POSBELITUNG.CO, BELITUNG -- Ketua Satgas Percepatan MBG sekaligus Wakil Bupati Belitung, Syamsir menanggapi keluhan para relawan SPPG Desa Air Saga yang belum beroperasi pasca kejadian dugaan keracunan susu kedelai.
Menurutnya, Pemda sudah memberikan rekomendasi kepada perwakilan BGN Kabupaten agar segera bersurat kepada Provinsi dan pusat meminta SPPG tersebut kembali beroperasi.
Rekomendasi itu disampaikan dalam rapat bersama Bupati Belitung beberapa pekan lalu.
"Tapi kok sampai hari ini tidak ditindaklanjuti. Padahal tinggal koordonasi, menunggu surat pencabutan, sudah bisa jalan lagi," ujar Syamsir kepada Posbelitung.co pada Selasa (2/6/2026).
Ia tak menampik, sudah sekitar satu bulan, SPPG Air Saga belum beroperasi.
Kondisi ini secara otomatis berdampak dari sisi penerima manfaat dan para relawan yang bekerja di sana.
"Kasihan masyarakat kita mulai dari penerima manfaat maupun saudara kita yang bekerja di SPPG itu kehilangan pendapatan," katanya.
Ia juga sempat mengulas kejadian dugaan keracunan pada tanggal 4 Mei 2026 lalu.
Sekitar 10 menit setelah mendapat laporan, Syamsir langsung mendatangi SDN 7 dan SDN 23 Tanjungpandan yang terdampak.
Waktu itu, puluhan anak sempat mengalami mual, muntah dan pusing.
Bahkan aada satu anak yang dibawa ke Puskesmas untuk mendapat penanganan kesehatan.
"Alhamdulillah berkat kesigapan semua pihak termasuk petugas kesehatan, semua masalah bisa tertangani. Murid yang terdampak juga bisa pulang ke rumah," katanya.
Sebagai tindaklanjut kejadian, semua OPD terkait turun melakukan pengecekan mulai dari SPPG, suplier hingga mengambil sampel makanan.
Kemudian hasil rapat bersama Bupati, Satgas Percepatan MBG Belitung memberikan beberapa rekomendasi.
Di antaranya, penyampaian permohonan maaf dari perwakilan BGN secara terbuka kepada masyarakat.
Menguatkan SOP terutama untuk penentuan menu yang boleh dan tidak diperbolehkan.
"Satgas merekomendasikan bahan yang dipakai (sari kedelai) tidak lagi dipakai selama program ini berlangsung," kata Syamsir.
Pasca kejadian dugaan keracunan susu kedelai, SPPG di Desa Air Saga, Kecamatan Tanjungpandan, Kabupaten Belitung belum juga beroperasi.
Akibatnya, 44 relawan yang notabanenya ibu rumah tangga kehilangan penghasilan.
Satu di antaranya Sulastri, janda anak lima yang merasa kesulitan menghidupi anaknya.
Saking sulitnya, tiga anak yang masih sekolah terpaksa tidak diberi uang jajan karena tidak ada penghasilan.
"Gimana mau kasih jajan, penghasilan sudah jauh berkurang. Jadi saya berharap sekali dapur ini beroperasi lagi," ujar Sulastri pada Senin (1/6/2026).
Wanita berusia 45 tahun itu menuturkan, awalnya bekerja di SPPG Air Saga pada 15 Januari 2026 lalu.
Ia diterima sebagai relawan bagian memasak yang bekerja dari pukul 23.00 WIB sampai selesai.
Semenjak itu, Sulastri mendapatkan penghasilan Rp120 ribu per hari untuk menghidupi anaknya.
"Alhamdulillah kalau dapur masih buka kemarin, ada pengasilan untuk keluarga, untuk anak sekolah," katanya.
Namun, setelah kejadian dugaan keracunan susu kedelai yang menjadi menu pada 4 Mei lalu, SPPG Air Saga disuspend (dihentikan).
Padahal, susu kedelai tersebut bukan diproduksi dari dapur tapi dibeli melalui pihak supplier.
Semenjak itu, Sulastri bersama rekannya tak lagi bekerja karena operasional SPPG berhenti sampai sekarang.
Demi mencukupi kebutuhan keluarga, Sulastri bekerja serabutan.
"Kalau ada orang suruh jual ikan, dijual, yang penting dapat penghasilan sedikit-sedikit. Kalau bawa ikan itu dapat sekitar Rp30 ribu," katanya.
Hal serupa juga dirasakan Agus Salim, relawan SPPG Air Saga yang bekerja sebagai pengurus ompreng.
Ayah dua anak itu merasa kesulitan semenjak tidak bekerja di dapur SPPG.
Agus memang masih punya penghasilan membantu menawarkan ikan asin di toko-toko.
"Kalau di SPPG itu kan lumayan untuk kebutuhan sehari-hari. Kalau ikan asin ini dapatnya sekitar Rp200 ribu seminggu," katanya.
Menurutnya dampak paling ia rasakan, harus benar-benar berhemat untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.
Apalagi, anaknya yang pertama sedang persiapan masuk sekolah bulan depan.
"Sekarang ini kalau anak ngajak jajan, harus pandai-pandai menolaknya. Karena harus hemat biar cukup," katanya.
Agus berharap dapur SPPG Air Saga dapat kembali dibuka normal seperti sebelumnya.
Sebab, ia merasa di usianya sudah 33 tahun, sudah sulit mencari kerja tetap.
(Posbelitung.co/Dede Suhendar)