Pameran Bulan Bung Karno di Museum Multatuli, Hasto PDIP Kritisi Gejala Kolonialisme Baru di Politik
Muhammad Zulfikar June 02, 2026 03:38 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menyusul upacara peringatan Hari Lahir Pancasila, DPP PDI Perjuangan melanjutkan rangkaian agenda Bulan Bung Karno 2026 dengan menggelar pameran foto, surat bersejarah, dan komik Bung Karno.

Kegiatan yang mengusung tema ‘Bung Karno Milik Kita Semua!’ ini diselenggarakan di halaman Patung Multatuli, Saidjah, dan Adinda, Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, pada Selasa (2/6/2026).

Baca juga: Gus Ipul Pimpin Upacara Kelahiran Pancasila Dari Tempat Bung Karno Diasingkan

Pameran ilmiah dan historis ini dihadiri langsung oleh Sekretaris Jenderal DPP PDIP Hasto Kristiyanto, Ketua DPP PDIP Ribka Tjiptaning, Kepala Badan Sejarah PDIP Bonnie Triyana, serta jajaran pengurus DPD PDIP Banten yang dipimpin oleh Ade Sumardi dan Wanto Sugito.

Kedatangan rombongan disambut oleh kesenian tradisional Angklung Buhun dari Sanggar Lebak Membara.

Baca juga: Filosofis Lagu ‘Bung Karno Bapak Marhaenisme’, Hasto: Pelurusan Sejarah & Spirit Pembebasan Rakyat

Ketua Panitia Pelaksana yang juga Anggota Komisi X DPR RI, Bonnie Triyana, melaporkan bahwa peringatan Bulan Bung Karno ini akan berlangsung sebulan penuh, terhitung mulai tanggal 1 hingga 30 Juni 2026.

Dalam sambutan pembukaannya di bawah terik matahari Rangkasbitung, Hasto Kristiyanto mengajak ratusan peserta yang didominasi oleh mahasiswa untuk meneladani kegigihan para pendiri bangsa dalam menghadapi penderitaan demi memperjuangkan kebenaran.

Hasto menegaskan bahwa Pancasila pada hakikatnya bukan sekadar konsep ideologi statis, melainkan sebuah instruksi untuk merombak tatanan dunia baru yang adil.

"Pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945 adalah gugatan terhadap imperialisme dan kolonialisme yang bekerja ratusan tahun di Indonesia," kata Hasto Kristiyanto.

Ia juga mengaitkannya dengan warisan pemikiran Eduard Douwes Dekker alias Multatuli melalui novel Max Havelaar (1860), yang berhasil mengguncang publik kolonial Belanda hingga melahirkan kebijakan politik etis di Nusantara.

Lebih lanjut, Hasto melontarkan kritik terhadap kondisi iklim demokrasi prosedural saat ini yang dinilainya mulai menunjukkan gejala pembungkaman kebebasan sipil.

"Ketika ada pihak mana pun yang mencoba menghancurkan kebebasan kita untuk membela kepentingan rakyat, itu adalah tanda-tanda hadirnya kolonialisme baru dalam sistem sosial-politik kita," tegasnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Lebak, Amir Hamzah, menyampaikan sambutan hangat yang sarat akan pesan moral dan pelestarian adat.

Amir menyebut bahwa Rangkasbitung merupakan tempat bersejarah di mana Multatuli menorehkan pena emasnya guna melawan penindasan yang dialami oleh rakyat Lebak pada masa kolonial.

Ia mengaitkan Multatuli, Bung Karno, dan masyarakat adat Baduy sebagai tiga pilar keteladanan kemanusiaan.

"Multatuli berjuang melalui pena, Bung Karno melalui pidato, tujuannya sama: menegakkan keadilan bagi mereka yang lemah," tutur Amir Hamzah.

Baca juga: Bonnie Triyana: Ajaran Bung Karno Masih Relevan Hadapi Geopolitik Modern

Ia secara khusus menggarisbawahi kehidupan masyarakat adat Baduy yang dinilainya sebagai cerminan nyata dari nilai-nilai luhur Pancasila dalam keseharian.

"Masyarakat Baduy menjalankan Pancasila dalam laku hidup setiap hari. Jujur pada alam, jujur pada janji, jujur pada sesama. Baduy adalah Pancasila yang hidup," tegas Wakil Bupati Lebak tersebut.

Acara puncak peresmian pameran ini ditandai secara simbolis dengan pembunyian instrumen musik tradisional celempung oleh jajaran DPP PDIP bersama perwakilan pemerintah daerah, yang dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng serta peninjauan ruang pameran di Pendopo Museum Multatuli.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.