Ratusan Pengemudi Ojol di Yogyakarta Turun ke Jalan Dukung Nadiem Makarim
Joko Widiyarso June 02, 2026 07:14 PM

 

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Berbeda dengan aksi unjuk rasa pada umumnya yang menuntut perbaikan tarif angkutan maupun kesejahteraan, ratusan pengemudi ojek dalam jaringan (daring) di Daerah Istimewa Yogyakarta justru turun ke jalan untuk menggelar aksi solidaritas, Selasa (2/6/2026). 

Konvoi yang memadati sejumlah titik vital di pusat kota ini digerakkan oleh inisiatif mandiri para pengemudi sebagai bentuk dukungan moral penuh kepada pendiri Gojek, Nadiem Makarim, yang saat ini tengah menghadapi persoalan hukum.

Aksi yang tergabung dalam komunitas Driver Gojek Yogyakarta ini melibatkan sekitar 500 pengemudi. Ratusan peserta aksi tersebut melakukan konvoi melintasi rute-rute utama kota, di antaranya kawasan Kridosono, Kejaksaan Tinggi DIY, Tugu Jogja, Malioboro, hingga bermuara di depan Istana Kepresidenan Gedung Agung Yogyakarta.

Di bawah terik matahari, para pengemudi membawa berbagai poster dan spanduk berisi pesan dukungan moral. Bagi mereka, pengerahan massa ini bukan sekadar demonstrasi biasa, melainkan wujud balas budi.

"Aksi iniungkapan rasa terima kasih kepada Pak Nadiem yang sudah membuka jalan kehidupan baru bagi banyak orang," ujar Ketua Koordinator Lapangan Aksi Driver Gojek Yogyakarta, Tri Wibiono atau yang akrab disapa Monel, di sela-sela aksi.

Nilai utama yang ditekankan dalam aksi ini adalah kemandirian. Monel menegaskan bahwa kegiatan tersebut digelar tanpa adanya dukungan pendanaan dari pihak luar. Biaya operasional pelaksanaan aksi sepenuhnya berasal dari iuran sukarela para mitra pengemudi.

Meski nominal sumbangannya relatif kecil, yakni berkisar dari Rp2.000 hingga Rp5.000 per orang, akumulasi iuran sederhana tersebut nyatanya berhasil mengorganisasi aksi yang tertib dan masif.

"Aksi ini kita biayai sendiri, berdiri di atas kaki teman-teman driver. Ini adalah aksi solidaritas untuk mendukung Pak Nadiem, ibarat kacang tidak lupa kulitnya," tandasnya.

Gojek Jaring pengaman  

Bagi Monel dan rekan-rekan seprofesinya, Gojek bukan sekadar entitas aplikasi transportasi digital. Platform tersebut dinilai telah menjadi pintu masuk dan jaring pengaman bagi masyarakat luas untuk memperoleh penghasilan yang lebih layak, terutama di tengah sempitnya lapangan pekerjaan formal.

Ia menceritakan rekam jejak sebagian besar pengemudi yang kini menggantungkan hidup dari layanan transportasi daring tersebut. Banyak dari mereka yang sebelumnya berada dalam kondisi ekonomi pelik; mulai dari menganggur, bekerja serabutan, hingga kesulitan mendapat pekerjaan tetap.

Karena latar belakang itulah, tumbuh kedekatan emosional antara mitra pengemudi dengan sosok pendiri perusahaan. Mereka menilai inovasi Gojek telah memberikan wadah untuk bekerja secara mandiri dan menyokong kebutuhan hidup keluarga.

"Sebelum ada Gojek, kami hanya pengangguran, namun saat ini kami bisa memiliki mata pencaharian yang sangat bermartabat," ujarnya.

Menolak Masuk Ranah Hukum, Fokus Pesan Moral
Meskipun turun ke jalan karena isu hukum yang menimpa sang pendiri, Monel enggan menjelaskan secara rinci mengenai substansi tuntutan atau persoalan hukum yang sedang dihadapi Nadiem. Ia menegaskan bahwa aksi massa ini difokuskan sebagai pesan moral.

"Kami hanya ingin menunjukkan bahwa banyak driver yang merasa terbantu dan merasakan manfaat dari kehadiran Gojek. Itu yang ingin kami sampaikan," katanya.

Pihak komunitas juga menyatakan akan terus mengikuti setiap perkembangan situasi dalam proses hukum Nadiem. Para pengemudi ojek daring ini tidak menutup kemungkinan untuk menggelar aksi lanjutan dengan pengerahan massa yang jauh lebih besar di masa mendatang apabila situasi menuntut demikian.

"Kami akan tetap turun ke jalan sebagai bentuk solidaritas," imbuhnya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.