TRIBUNTRENDS.COM - Sekretaris Kabinet (Seskab) Letkol Teddy Indra Wijaya memberikan respons atas kritik yang dilontarkan mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal mengenai intensitas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto beserta anggaran yang digunakan.
Sorotan tersebut sebelumnya menyinggung frekuensi perjalanan internasional Presiden dan besarnya biaya yang dikeluarkan selama kunjungan ke berbagai negara.
Menanggapi hal itu, Teddy menegaskan bahwa penggunaan anggaran negara untuk perjalanan dinas Presiden tetap mengikuti ketentuan yang telah ditetapkan.
Ia menjelaskan, apabila terdapat pengeluaran yang melebihi alokasi anggaran resmi negara, selisih biaya tersebut tidak dibebankan kepada pemerintah.
Menurut Teddy, seluruh kelebihan biaya selama perjalanan luar negeri ditanggung langsung oleh Presiden Prabowo secara pribadi.
Baca juga: Istana Sebut Prabowo Figur Unik, Satu-satunya Pemimpin yang Bisa Rangkul AS, Rusia & China Sekaligus
Penjelasan tersebut disampaikan untuk menjawab berbagai pertanyaan publik terkait penggunaan anggaran dalam agenda kunjungan kenegaraan Presiden.
Keterangan itu disampaikan melalui unggahan resmi Sekretariat Kabinet di akun Instagram pada Senin (1/6/2026).
Dalam pernyataannya, Teddy memastikan tidak ada tambahan beban anggaran negara untuk menutup kelebihan biaya perjalanan tersebut.
“Jadi segala kelebihan biaya yang telah dianggarkan oleh negara, itu sepenuhnya ditanggung oleh pribadi Presiden Prabowo,” kata Teddy.
Pernyataan itu sekaligus menjadi klarifikasi pemerintah atas kritik yang berkembang terkait perjalanan luar negeri Presiden Prabowo Subianto.
Dino Patti Djalal sebelumnya menilai kunjungan luar negeri Presiden Prabowo memiliki intensitas tinggi sejak menjabat.
Ia menyebut dalam pola tertentu, Presiden bisa menghabiskan waktu cukup sering di luar negeri, yang menurutnya menimbulkan pertanyaan di publik.
“Semenjak menjabat menjadi Presiden, satu dari enam hari dihabiskan beliau di luar negeri,” kata Dino.
Dino juga menyoroti aspek biaya perjalanan luar negeri yang disebutnya dapat mencapai puluhan hingga ratusan miliar rupiah dalam satu agenda kunjungan.
Menanggapi sorotan tersebut, Teddy menjelaskan bahwa jumlah rombongan Presiden dalam kunjungan luar negeri kini lebih kecil dibanding periode sebelumnya.
Ia menyebut jumlah delegasi saat ini berada di kisaran 50 hingga 60 orang, turun signifikan dari sebelumnya yang bisa lebih dari 120 orang.
“Ini sangat penting. Jumlah rombongan Presiden Prabowo itu sudah berkurang besar-besaran,” ujar Teddy.
Baca juga: Transparansi Pembelian Hewan Kurban Prabowo Pakai APBN Dipertanyakan, Trubus: Jangan-jangan Lebih
Teddy menegaskan bahwa kunjungan luar negeri Presiden tidak bisa dilepaskan dari dinamika global yang berlangsung cepat.
Menurutnya, kondisi dunia yang diwarnai berbagai konflik menuntut komunikasi aktif antar pemimpin negara.
“Perkembangan dunia global itu sangat dinamis. Hari per hari,” kata Teddy.
Ia menambahkan bahwa kunjungan luar negeri menjadi bagian dari upaya membangun dan menjaga hubungan diplomatik antarnegara.
“Setiap pemimpin harus membangun hubungan yang dekat antar pemimpin dunia,” ujarnya.
Teddy menilai kedekatan antar pemimpin negara menjadi bagian penting dalam diplomasi modern.
Ia menyebut hubungan yang dibangun sejak awal akan mempermudah kerja sama ketika terjadi situasi darurat di kemudian hari.
“Kalau kita tidak bangun hubungan dari sekarang, saat krisis kita akan lebih sulit meminta bantuan,” kata Teddy.
(TribunTrends/Tribunnews/Taufik Ismail)