Wakili UAJY di Kancah Asia, Regina Dewanti Ikuti Program Internasional AACM 2026
Hari Susmayanti June 02, 2026 12:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) lolos seleksi sebagai salah satu peserta pada program Asian Academy for Campus Ministry (AACM) 2026 yang diselenggarakan oleh United Board for Christian Higher Education in Asia pada 3–10 Mei 2026 di Payap University, Chiang Mai, Thailand.

Wakil UAJY yang akan tampil di program internasional tersebut adalah Regina Dewanti Pramudita, S.E., dari Unit Campus Ministry UAJY.

Kegiatan ini diikuti oleh 25 peserta dari 11 negara di Asia, yaitu Indonesia, Sri Lanka, India, Filipina, Thailand, Hongkong, Pakistan, Timor Leste, Bangladesh, Korea Selatan dan Taiwan.

Selain UAJY, dua perguruan tinggi swasta berbasis Kristiani dari Indonesia turut berpartisipasi, yaitu Universitas Kristen Duta Wacana dan Universitas Kristen Petra. 

Melalui tema “Mental Health, Spiritual Development, and Ministry as a Calling”, para peserta diharapkan dapat memahami keterkaitan antara kesehatan mental dan pengembangan spiritual dalam pelayanan di lingkungan kampus. 

Baca juga: UAJY Bersama Pemkab Sleman Perkiat Akses Pendidikan Lewat Beasiswa Sleman Pintar

Bagi Regina, salah satu refleksi utama dari kegiatan ini adalah perlunya menghayati pekerjaan sebagai sebuah panggilan.

Selama delapan hari pelaksanaan kegiatan, Regina paling terkesan dengan materi “Ministry as a Calling”.

Peserta diajak untuk merefleksikan, bahwa sebagai pekerja, kita tidak hanya fokus untuk menjalankan program, tetapi juga perlu untuk hadir secara penuh, mendengarkan, dan berjalan bersama mahasiswa yang didampingi.

“Materi yang menarik bagi saya adalah Ministry as a Calling, maksudnya adalah kita benar-benar melaksanakan pekerjaan sebagai sebuah panggilan jadi bukan karena tuntutan,” ujarnya. 

Regina juga merasa bahwa kegiatan ini sangat berharga dan menambah pengalaman baginya, karena ia dapat mengetahui bagaimana pendekatan perguruan tinggi dari belahan dunia lain dalam menangani kesehatan mental di lingkungan kampus.

Hal ini dikarenakan terdapat berbagai macam penyebab kesehatan mental yang terjadi di berbagai negara, misalnya pada negara Sri Lanka yang angka kekerasan perempuannya masih tinggi.

Oleh karena itu, diskusi ini menjadi penting karena membuka pemahaman bahwa isu kesehatan mental tidak hanya dapat ditangani secara seragam, tetapi harus menyesuaikan konteks sosial dan budaya masing-masing. 

Selain itu, Regina juga menyebut bahwa stigma negatif masyarakat pada kesehatan mental menjadi salah satu tantangan utama.

Perlu upaya yang lebih untuk membangun kesadaran bahwa kesehatan mental dan spiritual merupakan kebutuhan yang krusial, kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan jasmani. 

“Lebih ke bagaimana membangun kesadaran, karena stigma di masyarakat tentang seseorang yang pergi ke psikolog itu terlalu jelek. Ada stereotip ‘ah kamu pasti gila’. Walaupun sebetulnya, isu kesehatan mental telah ada sejak zaman dahulu, namun perhatian dan kesadaran masyarakat terhadap hal itu baru berkembang lebih luas pada masa kini,” ungkapnya.

Oleh karena itu, Campus Ministry UAJY berkomitmen untuk terus membangun kesadaran mengenai pentingnya kesehatan mental dan spiritual, salah satunya dengan melaksanakan program yang dibutuhkan oleh mahasiswa.

Regina juga menyampaikan apresiasinya terhadap UAJY yang memberikan dukungan penuh, baik secara material maupun moral.

Ia berhadap, kedepannya, sivitas akademika UAJY tidak hanya unggul secara akademik, melainkan juga semakin saling menghargai antar sesama manusia.

“Harapannya tidak hanya unggul secara akademik, tapi juga peka terhadap kesehatan mental dan pengembangan spiritualitas. Lebih peka terhadap lingkungan sekitar yang membutuhkan sapaan secara hangat,” tutupnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.