mencari kesalahan pihak tertentu.
Namun berharap ada evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengaturan transportasi dan pelaksanaan keputusan rapat di lapangan agar tidak terjadi perbedaan antara kesepakatan dan pelaksanaan.
Jika urutan keberangkatan sudah ditetapkan melalui rapat resmi, maka seluruh pihak yang terlibat semestinya menjalankan keputusan tersebut secara konsisten.
Ketegasan petugas diperlukan agar tidak terjadi saling mendahului yang akhirnya merugikan jamaah lain, terutama kelompok lansia dan jamaah dengan kondisi kesehatan khusus.
Pengalaman Armuzna tahun ini menunjukkan bahwa keberhasilan haji tidak hanya ditentukan oleh kualitas tenda, makanan, maupun fasilitas ibadah.
Ketertiban pelaksanaan transportasi dan disiplin menjalankan jadwal juga menjadi faktor penting yang sangat menentukan kenyamanan jutaan jamaah dalam menjalankan ibadah haji.
Karena itu, evaluasi terhadap sistem transportasi dan pelaksanaan jadwal di lapangan perlu menjadi perhatian serius untuk musim haji berikutnya.
Dengan perbaikan tersebut, pelayanan yang sudah baik dapat menjadi lebih sempurna sehingga seluruh jamaah dapat fokus beribadah tanpa harus menghadapi kelelahan tambahan akibat persoalan teknis yang sebenarnya bisa dihindari.
( Tribunpekanbaru.com / Alexander )