Laporan Wartawan TribunSolo.com, Mardon Widiyanto
TRIBUNSOLO.COM, KARANGANYAR - Sri Wijiningsih (61), awalnya tak memberi tahu kepada anak-anaknya terkait dirinya mengikuti program haji plus yang ternyata belakangan diketahui adalah penipuan.
Warga Perum Klodran Indah, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar, itu berniat memberi kejutan kepada keluarga dengan berangkat haji.
Tapi niatan itu justru berujung petaka setelah dirinya menjadi korban penipuan berkedok perjalanan haji.
Uang lebih dari Rp 104 juta yang telah ia setorkan kini raib, sementara keberangkatan ke Tanah Suci gagal total.
Sri mengaku awalnya ditawari program haji plus oleh seorang perempuan berinisial DF, warga Kecamatan Banjarsari, Kota Solo, pada Desember 2024.
Baca juga: Lima Jemaah Embarkasi Solo Berpulang di Tanah Suci, Wafat Sebelum Puncak Haji
Program itu disebut memiliki biaya lebih terjangkau dan proses keberangkatan lebih cepat tanpa antre panjang.
Karena ingin memberi kejutan kepada anak-anaknya, Sri memilih menyimpan rencana tersebut sendiri.
Minimnya pemahaman soal prosedur haji membuat ia percaya begitu saja terhadap tawaran tersebut.
“Saat itu, saya ditawari haji plus, saya terima tawaran itu dengan sengaja tidak memberi tahu anak-anaknya tentang rencana itu dan memberikan kejutan ketika jadwal keberangkatan semakin dekat dan namanya orang tua, jadi tidak terlalu paham soal begituan," kata Sri Wijiningsih, Selasa (2/6/2026).
Untuk memenuhi biaya keberangkatan, Sri menggunakan uang dari berbagai sumber.
Mulai dari santunan kematian, dana Asabri, hingga gaji peninggalan almarhum suaminya. Ia bahkan hidup hemat selama setahun agar tabungannya tetap utuh.
Pembayaran dilakukan secara bertahap sejak Desember 2024.
Total ada 14 kali transfer yang dilakukan hingga dinyatakan lunas pada Mei 2025 dengan nilai mencapai Rp 104.300.000.
“Saya dulu yakin tahun itu bisa benar-benar berangkat haji, namun ternyata saya tidak bisa berangkat," ungkap dia.
“Kalau bagi orang lain mungkin biasa, tapi buat saya itu besar sekali,” lanjut Sri.
Kepercayaan Sri kepada DF juga tumbuh karena sebelumnya masih satu jaringan biro perjalanan umrah yang pernah dikenalnya semasa sang suami hidup.
Menurutnya, DF dikenal ramah dan pandai meyakinkan calon jamaah.
“Ngomongnya alus sekali. Pintar membuat orang percaya,” kata dia.
Seiring mendekati jadwal keberangkatan, Sri sempat menerima seragam haji dan mulai menyiapkan berbagai perlengkapan. Hal itu membuatnya semakin yakin bahwa keberangkatan tinggal menghitung hari.
Baca juga: Ini Besaran Nominal Santunan Jemaah Haji Embarkasi Solo yang Meninggal, Ahli Waris Dapat Rp53 Juta
Namun kecurigaan mulai muncul ketika paspor, visa, dan tiket pesawat yang dijanjikan tak kunjung diberikan. Setiap kali ditanyakan, jawaban yang diterima selalu berubah-ubah.
“Katanya visa belum keluar, masih proses, alasannya macam-macam,” katanya.
Rasa cemas Sri semakin menjadi setelah mendengar cerita calon jamaah lain yang mengalami masalah serupa. Saat itulah ia mulai menyadari keberangkatannya kemungkinan gagal.
“Waktu itu saya mulai takut, dan benar saya gagal berangkat haji," ungkap dia.
Sri kemudian berusaha meminta pertanggungjawaban dan pengembalian dana kepada DF. Namun dari total uang yang telah disetorkan, ia mengaku baru menerima pengembalian sekitar Rp 1,3 juta.
"Saya coba minta uang saya kembali, namun susah sekali, hingga berbulan-bulan saya minta, tetapi dia bilang uang saya hangus. Saya syok, karena paspor tidak ada, visa tidak ada, tiket juga tidak dibelikan,” ungkap dia.
Awalnya Sri mengaku tidak ingin membawa persoalan tersebut ke ranah hukum. Namun karena upaya mediasi dan penyelesaian kekeluargaan tak membuahkan hasil, ia akhirnya melapor ke Polresta Solo.
“Sebagai orang tua saya capek harus bolak-balik mengurus laporan, tapi saya bingung harus bagaimana lagi,” tuturnya.
Baca juga: Jadwal Kepulangan Jemaah Haji Embarkasi Solo, Kloter Pertama Mendarat Besok Malam
Meski kecewa berat, Sri mengaku tidak menyimpan dendam pribadi kepada terlapor. Ia justru berharap pengalamannya bisa menjadi pelajaran agar tidak ada korban lain, terutama lansia yang minim pemahaman soal prosedur haji.
“Saya sebenarnya sudah memaafkan. Tapi saya kasihan kalau ada orang lain yang tabungannya habis seperti saya,” katanya.
“Kalau Allah mengizinkan, saya masih ingin ke sana,” pungkas dia.