Arsenal kini dianggap mencerminkan era kapitalisme akhir zaman. Dalam kotak surat penggemar, kritik dan pembelaan terhadap klub terus berdatangan, dengan banyak yang menuding adanya bias dalam pandangan terhadap The Gunners.
Beberapa penulis surat berpendapat bahwa Arsenal bermain dengan mentalitas perusahaan publik yang hanya berfokus pada hasil akhir — kemenangan dan efisiensi — tanpa memperhatikan nilai estetika permainan. Kritik diarahkan pada perilaku pemain yang dianggap kerap membuang waktu, melakukan pelanggaran kecil, hingga berpura-pura cedera demi keuntungan taktis. Salah satu pengirim surat bahkan menyoroti fakta bahwa Bukayo Saka hanya berhasil mencatat empat umpan sukses dalam final Liga Champions, menyebutnya sebagai bukti menurunnya kualitas hiburan dalam permainan Arsenal.
Bagi sebagian fans dan Mikel Arteta, hasil akhir dianggap membenarkan segala cara. Namun, banyak yang menilai bahwa pendekatan seperti itu berkontribusi pada menurunnya kualitas tontonan sepak bola. Ryan dari Bermuda menulis bahwa sepak bola seharusnya menyeimbangkan kemenangan dan hiburan, bukan sekadar efisiensi.
Penulis lain, Rich, membela Arsenal dengan mengatakan bahwa juara selalu dibenci dan bahwa tekanan yang dialami tim Arteta musim ini merupakan yang terbesar dalam sejarah Premier League. Namun, tanggapan balik datang dari berbagai pendukung klub lain yang menyebut Arteta sebagai manajer yang kerap mencari alasan atas kegagalan, mulai dari menyalahkan kondisi lapangan hingga arah angin. Mereka menilai perilaku Arteta dan sebagian fans Arsenal telah membuat banyak orang kehilangan rasa hormat pada klub.
Chris dari Washington DC menulis bahwa meski Eddie Howe belum membawa Newcastle sebanyak kemenangan yang diharapkan, setidaknya ia tidak pernah mempermalukan klub di depan publik seperti yang dilakukan Arteta. Ia juga menyinggung mentalitas sebagian fans Arsenal yang dinilai enggan mengakui kesalahan tim sendiri, terutama soal pelanggaran dan drama di atas lapangan.
Beberapa penggemar menyoroti bahwa gaya bermain Arsenal di bawah Arteta lebih mengedepankan kehati-hatian dan efisiensi ketimbang kreativitas. Meski demikian, data menunjukkan bahwa Arsenal bukanlah tim bertahan total seperti klaim para pengkritik. Statistik xG mereka mencapai 1,70 per pertandingan, hanya terpaut 0,13 dari Manchester City yang memimpin liga. Dalam hal pertahanan, Arsenal mencatat xGA 0,95 — terbaik di liga — sementara City di posisi kedua dengan 1,11.
Arsenal juga memiliki catatan PPDA (jumlah umpan lawan sebelum melakukan aksi bertahan) sebesar 10,8, ketiga terbaik di Premier League. Artinya, mereka tetap menerapkan tekanan tinggi dengan efektif. Dalam hal penguasaan bola, Arsenal mencatat rata-rata 56,4%, hanya sedikit di bawah City dengan 60%. Mereka juga mencatat proporsi umpan ke depan yang lebih tinggi (31,2%) dibanding City (26,2%), menunjukkan bahwa tim Arteta lebih langsung dalam menyerang.
Dari sisi disiplin, Arsenal termasuk yang paling bersih di liga dengan hanya 391 pelanggaran sepanjang musim, 51 kartu kuning, dan tanpa kartu merah. Sebagai perbandingan, Chelsea mencatat 98 kartu kuning dan 8 kartu merah, sementara Tottenham memiliki 101 kuning dan 4 merah.
Tuduhan soal pemborosan waktu juga dianggap tidak berdasar. Rata-rata waktu bola bermain dalam pertandingan Arsenal mencapai hampir 57 menit, menempatkan mereka di posisi ketiga tertinggi di liga — di bawah Liverpool dan City. Menariknya, Bournemouth yang sering disebut tampil atraktif justru berada di posisi terbawah dengan rata-rata 52 menit 56 detik.
Penulis lain mencatat bahwa Arsenal sebenarnya merupakan tim yang seimbang. Mereka bertahan dengan baik, menyerang efisien, namun kehilangan sedikit kreativitas di lini depan karena cedera pemain kunci seperti Martin Ødegaard, Bukayo Saka, dan Kai Havertz. Saat ketiganya bermain bersama, Arsenal mencatat rata-rata 2,3 poin per pertandingan — setara dengan musim 90+ poin. Tanpa mereka, angka itu turun menjadi 1,6 poin.
Beberapa fans juga mengakui bahwa Paris Saint-Germain (PSG) memang tampil luar biasa di final Liga Champions, dan kekalahan Arsenal tidak bisa dilepaskan dari keunggulan taktik Luis Enrique. Rob A menulis bahwa PSG terlalu solid di lini tengah dan fleksibel dalam pergerakan, membuat Arsenal sulit keluar dari tekanan. Ia menilai Arsenal perlu menambah daya serang musim depan agar bisa bersaing di level Eropa, meski lini pertahanan mereka sudah termasuk terbaik di Eropa.
Bagi sebagian pendukung, kemenangan liga dan pencapaian di Eropa tetap menjadi alasan kebanggaan. Mereka menilai kritik dari luar sebagai bentuk kecemburuan. Namun, beberapa pengamat netral berpendapat bahwa gaya bermain Arsenal, meski efektif, belum memberikan hiburan yang diharapkan publik.
Joshua Colemanpecha menegaskan bahwa Arsenal bukan tim defensif yang membosankan, melainkan tim yang efisien dan disiplin. Ia menambahkan bahwa jika para penggemar ingin melihat pertandingan yang lebih seru, maka tim-tim lain di Premier League harus berhenti bertahan dalam blok rendah sepanjang 100 menit pertandingan.
Kesimpulannya, Arsenal memang bukan tim paling menghibur di liga, tetapi juga jauh dari tudingan sebagai tim paling membosankan. Mereka adalah juara yang memainkan sepak bola modern dengan keseimbangan antara pertahanan, tekanan tinggi, dan efektivitas. Bagi para pengkritik yang menilai permainan Arsenal "membosankan", sebagian fans hanya punya satu respons: sepak bola bukan hanya tentang hiburan, tetapi juga tentang kemenangan.