TRIBUNMADURA.COM – Pondok Pesantren Al Falah Ploso Kediri, Jawa Timur, dikenal sebagai salah satu pesantren salaf tertua dan paling berpengaruh di wilayah Kediri Raya, Senin (1/6/2026).
Pesantren ini didirikan oleh KH Ahmad Djazuli Utsman pada 1 Januari 1925 di Desa Ploso, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri.
Pada masa awal berdirinya, proses pembelajaran berlangsung sangat sederhana.
Kegiatan ngaji dan pengajian kitab dilaksanakan di serambi masjid dengan jumlah santri yang masih terbatas.
Namun, semangat keilmuan yang dibangun sejak awal menjadi fondasi kuat bagi perkembangan pesantren di kemudian hari.
Seiring berjalannya waktu, Pondok Pesantren Al Falah Ploso mengalami perkembangan pesat.
Dari yang awalnya hanya puluhan santri, jumlahnya terus meningkat hingga mencapai ratusan santri pada masa awal pertumbuhan.
Pendirian madrasah juga menjadi tonggak penting dalam sejarah pesantren ini.
KH Djazuli Utsman tidak hanya berfokus pada pengajian tradisional, tetapi juga mulai mengembangkan sistem pendidikan yang lebih terstruktur dengan menyesuaikan kebutuhan zaman, meski tetap mempertahankan karakter salafiyah.
Baca juga: Mengenal Pondok Pesantren Jhegeteh Bondowoso, Berdiri sejak 1769 dan Simpan Beduk Berusia 2,5 Abad
Sistem pendidikan di Al Falah Ploso banyak terinspirasi dari Pondok Tebuireng Jombang, yang pernah menjadi tempat menimba ilmu KH Djazuli Utsman.
Pola ini kemudian menjadi ciri khas yang tetap dipertahankan hingga kini, menjadikan Al Falah sebagai salah satu pesantren yang konsisten menjaga tradisi keilmuan Islam klasik.
Pada awal pendiriannya, pesantren ini tidak serta-merta diterima oleh seluruh masyarakat sekitar.
Bahkan, dalam beberapa catatan sejarah, masyarakat setempat yang saat itu masih banyak berpegang pada tradisi abangan sempat merespons negatif keberadaan pesantren.
Namun demikian, hal tersebut tidak menghalangi perkembangan Al Falah Ploso.
Justru dari tantangan tersebut, pesantren semakin berkembang dan mendapatkan dukungan dari para dermawan serta santri dari berbagai daerah di Jawa Timur.
Baca juga: Daftar Pondok Pesantren di Madura, Ponpes Syaichona Moh Cholil Bangkalan hingga Al-Amien Prenduan
Dilansir dari laman resminya, Pondok Pesantren Al Falah Ploso Kediri dikenal sebagai pusat kajian kitab kuning yang cukup berpengaruh di Jawa Timur.
Metode pengajaran kitab klasik seperti Fathul Qorib, Fathul Mu’in, hingga Fathul Wahab menjadi bagian penting dalam kurikulum pendidikan pesantren.
Selain itu, pesantren ini juga dikenal dalam kajian ilmu falak atau astronomi Islam, khususnya dalam penentuan kalender Hijriah.
Meski keputusan terkait kalender falakiyah kerap menjadi perhatian publik, pihak pesantren menegaskan bahwa hal tersebut digunakan sebagai pedoman internal bagi komunitas dan para alumninya.
Baca juga: Sejarah Ponpes Banyuanyar, Dari Sumber Air Baru hingga Jadi Pusat Pendidikan Islam di Madura
Pada tahun 2025, Pondok Pesantren Al Falah Ploso genap berusia 100 tahun.
Usia satu abad ini menjadi bukti eksistensi dan keteguhan pesantren dalam menjaga tradisi pendidikan Islam salafiyah di tengah perkembangan zaman.
Pesantren ini tetap bertahan dengan sistem kepemimpinan tradisional yang tersentral pada figur kiai, yang hingga kini dilanjutkan oleh KH Zainuddin Djazuli dan para dzurriyah keluarga pesantren.
Selain pondok induk, Al Falah Ploso juga memiliki berbagai unit dan cabang pendidikan seperti Al Falah II, Al Falah Putri, Nurul Falah, Queen Al Falah, hingga lembaga pendidikan Alquran seperti PPTQ Al Falah dan Manhajul Quran.
Keberadaan jaringan ini menunjukkan bahwa Al Falah tidak hanya berkembang sebagai pesantren lokal, tetapi juga sebagai lembaga pendidikan Islam yang memiliki pengaruh luas hingga tingkat nasional, bahkan internasional melalui para alumninya.
Pondok Pesantren Al Falah Ploso Kediri telah membuktikan dirinya sebagai salah satu pusat pendidikan Islam yang konsisten menjaga tradisi salafiyah selama satu abad.
Dengan sejarah panjang, sistem pendidikan yang kuat, serta kontribusi besar terhadap keilmuan Islam, pesantren ini terus menjadi rujukan penting dalam dunia pendidikan pesantren di Indonesia.