Bukan Sekadar Upacara Peringatan
Ratino Taufik June 02, 2026 07:49 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID - SETIAP 1 Juni diperingati sebagai Hai Hari Lahir Pancasila. Perlu diketahui tanggal ini ditetapkan karena pada 1 Juni 1945, Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, menyampaikan pidato monumental dalam sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang mengusulkan lima dasar bagi negara Indonesia.

Lima dasar tersebut diambil dari Bahasa Sanskerta, Panca (Lima) dan Sila (Dasar atau Prinsip) yang kini dikenal dengan nama Pancasila.

Kelahiran Pancasila menjadi sesuatu yang tak bisa dilepaskan dengan Kemerdekaan Indonesia. Tak heran tanggal 1 Juni telah ditetapkan sebagai hari libur nasional berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 24 Tahun 2016.

Sebegitu pentingnya Hari Lahir Pancasila bagi rakyat Indonesia. Tak hanya diperingati setiap tahun melalui upacara bendera, tapi juga menjadi momentum untuk kembali mengingat Dasar Negara Indonesia yang tak tergoyahkan seiring berjalannya waktu.

Pancasila kuat karena memang intisarinya adalah nilai-nilai budaya, adat istiadat, dan agama yang telah hidup dalam masyarakat Nusantara jauh sebelum Indonesia merdeka. Pancasila juga mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.

Tengok saja bunyi lima silanya. Mulai dari Ketuhanan Yang Maha Esa; Kemanusiaan yang Adil dan Beradab; Persatuan Indonesia; Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan; dan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Kelima sila ini merupakan gambaran kemajemukan suku, ras, budaya, dan agama di Indonesia tanpa mendiskriminasi golongan tertentu. Pancasila telah menyeimbangkan kepentingan individu dan kelompok, menjunjung tinggi toleransi, musyawarah, serta keadilan sosial.

Tentu saja sebagai norma dasar fundamental, Pansacila juga menjadi landasan bagi seluruh peraturan perundang-undangan yang dilahirkan di Indonesia.

Meskipun begitu, masih ada tantangan dalam implementasi setiap silanya dewasa ini. Tantangan untuk Sila Pertama, misalnya, masih sering diuji akibat fanatisme yang berlebihan. Toleransi beragama pun kembali dipertanyakan.

Sila Keempat, yang merangkum soal demokrasi, musyawarah untuk mufakat serta perwakilan juga menghadapi tantangan yakni masih maraknya pragmatisme politik dan money politik dalam Pemilu. Demikian pula Sila Kelima, yang masih menghadapi tantangan adanya kesenjangan ekonomi di masyarakat, serta akses keadilan hukum yang belum merata.

Semoga Hari Kelahiran Pancasila kali ini tidak sekadar perayaan, tapi nilai-nilainya bisa terlaksana dengan baik. Indonesia bisa menjadi negara besar yang disegani, dan mampu  memakmurkan serta menyejahterakan masyarakatnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.