3 BERITA POPULER SUMBAR: Abu Janda Dilaporkan, Pencarian Guru Hanyut dan Jenazah Remaja Ditemukan
Rahmadi June 02, 2026 08:01 AM

Pertama, Mahkamah Adat Alam Minangkabau (MAAM) resmi melaporkan Permadi Arya alias Abu Janda ke Polda Sumatera Barat, Senin (1/6/2026) sore. 

Laporan tersebut terkait pernyataan Abu Janda yang menyebut Sumatera Barat sebagai provinsi "barbar".

Kedua, Tim SAR gabungan masih terus melakukan pencarian  pria yang dilaporkan hanyut dan terseret arus sungai di Jorong Sinuek, Nagari Dusun Tangah, Kecamatan Sangir Batang Hari, Kabupaten Solok Selatan.

Korban diketahui bernama Sutrisno (58), warga Kecamatan Sangir Balai Janggo, Solok Selatan.

Ketiga, Tim SAR Gabungan menemukan Jasad Muhamad Sultan Khalis Gani (18) hanya berjarak 200 meter dari lokasi awal korban terseret ombak di Pantai Sunua Padang Pariaman, Senin (1/6/2026) pagi.

Petugas menemukan remaja tersebut dalam kondisi meninggal dunia setelah menyisir radius yang sangat dekat dari titik hilangnya korban.

Baca selengkapnya berikut ini:

1. Mahkamah Adat Alam Minangkabau Laporkan Abu Janda ke Polda Sumbar: Kami Melihat Tak Ada Itikad Baik

Mahkamah Adat Alam Minangkabau (MAAM) resmi melaporkan Permadi Arya alias Abu Janda ke Polda Sumatera Barat, Senin (1/6/2026) sore. 

Laporan tersebut terkait pernyataan Abu Janda yang menyebut Sumatera Barat sebagai provinsi "barbar".

Pelaporan dilakukan langsung oleh Ketua Mahkamah Adat Alam Minangkabau, Tengku Irwansyah Angku Datuak Katumanggungan, didampingi tim kuasa hukum yang dipimpin Mukti Ali.

Menariknya, para pemangku adat Minangkabau menyebut laporan ini bukan dilandasi kebencian terhadap Abu Janda, melainkan sebagai upaya menjaga marwah adat dan menegakkan hukum atas pernyataan yang dianggap telah melukai masyarakat Sumbar.

"Hari ini kita mendatangi SPKT Polda Sumbar untuk membuat laporan terhadap Permadi Arya alias Abu Janda. Pernyataan beliau yang menyebut masyarakat Sumbar barbar telah menimbulkan keresahan di tengah masyarakat," kata kuasa hukum pelapor Mukti Ali kepada wartawan di Mapolda Sumbar.

Baca juga: Hari Lahir Pancasila, Gubernur Sumbar Ingatkan Pentingnya Adab di Ruang Publik, Singgung Abu Janda

Gelombang Laporan di Berbagai Daerah

Menurut Mukti, laporan serupa sebelumnya juga telah diajukan oleh berbagai elemen masyarakat Minang di sejumlah daerah, termasuk oleh Ikatan Keluarga Minang (IKM) di Polda Metro Jaya.

"Teman-teman IKM sudah melaporkan dan sudah keluar laporan polisinya. Di Palembang, Pekanbaru, dan Aceh juga sudah ada laporan. Kami ingin ada kepastian hukum terkait pernyataan yang diduga menghina masyarakat Sumatera Barat," ujarnya.

Dalam laporan tersebut, pihak pelapor turut menyerahkan sejumlah barang bukti, di antaranya rekaman pernyataan Abu Janda yang disimpan dalam flashdisk, dokumen pendukung, hingga salinan laporan polisi dari daerah lain.

Klarifikasi Abu Janda Dinilai Pertegas Hinaan

Mukti menyebut pihaknya juga menyoroti klarifikasi Abu Janda setelah kasus itu ramai diperbincangkan. 

Menurutnya, Abu Janda tidak menunjukkan itikad untuk meminta maaf, melainkan justru mempertegas pandangannya terkait Sumatera Barat.

"Yang menjadi perhatian kami, setelah dilaporkan justru beliau memperkuat pernyataannya. Seolah-olah yang disampaikan itu adalah fakta. Padahal tidak bisa menggeneralisasi seluruh masyarakat Sumatera Barat dari peristiwa yang dilakukan segelintir oknum," katanya.

Baca juga: Gubernur Sumbar Dukung IKM Laporkan Abu Janda ke Polisi: Pernyataannya Memecah Belah!

Sementara itu, Ketua Mahkamah Adat Alam Minangkabau, Tengku Irwansyah Angku Datuak Katumanggungan, mengatakan pihaknya semula memilih menunggu perkembangan laporan yang diajukan DPP IKM ke Mabes Polri.

Namun sikap itu berubah setelah Abu Janda menyampaikan klarifikasi yang menurutnya justru memperkuat pernyataan sebelumnya.

"Awalnya kami diam dan memperhatikan perkembangan. Tetapi setelah keluar klarifikasi, kami melihat tidak ada itikad baik. Justru mempertegas apa yang telah diucapkannya," ujar Irwansyah.

Menjaga Marwah Masyarakat Beradat

Ia menilai penggunaan kata "barbar" sangat menyakitkan bagi masyarakat Minangkabau karena memiliki makna sebagai masyarakat yang primitif dan tidak berbudaya.

Padahal, kata Irwansyah, masyarakat Minangkabau dikenal memiliki sistem adat yang kuat dan diwariskan secara turun-temurun.

"Kami orang Minang adalah masyarakat yang beradat. Kami hidup dengan aturan adat yang jelas. Ketika dikatakan barbar, itu bukan sekadar candaan, tetapi bentuk cemoohan yang merendahkan identitas dan budaya kami," tegasnya.

Menurut Irwansyah, persoalan ini bukan semata-mata menyangkut perasaan masyarakat Sumbar, tetapi juga berkaitan dengan penegakan hukum.

Baca juga: Usut Kematian Bayi Alceo, MDP Kemenkes Juga Mintai Keterangan RS Hermina dan RSUP M Djamil

Karena itu, pihaknya meminta Kepolisian Republik Indonesia, khususnya Polda Sumbar, menindaklanjuti laporan tersebut secara profesional.

"Kami tidak membenci Abu Janda. Ini bukan persoalan pribadi. Tetapi Indonesia adalah negara hukum. Siapa pun harus tunduk pada hukum yang berlaku," katanya.

Imbau Masyarakat Tidak Main Hakim Sendiri

Ia juga mengimbau masyarakat Minangkabau di mana pun berada untuk menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada aparat kepolisian dan tidak melakukan tindakan di luar hukum.

"Kami meminta masyarakat tidak main hakim sendiri. Jika bertemu Abu Janda, serahkan kepada aparat penegak hukum. Biarkan proses hukum berjalan sebagaimana mestinya," ujarnya.

Mahkamah Adat Alam Minangkabau berharap laporan tersebut dapat diproses hingga tuntas sehingga memberikan kepastian hukum sekaligus menjadi pembelajaran agar tidak ada lagi pernyataan yang dinilai merendahkan identitas suatu daerah maupun kelompok masyarakat di Indonesia.

2. Memasuki Hari Ketiga, Pencarian Guru yang Hanyut Saat Pasang Pukek di Solok Selatan Masih Nihil

Tim SAR gabungan masih terus melakukan pencarian terhadap seorang pria yang dilaporkan hanyut dan terseret arus sungai di Jorong Sinuek, Nagari Dusun Tangah, Kecamatan Sangir Batang Hari, Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat.

Korban diketahui bernama Sutrisno (58), warga Kecamatan Sangir Balai Janggo, Solok Selatan.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Kelas A Padang, Abdul Malik, mengatakan operasi pencarian pada Senin (1/6/2026) memasuki hari ketiga sejak korban dilaporkan hilang.

"Tim SAR gabungan telah melaksanakan pencarian sesuai rencana operasi pada hari ketiga dengan membagi personel ke dalam dua Search and Rescue Unit (SRU). Namun hingga sore hari korban belum berhasil ditemukan," kata Abdul Malik melalui keterangan resminya.

Korban Hanyut Saat Memasang Pukat

PENCARIAN ORANG HANYUT- Petugas gabungan melakukan pencarian terhadap Sutrisno (58) yang hanyut terseret arus Sungai Batanghari, Kabupaten Solok Selatan, Minggu (31/5/2026).
PENCARIAN ORANG HANYUT- Petugas gabungan melakukan pencarian terhadap Sutrisno (58) yang hanyut terseret arus sungai di Kabupaten Solok Selatan, Minggu (31/5/2026). (Dokumentasi/Kantor SAR Padang)

Berdasarkan informasi yang diterima Kantor SAR Padang dari saksi bernama Jon, peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu (30/5/2026) sekitar pukul 17.59 WIB.

Saat itu, korban sedang memasang pukat di aliran sungai. Namun nahas, korban terseret arus sungai yang cukup deras.

Baca juga: Polisi Sita 10 Ton Biosolar Subsidi dalam Penggerebekan di Lubuk Kilangan, Kerugian Capai Rp100 Juta

Saksi sempat berusaha memberikan pertolongan kepada korban. Akan tetapi upaya tersebut tidak berhasil dan korban akhirnya hanyut terbawa arus.

Setelah kejadian, warga setempat melakukan penyisiran di sekitar lokasi. Namun korban belum ditemukan hingga laporan diterima pihak SAR.

Dua Tim Dikerahkan Menyisir Sungai

Abdul Malik menjelaskan, pada hari ketiga operasi, area pencarian difokuskan di sepanjang aliran sungai dengan radius sekitar 6 kilometer dari lokasi kejadian.

SRU 1 melakukan penyisiran di sekitar lokasi kejadian menggunakan perahu rafting.

Sementara itu, SRU 2 melakukan pencarian sepanjang sekitar 3 kilometer dari titik lokasi korban diduga hanyut menuju titik pencarian berikutnya menggunakan Landing Craft Rubber (LCR).

Baca juga: Usai Melapor ke Polisi, Mahkamah Adat Minangkabau Minta Abu Janda Disidang di Sumbar

"Operasi SAR hari ketiga dimulai pukul 07.30 WIB dan berakhir pukul 18.00 WIB. Hasil pencarian masih nihil dan akan dilanjutkan kembali pada Selasa (2/6/2026) pagi," ujarnya.

Arus Deras dan Tidak Ada Sinyal Jadi Kendala

Dalam operasi pencarian tersebut, tim SAR gabungan menggunakan sejumlah peralatan, di antaranya rescue carrier, perahu motor, perahu rafting, peralatan mountaineering, peralatan evakuasi, peralatan medis, peralatan komunikasi serta perlengkapan pendukung lainnya.

Tim gabungan yang terlibat terdiri dari personel TNI, Polri, BPBD, perangkat nagari, unsur kecamatan dan masyarakat setempat.

Abdul Malik menyebut terdapat sejumlah kendala selama pelaksanaan pencarian, yakni kondisi arus sungai yang deras serta minimnya jaringan komunikasi di lokasi.

"Faktor penghambat di lapangan adalah tidak adanya sinyal komunikasi dan kondisi arus sungai yang cukup deras. Meski demikian, pencarian akan terus dilanjutkan sesuai prosedur operasi SAR," katanya.

Saat operasi berlangsung, kondisi cuaca di lokasi dilaporkan cerah berawan.

Guru di Solok Selatan Hanyut Terseret Arus Sungai Batanghari

Nasib malang menimpa seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang berprofesi sebagai guru di Kabupaten Solok Selatan, Sumatra Barat.

Korban dilaporkan hanyut dan hilang terseret derasnya arus Sungai Batanghari. Peristiwa memilukan ini terjadi di kawasan Dusun Tangah, Kecamatan Sangir Balai Janggo, Kabupaten Solok Selatan.

Berdasarkan data yang dihimpun, identitas korban yang terseret arus tersebut diketahui bernama Sutrisno. Pria paruh baya ini merupakan warga setempat yang sehari-hari mengabdi sebagai seorang tenaga pendidik.

Baca juga: Mahkamah Adat Minangkabau: Menyebut Sumbar Barbar Sama Saja Mengatakan Kami Tak Beradat

Pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Solok Selatan membenarkan adanya laporan mengenai kondisi membahayakan manusia (KMM) di wilayah tugas mereka. Laporan tersebut langsung direspons cepat oleh petugas di lapangan.

Baca juga: Usai Degradasi, Semen Padang FC Target Langsung Promosi ke Liga 1 Musim Depan

Sekretaris BPBD Solok Selatan, Sonni Patrisia, mengonfirmasi kejadian tersebut saat dihubungi pada Minggu (31/5/2026).

Ia menyampaikan informasi awal terkait hilangnya salah seorang warga di aliran Sungai Batanghari.

"Memang benar ada warga kami yang dilaporkan hanyut di daerah Dusun Tangah. Berdasarkan laporan, korban awalnya pergi ke area sungai untuk memancing ikan," ujar Sonni Patrisia saat memberikan keterangan.

Sonni menjelaskan bahwa peristiwa naas itu bermula ketika korban hendak menyalurkan hobinya. Namun, situasi di lapangan berubah menjadi petaka dalam waktu yang sangat singkat.

Mengenai kronologi kejadian, peristiwa ini bermula ketika Sutrisno berniat untuk memasang pukek (alat penangkap ikan sejenis jaring) di salah satu sudut aliran Sungai Batanghari. Kegiatan ini dilakukan korban pada Sabtu sore.

Baca juga: Lonjakan Wisatawan Saat Long Weekend, Satpol PP Padang Perketat Pengawasan di Pantai

Nahas, saat sedang memasang jaring penangkap ikan tersebut, tubuh korban justru terseret dan hanyut hingga ke bagian tengah sungai. Kuatnya arus sungai membuat korban kesulitan untuk menyelamatkan diri ke tepi.

Melihat korban yang mulai tenggelam dan terseret arus, seorang saksi mata di lokasi kejadian yang diketahui bernama Jon langsung berupaya memberikan pertolongan.

Saksi mencoba menjangkau tubuh korban yang terus terbawa arus. Saksi sempat berusaha sekuat tenaga untuk menarik korban agar bisa kembali ke daratan.

Namun sayang, takdir berkata lain karena kondisi arus sungai pada saat itu terbilang cukup kuat dan berbahaya.

"Korban sempat ditolong oleh saksi bernama Jon. Akan tetapi, tubuh korban justru tertarik oleh pusaran arus yang deras hingga akhirnya hanyut dan hilang dari pandangan," urai Sonni.

Berdasarkan catatan waktu dari pihak berwenang, insiden kecelakaan air ini diperkirakan terjadi pada Sabtu (30/5/2026) sekitar pukul 17.59 WIB, tepat beberapa menit sebelum waktu magrib tiba.

Pihak BPBD Solok Selatan bersama tim SAR gabungan, relawan, dan masyarakat setempat langsung berkoordinasi untuk melakukan tindakan darurat.

Upaya penyisiran di sepanjang aliran Sungai Batanghari langsung dipersiapkan guna menemukan keberadaan guru PNS tersebut.

3. Jenazah Remaja Terseret Ombak Pantai Sunua Ditemukan 200 Meter dari Titik Hilang

Tim SAR Gabungan menemukan Jasad Muhamad Sultan Khalis Gani (18) hanya berjarak 200 meter dari lokasi awal korban terseret ombak di Pantai Sunua Padang Pariaman, Senin (1/6/2026) pagi.

Petugas menemukan remaja tersebut dalam kondisi meninggal dunia setelah menyisir radius yang sangat dekat dari titik hilangnya korban.

Penemuan korban terseret ombak di Pantai Sunua Padang Pariaman ini mengakhiri operasi pencarian yang berlangsung sejak Minggu (31/5/2026) malam.

Dantim Pencarian Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Padang, Reno Putra, mengatakan pencarian dilakukan berdasarkan hasil briefing dan pembagian area pencarian yang telah disusun sebelumnya.

"Sesusai briefing malam tadi, tim dibagi ke beberapa sektor pencarian. Sebagian tim bergerak ke arah utara dan sebagian lainnya ke arah selatan dari lokasi kejadian," kata Reno Putra.

Baca juga: Cuaca Mentawai Hari Ini Cerah Berawan, BMKG Prediksi Hujan Muncul Sore Hari

Menurutnya, korban akhirnya ditemukan oleh unsur SAR gabungan sekitar pukul 08.15 WIB.

"Hari ini korban berhasil ditemukan dalam kondisi meninggal dunia," ujarnya.

Reno menjelaskan, korban ditemukan menggunakan metode penyisiran dengan perahu karet cepat atau Landing Craft Rubber (LCR).

Lokasi penemuan berada tidak jauh dari titik korban pertama kali dilaporkan hilang.

"Jarak penemuan kurang lebih sekitar 200 meter dari lokasi awal korban terseret ombak," katanya.

Berdasarkan data Basarnas Padang, korban ditemukan sekitar 201 meter dari lokasi kejadian awal.

Setelah ditemukan, jenazah korban langsung dievakuasi oleh tim SAR gabungan dan dibawa ke rumah duka untuk diserahkan kepada pihak keluarga.

Baca juga: Remaja Terseret Ombak di Pantai Sunua Padang Pariaman Ditemukan Meninggal

EVAKUASI JENAZAH - Tim SAR Gabungan bersama relawan dan petugas PMI mengevakuasi jenazah Muhamad Sultan Khalis Gani (18) setelah ditemukan dalam operasi pencarian di Pantai Sunua, Kabupaten Padang Pariaman, Senin (1/6/2026). Korban sebelumnya dilaporkan hilang akibat terseret ombak saat mandi bersama teman-temannya di kawasan pantai tersebut.
EVAKUASI JENAZAH - Tim SAR Gabungan bersama relawan dan petugas PMI mengevakuasi jenazah Muhamad Sultan Khalis Gani (18) setelah ditemukan dalam operasi pencarian di Pantai Sunua, Kabupaten Padang Pariaman, Senin (1/6/2026). Korban sebelumnya dilaporkan hilang akibat terseret ombak saat mandi bersama teman-temannya di kawasan pantai tersebut. (TribunPadang.com/Basarnas)

Korban Mandi Bersama Teman Sebelum Terseret Ombak

Dari informasi yang diterima tim SAR, korban sebelumnya mandi bersama sejumlah rekannya di kawasan Pantai Sunua pada Minggu sore.

Sekitar pukul 18.15 WIB, dua orang remaja dilaporkan terseret ombak saat berada di tepi pantai.

"Informasi yang kami terima, korban mandi bersama teman-temannya di pantai," ujar Reno.

Satu korban bernama Rezki berhasil diselamatkan warga yang berada di sekitar lokasi. Namun Muhamad Sultan Khalis Gani hilang terseret arus sehingga dilakukan operasi pencarian oleh tim SAR gabungan.

Baca juga: Kronologi Remaja Terseret Ombak di Pantai Sunua Padang Pariaman: Satu Selamat, Satu Hilang

Operasi SAR Resmi Ditutup

Dalam operasi pencarian hari kedua, tim SAR membagi pencarian ke dalam tiga Search and Rescue Unit (SRU).

SRU pertama melakukan penyisiran ke arah utara menggunakan LCR, SRU kedua melakukan penyisiran sejauh empat mil laut dari titik lokasi kejadian, sedangkan SRU ketiga melakukan pemantauan dan pencarian di sepanjang garis pantai.

Setelah korban ditemukan dan dievakuasi, seluruh unsur SAR gabungan melaksanakan debriefing pada pukul 09.00 WIB.

Operasi SAR kemudian diusulkan untuk ditutup dan seluruh personel kembali ke satuan masing-masing.

Adapun unsur yang terlibat dalam pencarian antara lain Kantor SAR Padang, TNI, Polri, BPBD Kota Pariaman, BPBD Kabupaten Padang Pariaman, PMI, Gorila Rescue, serta masyarakat setempat.

Cuaca saat proses pencarian berlangsung dilaporkan dalam kondisi berawan. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.