TRIBUNJAKARTA.COM, JAGAKARSA - Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengakui kejadian jalan ambles masih berpotensi kembali terjadi di sejumlah wilayah Jakarta.
Pernyataan itu disampaikan Rano saat meninjau lokasi jalan ambles di kawasan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Selasa (2/6/2026).
Menurut Rano Karno, risiko tersebut muncul karena masih banyak saluran bawah tanah dan infrastruktur lama yang telah berusia puluhan tahun serta rentan mengalami kerusakan.
“Saya bilang tidak memungkiri di Jakarta akan terjadi lagi karena banyak sekali aramco-aramco di Jakarta juga pada kondisi yang sama, lama, tua, pasti keropos,” ucapnya.
Rano menjelaskan, saluran yang menjadi penyebab amblesnya jalan di Lenteng Agung menggunakan material armco yang telah digunakan dalam waktu lama.
Kondisi tersebut membuat struktur saluran mengalami penurunan kualitas hingga akhirnya memicu kerusakan pada badan jalan di atasnya.
Ia bahkan mengungkapkan bahwa sebagian infrastruktur utilitas di Jakarta sudah beroperasi selama puluhan hingga ratusan tahun.
“Kalau besi bahkan kalau dari PDAM saya pernah dikasih tahu, 100 tahun pipa air kita tidak berganti,” ujarnya.
Menurut Rano, fakta tersebut menjadi peringatan bahwa pemerintah harus mulai memperhatikan kondisi infrastruktur bawah tanah yang selama ini jarang terlihat oleh masyarakat.
Belajar dari kejadian di Lenteng Agung, Pemprov DKI Jakarta kini mulai melakukan inventarisasi dan pemetaan saluran-saluran tua yang berpotensi menimbulkan masalah serupa.
Langkah itu dilakukan agar pemerintah dapat melakukan mitigasi lebih dini sebelum kerusakan berkembang menjadi jalan amblas.
“Makanya tadi saya baru tanya sudah mulai belum diinventarisir titik-titik mana yang berpotensi terjadi. Karena kalau terjadi lagi kita tahu segera,” ucap Rano.
Ia mengatakan Dinas Sumber Daya Air telah mulai melakukan pemetaan terhadap saluran berbahan aramco yang tersebar di sejumlah titik Jakarta.
Namun demikian, tidak semua lokasi dapat langsung dilakukan penggantian karena membutuhkan kajian teknis dan anggaran yang besar.
Rano juga menyoroti kompleksitas penanganan saluran bawah tanah yang berada di area strategis.
Salah satu contohnya adalah saluran di Lenteng Agung yang berada di bawah jalur rel kereta api.
Menurut dia, kondisi tersebut membuat proses perbaikan menjadi jauh lebih rumit apabila terjadi kerusakan.
“Problemnya ini, salurannya ada di bawah rel kereta api. Pertanyaannya, kalau misal terjadi sesuatu di bawah rel kereta api gimana caranya? Itu tadi saya tanya,” katanya.
Karena itu, ia meminta seluruh perangkat daerah terkait mulai menyiapkan langkah antisipasi dan skenario penanganan apabila ditemukan kerusakan pada infrastruktur tua yang berada di lokasi-lokasi vital.
Meski mengakui adanya risiko, Rano mengapresiasi kerja cepat jajaran Dinas Bina Marga dan Dinas Sumber Daya Air yang mampu menyelesaikan perbaikan jalan ambles di Lenteng Agung dalam waktu sekitar lima hari.
Ia menyebut keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa koordinasi lintas instansi berjalan baik.
Namun di sisi lain, kejadian itu juga menjadi alarm bahwa Jakarta perlu semakin serius memperhatikan kondisi infrastruktur bawah tanah yang usianya sudah tidak muda lagi.
“Saya sangat surprise, dalam waktu lima hari jalan ini sudah bisa dilalui dengan kondisi yang cukup sangat baik,” kata Rano.
Menurutnya, langkah inventarisasi dan pemetaan harus terus dilakukan agar potensi jalan ambles dapat dideteksi lebih cepat dan tidak mengganggu aktivitas masyarakat.