Laporan Wartawan TribunSolo.com, Tri Widodo
TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI – Serangan kera liar yang semakin masif di wilayah Solo Raya kini menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Bahkan, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyebut kondisi tersebut sebagai situasi darurat setelah ribuan hektare lahan pertanian dilaporkan rusak akibat kawanan kera yang turun ke permukiman warga.
Persoalan itu mencuat dalam Rembug Pembangunan Jawa Tengah 2026 yang digelar di Pendopo Ageng Kabupaten Boyolali, Selasa (2/6/2026).
Baca juga: KESAKSIAN Pemilik Kera yang Lepas dan Serang Bocah di Boyolali, Terjadi saat Ditinggal Mandi
Sejumlah kepala daerah di Solo Raya kompak mengeluhkan dampak serangan kera yang semakin sulit dikendalikan.
Bupati Boyolali, Agus Irawan, mengatakan fenomena tersebut bermula pascaerupsi Gunung Merapi tahun 2010.
Saat itu, kawanan kera turun dari habitat pegunungan dan menetap di kawasan pertanian warga.
“Jadi sejarahnya pas erupsi Gunung Merapi 2010 keranya turun hingga berkembang biak di bawah karena banyak makanan di situ. Petani banyak menanam sayuran-sayuran sehingga mereka tidak mau kembali ke atas,” kata Agus.
Menurutnya, populasi kera di sejumlah desa kini sudah sangat mengkhawatirkan.
“Jadi di satu desa itu populasi keranya hampir lebih banyak daripada penduduk kami,” ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan Bupati Wonogiri, Setyo Sukarno. Ia menyebut serangan kera di wilayahnya telah menyebabkan ribuan hektare lahan pertanian tidak lagi bisa dimanfaatkan.
“Wonogiri ribuan hektare yang sekarang tidak bisa dimanfaatkan karena hama kera ini. Kami 25 kecamatan semua kena. Sampai sekarang belum ada jalan keluarnya,” ungkapnya.
Menanggapi hal tersebut, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi langsung meminta penanganan segera dilakukan. Ia menyebut persoalan kera liar kini masuk kategori darurat.
“Nanti segera. Ini darurat kera kita,” tegasnya.
Luthfi menjelaskan Pemprov Jateng akan segera berkoordinasi dengan Kementerian Kehutanan untuk mendapatkan kuota penangkapan kera liar.
“Jadi kita nanti akan bersurat kepada Menteri Kehutanan agar kita dapat kuota tangkap. Kuota tangkap dan pengamanan, karena mengamankan kera tidak boleh dibunuh,” katanya.
Baca juga: Kisah Mitos di Grojogan Sewu Tawangmangu Wisata di Karanganyar, Konon Ada Siluman Kera
Menurutnya, penanganan akan dilakukan melalui mekanisme penangkapan dan pemindahan dengan melibatkan petugas khusus maupun pawang satwa.
Luthfi menambahkan, serangan kera tidak hanya terjadi di Boyolali dan Wonogiri, tetapi juga meluas ke wilayah sekitar Merapi dan Merbabu seperti Sukoharjo hingga Karanganyar.
“Pokok seputaran Merbabu itu hampir semuanya kena. Dia turun terus enggak mau naik lagi. Boyolali juga kena dan sebagainya. Sukoharjo, Karanganyar, hampir semuanya penyakit kera yang merambah di desa-desa,” ujarnya.
Kondisi tersebut kini menjadi ancaman serius bagi sektor pertanian dan aktivitas warga di Solo Raya.