Laporan Reporter Tribun Jogja, Christi Mahatma Wardhani
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN Sunan Kalijaga memasang spanduk penolakan kampus menjadi dapur Makan Bergizi Gratis (MBG), Senin (1/6/2026) malam.
Spanduk yang dipasang di gerbang pintu masuk UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sisi utara tersebut tidak berumur panjang.
Pasalnya tak berselang lama dipasang, spanduk tersebut kemudian dicopot.
Presiden Mahasiswa DEMA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Muhammad Diaz Habibie Rahman, mengatakan pemasangan spanduk tersebut dilakukan karena ada informasi Badan Gizi Nasional (BGN) mengadakan pertemuan tertutup dengan kampus dan perwakilan mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
"Sekitar dua mingu lalu ada informasi kampus kalau Juni 2026, BGN bakal datang ke UIN mengadakan seminar atau diskusi publik terkait MBG. Pesertanya sekitar 300 orang, 70 persen mahasiswa. Saya diminta menyiapkan sekitar 100 orang (mahasiswa) yang berani speak up soal penolakan MBG," katanya saat dihubungi, Selasa (2/6/2026).
"Tapi ternyata kami dapat kabar BGN udah datang duluan secara tertutup, bersama birokrasi dan beberapa perwakilan mahasiswa. Perwakilan bukan dari DEMA UIN, makanya kami menyayangkan. Ini bukti kalau pengambilan keputusan yang ada di kampus ini tidak partisipatif, tidak inklusif. Padahal mahasiswa merupakan stakeholder juga di kampus dan lembaga resmi yang menjadi representasi mahasiswa di kampus," sambungnya.
Melihat maraknya kampus yang ditawari menjadi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), ia menduga kedatangan BGN ke UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta akan menawarkan hal yang sama.
Baca juga: Analisis Terbaru Tim Peneliti UGM soal Teka-teki Kemunculan Api di Rumah Warga Seyegan Sleman
Hingga saat inipun kampus belum secara tegas menentukan sikap terhadap MBG.
Untuk itu, DEMA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menolak kampus mengelola MBG.
Alasannya, perguruan tinggi merupakan tempat mematangkan pikiran, bukan makanan.
Di samping itu, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dipandang tidak memiliki relevansi dengan MBG.
Apalagi tidak ada program studi yang berkaitan langsung dengan pengelolaan dapur MBG.
"Kampus tidak sepatutnya menjadi dapur MBG. Kami menilai prasarana dan sumber daya yang ada di UIN ini belum memenuhi kapasitas untuk menerima sebagai mitra MBG," ujarnya.
Menurut dia, kampus tidak bisa terlibat secara langsung dalam mengelola SPPG.
Alih-alih menjadi dapur MBG, kampus dapat mendukung MBG melalui riset guna perbaikan program. (*)