Musim spektakuler Liga Champions UEFA lainnya telah berakhir, dan itu berarti saatnya untuk membagikan penghargaan akhir musim 2025/26.
Paris Saint-Germain berhasil mempertahankan gelar mereka setelah menang lewat adu penalti melawan Arsenal di final yang berlangsung di Budapest. Hasil ini membuat The Gunners harus menunggu setidaknya satu tahun lagi untuk meraih trofi kompetisi ini untuk pertama kalinya.
Saat PSG benar-benar membutuhkan sosok andalan musim ini, Khvicha Kvaratskhelia tampil luar biasa. Setelah klub Prancis itu tampil tidak konsisten di fase liga, winger asal Georgia tersebut bersinar di babak gugur.
'Kvaradona' tampil brilian melawan Bayern München di semifinal, dan meskipun Arsenal mampu meredamnya di sebagian besar laga final, ia tetap berperan penting dengan memenangkan penalti yang membawa pertandingan ke perpanjangan waktu.
Pemain berusia 25 tahun itu menutup musim dengan jumlah assist terbanyak bersama (6) dan total keterlibatan gol sebanyak 16.
Seorang bintang baru lahir musim ini. Lennart Karl menjadi sorotan untuk Bayern München setelah diberi kesempatan oleh Vincent Kompany.
Penyerang muda asal Jerman itu tampil percaya diri di Liga Champions meskipun usianya masih sangat muda, bahkan mencatatkan diri sebagai pemain termuda dalam sejarah kompetisi yang mampu mencetak gol dalam tiga laga berturut-turut pada usia 17 tahun.
Karl, yang berulang tahun ke-18 pada bulan Februari, menutup kompetisi Eropa dengan empat gol dan dua assist, serta menambah lima gol dan lima assist di Bundesliga. Masa depan pemain muda ini tampak sangat menjanjikan.
Di tengah semakin dominannya klub-klub besar Eropa di Liga Champions, perjalanan mengejutkan dari tim-tim kecil masih mampu menghadirkan kisah luar biasa.
Perjalanan Bodø/Glimt hingga babak 16 besar menjadi kisah paling menginspirasi musim ini. Klub asal Norwegia itu berasal dari kota kecil dengan populasi sekitar 53.000 orang di Lingkar Arktik, namun mampu tampil jauh di atas ekspektasi.
Mereka mencatat kejutan besar dengan menyingkirkan Manchester City dan Atletico Madrid untuk mengamankan tempat di babak play-off, di mana mereka kemudian menundukkan finalis musim lalu, Inter Milan. Jika kemenangan 3-1 di kandang bisa dianggap sedikit beruntung, kemenangan 2-1 mereka di San Siro memastikan bahwa hasil agregat tersebut sepenuhnya pantas diraih.
Inilah kisah yang benar-benar seperti mimpi bagi penggemar sepak bola.
Gol terbaik musim ini mungkin datang dari kombinasi sempurna: umpan lambung indah dari Harry Kane, kontrol bola luar biasa dari Luis Díaz, dan penyelesaian yang nyaris tanpa cela. Semua elemen itu berpadu menciptakan momen sepak bola jalanan di level tertinggi dunia.
Real Madrid mengalami musim penuh gejolak di luar lapangan, namun di atas lapangan, mereka tetap menampilkan permainan indah ketika para pemainnya fokus pada sepak bola.
Vinícius Júnior memberikan umpan luar biasa dengan sisi luar kakinya kepada Kylian Mbappé, yang kemudian menembus pertahanan Olympiacos dan menaklukkan kiper dengan penyelesaian rapi. Akurasi dan timing-nya sempurna.
Meski PSG tampil dominan, Bayern München menjadi tim paling menghibur di Liga Champions musim ini. Bahkan mereka memiliki dua pertandingan yang bisa dianggap sebagai laga terbaik kompetisi.
Pertarungan mereka melawan Real Madrid di perempat final berlangsung menegangkan, namun masih kalah seru dibanding duel klasik PSG kontra Bayern di semifinal.
Leg pertama menghasilkan sembilan gol, dengan kedua tim tampil tanpa kompromi selama lebih dari 70 menit. Sulit untuk mengalihkan pandangan ketika dua tim dengan lini serang terbaik saling berhadapan di Parc des Princes.
Pertandingan ini bisa dikenang sebagai salah satu duel terbesar dalam sejarah Liga Champions.
Kesalahan kiper sering kali berujung fatal, dan Antonín Kinský dari Tottenham Hotspur mengalami dua kesalahan besar saat melawan Atletico Madrid yang langsung berujung gol—dan itu terjadi pada debutnya di Liga Champions.
Sebuah terpeleset di menit kelima memberi Atletico gol pembuka, lalu sepuluh menit kemudian ia salah mengoper bola yang membuat Julián Álvarez dengan mudah mencetak gol ketiga bagi tim Spanyol tersebut.
Pelatih Igor Tudor tak punya pilihan selain menggantinya dengan Guglielmo Vicario untuk mengakhiri malam penuh mimpi buruk itu.
Beruntung bagi Kinský, ia mampu bangkit dari pengalaman tersebut dan berperan penting dalam upaya Tottenham bertahan di Liga Premier Inggris musim ini.