Jawab Kritikan Dino, Seskab Pamer Hasil Kunjungan Prabowo: Kampung Haji, Pemulangan WNI dari Israel 
Theresia Felisiani June 02, 2026 07:21 AM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya merespon kritikan Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal mengenai kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto.

Seskab membantah bahwa kunjungan Presiden ke Luar Negeri atau Dinas Luar Negeri (DLN) hanya bersifat seremonial dan untuk gagah gagahan saja.

“Jadi salah besar kalau dibilang hanya gagah-gagahan seremonial,” kata Teddy dalam akun Instagram Sekretariat Kabinet, Senin, (1/6/2026).

Teddy kemudian memaparkan hasil yang sudah dicapai dari kunjungan Presiden Prabowo ke luar negeri dalam kurun waktu 1,5 tahun. 

Di antaranya Indonesia kini bergabung dengan kelompak kerjasama BRICS. Manfaat dari keanggotaan tersebut yakni Indonesia bisa menjamin ketersediaan energi dan pangan di tengah dunia yang sedang krisis.

“Manfaatnya apa? Ya sekarang ini di tengah konflik krisis dunia situasi negara terjamin. Stok BBM aman, harga BBM subsidi tidak naik, stok pangan aman,” katanya.

Baca juga: Kunjungan Keempat Prabowo ke Prancis Bahas Kerja Sama Pertahanan Hingga Energi Bersih

Selain itu Indonesia berhasil menjalin kesepakatan dagang dengan Uni Eropa. Dengan kesepakatan dagang dalam kerangka Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) tersebut tarif dagang antara Indonesia dengan negara uni eropa sebesar 0 persen.

“Ada 25 negara di situ. Dan ini perjanjian yang sudah diurus belasan tahun yang lalu. Tapi kapan tercapai? Ya zaman Presiden Prabowo. Tepatnya tahun 2025 lalu,” katanya.

Hasil lainnya dari kunjungan Presiden Prabowo ke luar negeri yakni banyak investasi yang masuk ke Indonesia. Total investasi yang telah masuk dalam 1,5 tahun ini mencapai Rp 2.430 triliun.

“Itu data dari BKPM. Kemudian contoh konkret lagi nih. Bulan lalu Presiden Prabowo ke Jepang dan Korea. Kembali langsung ada investasi sekitar 575 triliun,” katanya.

Kemudian buah dari kunjungan luar negeri Presiden yakni, Indonesia kini memiliki Alustsista atau alat pertahanan yang kuat. Alutsista tersebut hasil kerjasama dari banyak negara.

“Perancis, Amerika, Rusia, China, Inggris, Eropa, banyak negara,” katanya.

Selanjutnya, berkat dari kunjungan Presiden ke luar negeri yakni Indonesia memiliki perkampungan haji di Arab Saudi. Selain itu pelaksanaan haji 2026 berjalan lancar tanpa kendala berarti.

“Dan Saudi sendiri mengubah undang-undangnya agar suatu negara mempunyai lahan di situ untuk digunakan oleh jamaah haji,” katanya.

Baca juga: Istana Respons Kritikan Mantan Wamenlu Dino Patti Djalal Soal Kunjungan Luar Negeri Prabowo

Dalam kunjungan ke luar negeri juga kata Teddy, Presiden Prabowo sangat berperan aktif dalam membantu Palestina. Indonesia bisa memberikan bantuan langsung dari udara ke Gaza yang mana hal tersebut tidak mudah dilakukan karena memerlukan kerjasama dengan negara negara Timur Tengah yang wilayah udaranya dilalui untuk mengirimkan bantuan.

“Kemudian yang kedua, kita kirim kapal rumah sakit ke Palestina. Kemudian yang ketiga, kita menyekolahkan anak-anak Palestina di universitas di Indonesia. Sekarang mungkin sudah sampai 100 orang yang sudah sekolah di sini dan lain sebagainya,” tuturnya.

Terakhir kata Teddy hasil dari kunjungan luar negeri Presiden Prabowo yakni pemulangan WNI yang ditangkap pihak Israel di laut bebas.

Melalui diplomasi pemerintah yang dipimpin Menteri Luar Negeri Sugiono, WNI tersebut berhasil pulang tidak lama setelah diamankan.


Kritikan Dino Patti Djalal

Sebelumnya mantan Wakil Menteri Luar Negeri yang juga merupakan Founder and Chairman of Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal menyampaikan 5 saran kepada Presiden Prabowo Subianto yang sering ke luar negeri.

Menurut Dino, Prabowo merupakan Presiden yang paling sering ke luar negeri.

"Semenjak menjabat menjadi Presiden, satu dari enam hari dihabiskan beliau di luar negeri dan tidak heran kalau ada yang beranggapan bahwa ini tidak lazim dan di luar batas kewajaran," kata Dino Patti Djalal dikutip dari akun instagramnya @dinopattidjalal, Sabtu (30/5/2026).

DIPANGGIL PRESIDEN - Mantan Wamenlu Dino Patti Djalal di Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Rabu, (4/2/2026).
DIPANGGIL PRESIDEN - Mantan Wamenlu Dino Patti Djalal di Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Rabu, (4/2/2026). (Tribunnews.com/Taufik Ismail)

Dino memprediksi dalam 18 bulan ke depan, Presiden Prabowo terus melakukan kunjungan internasional dalam frekuensi yang sama tingginya.

Ia menuturkan kunjungan kepala negara ke luar negeri memakan biaya yang sangat besar.

Biaya itu meliputi rombongan tim pendahulu,  pesawat, hotel, logistik, konsumsi, protokoler dan pengamanan serta uang harian untuk seluruh delegasi dan perangkat pendamping. Ditambah berbagai biaya lainnya.

"Satu perjalanan ke luar negeri bisa keluar puluhan, bahkan ratusan miliar," kata Dino.
Sebelum menyampaikan saran, Dino menuturkan dirinya mendapatkan anugerah bintang mahaputera dari Presiden Prabowo Subianto.

"Yang berarti Bapak mempercayai kredibilitas dan pandangan saya mengenai politik luar negeri," kata Dino.

Oleh karena itu, Dino merasa memiliki tanggung jawab moril untuk menyampaikan pesan apa adanya sebagai sahabat lama Prabowo. 

"Saya mewakili komunitas hubungan internasional dan banyak rakyat Indonesia, mengimbau Presiden Prabowo untuk secara signifikan mengurangi perjalanan ke luar negeridan tidak menganggap remeh jeritan publik mengenai hal ini," jelas Dino.

Baca juga: Teddy: Kunker Presiden Zaman Dino Patti Djalal 120 Orang, Era Prabowo 60

Dino lalu menyampaikan lima saran untuk Presien Prabowo Subianto.

Pertama, untuk menjaga komunikasi dengan pemimpin dunia lain, Dino menyarankan Presiden Prabowo lebih mengandalkan video call atau zoom call atau telepon.

Menurut Dino, kunjungan bilateral biasanya hanya berpusat pada satu pembicaraan yang berlangsung selama satu jam atau paling banter dua jam.

Kemudian selebihnya basa-basi, jamuan dan seremonial yang biasanya tidak perlu.

"Jadi dengan satu video call yang bernilai 0 rupiah, negara praktis dapat menghemat ratusan miliar dari perjalanan ke luar negeri dan hasilnya dari segi substansi juga kurang lebih sama," kata Dino.

Aksi penghematan melalui Zoom call, kata Dino, dapat menjawab persepsi sebagai masyarakat yang menganggap perjalanan Presiden ke luar negeri cenderung boros dan bersifat jalan-jalan.

Dino lalu mencontohkan Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum yang sudah 17 kali menelpon Presiden AS Donald Trump.Tetapi, Sheinbaum, belum sekalipun melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Trump padahal Amerika Serikat adalah mitra perdagangan terbesar bagi Meksiko.

"Dan dalam suatu kunjungan kerja ke Spanyol, Presiden Sheinbaum bahkan terbang naik pesawat komersil kelas ekonomi untuk memberikan tauladan kepada rakyatnya bahwa penghematan yang diserukannya pada seluruh pemerintahannya juga berlaku bagi Presiden di tingkat tertinggi," jelas Dino.

Kedua, untuk menghemat biaya dan waktu, Dino menganjurkan agar Presiden Prabowo dapat memanfaatkan kunjungan ke suatu forum internasional untuk bertemu kepala negara lain yang juga hadir.

Ia bercerita kabarnya Presiden Finlandia Alexander Stubb sewaktu menghadiri sidang PBB di New York tahun lalu meminta waktu untuk bertemu dengan Presiden Prabowo tapi tidak pernah direspon.

"Entah kenapa," katanya.

Baca juga: Seskab Teddy Bandingkan Jumlah Rombongan Kunker Prabowo dan Presiden Era Dino Patti Djalal di Kemlu

Kemudian, kata Dino, dalam KTT ASEAN di Cebu Filipina, permintaan seorang kepala pemerintah negara ASEAN untuk mengarahkan pertemuan bilateral juga tidak pernah direspon. Dino menyarankan pihak Istana menerapkan Formula 1 + 8.

"Dalam menghadiri forum internasional misalnya ke Davos atau PBB di New York atau ASEAN atau G20 dan lain sebagainya," kata Dino.

"Sembari menyampaikan pidato presiden juga bisa menerima atau bertemu paling tidak dengan delapan kepala negara lain yang juga hadir," tutur Dino.

"Kenapa delapan? Karena nampaknya angka delapan adalah favorit presiden yang juga dikenal sebagai 08," sambung Dino.

Ketiga, Dino juga berharap kunjungan internasional Presiden Prabowo dapat dilakukan secara profesional dan direncanakan dengan baik. Dino mengamati ada sejumlah kunjungan yang dilakukan secara spontan tanpa perencanaan dan tujuan yang jelas.

"Rencana kunjungan internasional Presiden secara garis besar perlu dipetakan setahun sebelumnya," kata Dino.

Dino menyarankan Seskab Teddy Indra Wijaya dan Menteri Luar Negeri Sugiono mengumumkan rencana kunjungan presiden ke suatu negara satu bulan sebelumnya atau minimal seminggu sebelum hari H.

"Dan diumumkan juga bersamaan dengan negara yang akan dikunjungi. Kunjungan presiden ke Pakistan dan Rusia sewaktu bencana banjir Sumatera misalnya, dilakukan tanpa ada informasi apapun kepada publik sebelum berangkat," kata Dino.

Dino menilai diperlukan penerapan azas akuntabilitas dan transparansi karena cukup sering publik tidak tahu Presiden Prabowo di luar negeri.

Keempat, Dino juga mengajurkan untuk satu tahun ke depan Presiden Prabowo lebih banyak menerima tamu negara di tanah air ketimbang melakukan perjalanan ke luar negeri.

Ia mencontohkan Presiden China Xi Jinpingyang jauh lebih banyak menerima tamu negara di Beijing ketimbang pepergian ke luar negeri.

Baca juga: Seskab Teddy Sindir Dino Patti Djalal: Hebat, Tapi Cuma Diberi Kesempatan 3 Bulan

Kelima, Dino mengusulkan agar ke depan sebagian besar misi diplomatik yang bersifat taktis dapat dioper ke Menlu Sugiono.  Menurut Dino, cara itu akan menghemat biaya.

Pasalnya, biaya perjalanan Menlu mungkin hanya didampingi oleh tiga orang staf akan jauh lebih hemat dari biaya perjalanan presiden dan hasilnya dari segi substansi juga kurang lebih akan sama.

"Namun di sini Menlu Sugiono harus melepaskan diri sebagai bagian dari rombongan pengiring presiden yang harus selalu berada di samping Presiden," katanya.

Ia mencontohkan Mantan Menlu Hassan Wirajuda, Marty Natalegawa dan Retno Marsudi.

"Semuanya tidak pernah menempatkan diri sebagai bagian dari rombongan pengiring Presiden dan mereka fokus total untuk menangani politik luar negeri," kata Dino.
Dino menuturkan saran itu disampaikan sebagai bentuk dari suara rakyat yang murni dari nurani mereka.

"Silahkan cek. Dalam suasana yang serba prihatin dan was-was akibat gejolak dunia, rakyat Indonesia tidak lagi terpukau dengan kemegahan protokoler dalam dunia diplomasi. Saya yakin sekali ini," kata Dino.

"Rakyat mengharapkan pemimpin mereka bisa menunjukkan kepekaan dan kepatutan dalam melakukan perjalanan ke luar negeri," imbuh Dino.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.