TRIBUNSORONG.COM, SORONG – Deru mesin perahu motor tempel memecah kesunyian pagi di Kompleks Rimba Pala, Bantaran Sungai Remu, Remu Selatan, Distrik Sorong Manoi, Kota Sorong, Papua Barat Daya, Sabtu (30/5/2026).
Di balik kemegahan gedung bertingkat Kota Sorong daerah yang kini berpenduduk 305.816 jiwa tersimpan kisah pilu seorang lansia bernama Elly Yadantrar.
Pria paruh baya asal suku Moi Klabra, Kabupaten Sorong, ini hidup serba kekurangan di sebuah gubuk berukuran 6x4 meter.
Baca juga: Kepala Daerah se-Papua Kompak Deklarasi Perang Lawan TBC dan Kawal Program Makan Bergizi
Rumah tersebut beralaskan tanah liat dan berdinding papan bekas yang ia pulung dari kawasan Pasar Remu.
Pada tahun 1957, Elly merantau dari Kampung Ndiwi, Distrik Klabot, Kabupaten Sorong, dan menetap di Kompleks Rimba Pala.
"Waktu pertama kali datang dari Ndiwi, saya dan keluarga menumpang di tanah milik orang lain di Kompleks Rimba," ujar Elly kepada TribunSorong.com.
Baca juga: Kisah Pilu Perjalanan 12 Jam Bupati Jayapura ke Kampung Omon: 1 Nyawa Melayang di Hutan Gresi
Sejak kecil, ia dan keluarganya menyambung hidup di rumah panggung sederhana yang dibangun orang tuanya.
Namun pada tahun 1996, mereka terpaksa pindah ke lokasi garapan warga yang ditempatinya saat ini, karena lahan rumah panggung terdahulu digusur untuk pembangunan bandara perintis.
Semasa muda, ayah lima anak ini bekerja sebagai pemulung sampah, buruh bangunan, hingga pekerja serabutan demi menghidupi keluarga.
"Bagi saya semua pekerjaan itu baik, asalkan halal dan bisa menghidupi anak-istri," katanya.
"Saya bangga, meski dulu penghasilan hanya Rp5.000 sampai Rp10.000 per hari, tapi rasanya puas."
Baca juga: Kisah Pilu Phiten: Balita Penderita 2 Penyakit Langka Butuh Uluran, Ayahnya Korban Tembak di Sorong
Kini, di usianya yang tak lagi muda, Elly mengaku kerap kecewa karena sering diberi harapan palsu.
Banyak pihak datang hanya untuk mengambil foto dan meminta dokumen seperti KTP serta Kartu Keluarga (KK), namun bantuan tak pernah kunjung datang.
"Sebagai masyarakat adat suku asli Moi, saya sedih melihat orang lain mendapat perhatian pemerintah, sementara kami tidak," ucapnya lirih.
Selain harus tinggal di gubuk beralaskan tanah, Elly juga kesulitan mengakses air bersih.
Baca juga: Kisah Pilu di Balik Gemerlapnya Kota Sorong Provinsi Papua Barat Daya
Saat warga lain bisa menikmati air bersih tanpa henti, Elly harus pasrah menadah air hujan atau mengharapkan belas kasihan tetangga.
Ia berharap pemerintah daerah bisa lebih jeli melihat kondisi masyarakat di akar rumput, agar warga miskin seperti dirinya bisa mendapatkan keadilan dan bantuan yang layak. (tribunsorong.com/safwan ashari)