TRIBUNTRENDS.COM - Di balik layar operasi sindikat love scamming internasional yang berhasil dibongkar aparat kepolisian di Jawa Tengah, muncul fakta mengejutkan yang menyita perhatian publik.
Tidak hanya melibatkan puluhan operator yang bertugas mencari korban melalui dunia maya, jaringan ini ternyata juga diduga memanfaatkan seorang mantan artis untuk memperkuat tipu daya mereka.
Perempuan berinisial F kini telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus penipuan berbasis hubungan asmara daring tersebut.
Polisi menyebut sosok yang pernah dikenal publik itu memiliki tugas khusus yang sangat penting dalam menjalankan skema kejahatan lintas negara tersebut.
Keberadaan F diduga menjadi salah satu kunci yang membuat para korban percaya bahwa mereka sedang menjalin hubungan dengan orang yang nyata, bukan sekadar identitas palsu yang diciptakan sindikat.
Baca juga: Jokowi Bikin Heboh CFD Solo, Tiba-tiba Berhenti di Tengah Jalan karena Sosok Ini!
Pengungkapan kasus ini memperlihatkan bagaimana sindikat bekerja secara terstruktur. Para operator atau "marketing" bertugas membangun komunikasi dengan korban melalui aplikasi kencan dan media sosial.
Setelah hubungan emosional mulai terbentuk, korban biasanya meminta bukti identitas dari orang yang selama ini mereka ajak berbicara.
Pada tahap itulah peran F diduga mulai dijalankan.
Direktur Reserse Siber Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Himawan Sutanto Saragih, menjelaskan bahwa perempuan tersebut bertugas melayani panggilan video dengan korban guna memperkuat keyakinan mereka.
"Model yang dapat kami amankan ini tugasnya melayani video call sesuai yang diinginkan korban, sementara peran marketing yang mencari korban. Apabila korban membutuhkan keyakinan, maka yang tampil bukan marketing tetapi model," kata Kombes Himawan.
Dengan kemunculan sosok perempuan yang dianggap sesuai dengan identitas yang selama ini diperkenalkan kepada korban, tingkat kepercayaan korban semakin meningkat. Hal itu membuat mereka lebih mudah mengikuti arahan yang diberikan oleh para pelaku.
Menurut penyidik, keberadaan model dalam jaringan tersebut bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian penting dari strategi penipuan yang telah dirancang secara matang.
Para operator lebih dahulu membangun kedekatan emosional dengan korban selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu.
Setelah korban merasa nyaman dan percaya, mereka mulai diarahkan untuk mengikuti berbagai tawaran investasi yang menjanjikan keuntungan besar.
Dalam proses tersebut, kehadiran model menjadi alat untuk menghilangkan keraguan korban.
"Karena marketing ingin supaya korban segera melakukan investasi yang sudah ditawarkan," imbuh dia.
Dengan kata lain, video call yang dilakukan bukan untuk menjalin hubungan pribadi, melainkan menjadi sarana memperkuat narasi yang telah dibangun para operator agar korban semakin yakin dan bersedia mengirimkan uang.
Baca juga: Kedok Perusahaan Konsultan, Sindikat Scam Internasional di Solo Baru Pakai Wanita untuk Tipu Daya
Saat ditanya mengenai identitas perempuan yang diamankan, pihak kepolisian belum bersedia membuka secara rinci nama maupun latar belakang lengkapnya.
Namun, Kombes Himawan mengungkapkan bahwa perempuan tersebut bukan sosok yang asing di mata publik.
"Yang jelas model dari mantan artis, itu saja," ungkapnya.
Hingga kini penyidik masih merahasiakan identitas lengkap tersangka karena proses penyidikan masih berjalan. Polisi memastikan perempuan tersebut diamankan saat penggerebekan berlangsung dan telah mengakui tugasnya melakukan video call kepada korban sesuai arahan jaringan.
Dalam pengungkapan kasus tersebut, polisi turut memperlihatkan berbagai barang bukti yang digunakan sindikat untuk menjalankan aksinya.
Di samping meja rias yang diduga digunakan oleh tersangka perempuan saat melakukan panggilan video, aparat juga menyita puluhan telepon seluler, komputer, monitor, laptop, serta buku panduan percakapan.
Seluruh peralatan itu diduga digunakan untuk mengelola komunikasi dengan para korban yang tersebar di berbagai negara.
Buku panduan tersebut bahkan berisi skenario percakapan yang membantu para operator membangun hubungan emosional secara sistematis dan meyakinkan.
Temuan itu memperlihatkan bahwa aktivitas penipuan tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan dijalankan layaknya sebuah operasi profesional yang memiliki pembagian tugas yang jelas.
Baca juga: Siasat Jaringan Kripto Abal-abal Sukoharjo, Siapkan Wanita Asli demi Jebak Warga AS Lewat Video Call
Kasus ini tidak hanya menjadi perhatian aparat Indonesia. Karena sebagian besar korban diketahui merupakan warga negara Amerika Serikat, penyidikan juga melibatkan kerja sama dengan aparat penegak hukum internasional.
Polda Jawa Tengah berkoordinasi dengan FBI untuk mengidentifikasi korban dan memperkuat pembuktian perkara.
"Dari hasil penyidikan awal kami menemukan pelaku terdiri dari warga Indonesia dan warga negara asing, sementara korbannya warga Amerika.
Tentunya kami bekerja sama dan berkolaborasi dengan FBI, Bareskrim dan Hubinter untuk mendapatkan keterangan dari para korban tersebut," lanjut Kombes Himawan.
Kerja sama lintas negara tersebut dinilai sangat penting mengingat jaringan yang dibongkar memiliki aktivitas yang melampaui batas wilayah Indonesia.
Pengungkapan sindikat ini bermula dari patroli siber yang rutin dilakukan jajaran Direktorat Reserse Siber Polda Jawa Tengah.
Dari hasil pemantauan aktivitas digital, penyidik menemukan adanya indikasi praktik penipuan daring yang beroperasi di kawasan Solo Raya.
"Dari hasil patroli siber kami menemukan ada indikasi kegiatan penipuan online yang dilakukan di wilayah Solo. Kemudian kami lakukan pendalaman terhadap aktivitas yang dilakukan oleh mereka," kata dia.
Penyelidikan yang dilakukan secara bertahap kemudian mengarah pada sebuah perusahaan bernama PT Digi Global Konsultan yang berlokasi di kawasan Solo Baru, Kabupaten Sukoharjo.
Menurut hasil penyidikan, lokasi tersebut diduga digunakan sebagai pusat operasional jaringan penipuan internasional sekaligus tempat perekrutan tenaga kerja.
Dari sana, para pelaku menjalankan aktivitas mereka sehari-hari, mulai dari mencari korban, membangun komunikasi, hingga mengarahkan target untuk menanamkan dana pada investasi palsu.
Polisi juga menemukan bahwa sindikat tersebut kerap berpindah-pindah lokasi untuk menghindari perhatian masyarakat maupun aparat penegak hukum.
Fakta ini menunjukkan bahwa jaringan love scamming yang beroperasi di Solo Raya bukanlah kelompok kecil yang bekerja secara acak.
Mereka diduga menjalankan sistem yang terorganisasi dengan pembagian tugas yang rapi, mulai dari pencari korban, pengelola komunikasi, hingga model yang bertugas tampil saat korban meminta pembuktian identitas.
Kini, penyidik masih terus mendalami peran masing-masing tersangka dan menelusuri kemungkinan adanya jaringan yang lebih luas di balik kasus penipuan internasional tersebut.
***
(TribunTrends/TribunJateng)