BPS: Inflasi Indonesia Mei 2026 Mencapai 3,08 Persen, Harga Pangan Jadi Pemicu Utama
Seno Tri Sulistiyono June 02, 2026 01:38 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi Indonesia pada Mei 2026 mencapai 3,08 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Pudji Ismartini menjelaskan, kenaikan tersebut tercermin dari Indeks Harga Konsumen (IHK) yang meningkat dari 108,07 pada Mei 2025 menjadi 111,40 pada Mei 2026.

"Secara tahun ke tahun atau yoy terjadi inflasi sebesar 3,08 persen dan secara tahun kalender atau yoy terjadi inflasi sebesar 1,35 persen," tutur Pudji.

Baca juga: Kemendagri Apresiasi Kinerja Pemda di Sulawesi, Pengendalian Inflasi hingga Stunting Jadi Sorotan

Inflasi tahunan terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 4,94 persen dengan andil terhadap inflasi nasional sebesar 1,43 persen.

Komoditas dengan andil inflasi terbesar pada kelompok makanan, minuman dan tembakau ini adalah ikan segar beras daging ayam ras minyak goreng, cabai rawit sigaret keretek mesin dan cabai merah

Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mencatat inflasi tinggi, yakni 10,35 persen, dengan kontribusi sebesar 0,70 persen terhadap inflasi tahunan. Kenaikan harga pada kelompok ini terutama dipengaruhi oleh emas perhiasan.

Berdasarkan komponen pembentuk inflasi, seluruh komponen mengalami kenaikan harga secara tahunan.
Komponen inflasi inti tercatat sebesar 2,59 persen dan menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi nasional dengan andil 1,66 persen.

Komoditas yang dominan mendorong inflasi inti antara lain emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, biaya kuliah perguruan tinggi, sewa rumah, dan sewa mobil.

Sementara itu, komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices) mengalami inflasi sebesar 2,07 persen dengan andil 0,40 persen.

"Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada komponen harga diatur pemerintah ini adalah tarif angkutan udara, sigaret keretek mesin, bahan bakar rumah tangga, sigaret keretek tangan dan sigaret putih mesin," tegas dia.

Adapun komponen harga bergejolak (volatile food) mengalami inflasi sebesar 6,24 persen dengan kontribusi 1,02 persen terhadap inflasi nasional.

Komoditas yang menjadi pendorong utama pada kelompok ini antara lain beras, daging ayam ras, cabai rawit, cabai merah, bawang merah, dan daging sapi.

Inflasi bulanan

Secara bulanan (month-to-month/mtm), Indonesia mengalami inflasi sebesar 0,28 persen pada Mei 2026. IHK naik dari 111,09 pada April 2026 menjadi 111,40 pada Mei 2026.

Sementara itu, inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) sejak Januari hingga Mei 2026 tercatat sebesar 1,35 persen.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau kembali menjadi penyumbang inflasi bulanan terbesar dengan inflasi 0,39 persen dan andil 0,12 persen.

Pudji menyebut, komoditas yang paling besar mendorong inflasi bulanan pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau adalah cabai merah dengan andil inflasi sebesar 0,08 persen, kemudian minyak goreng dan bawang merah dengan andil inflasi masing-masing sebesar 0,04 persen, t dengan andil inflasi sebesar 0,03 persen dan beras dengan andil inflasi sebesar 0,02 persen.

"Komoditas lain yang juga memberikan andil inflasi adalah bahan bakar rumah tangga dengan andil inflasi sebesar 0,03 persen, kemudian bensin dan tarif angkutan udara dengan anggil inflasi masing-masing sebesar 0,02 persen," papar dia.

Di tengah kenaikan harga berbagai komoditas, beberapa barang masih memberikan andil deflasi atau menahan laju inflasi pada Mei 2026.

Komoditas tersebut antara lain daging ayam ras andil deflasi 0,06 persen, emas perhiasan andil deflasi 0,06 persen dan telur ayam ras andil deflasi 0,05 persen.
 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.