Duduk Perkara Bapak Diaspora Indonesia, Dino Patti Djalal Disentil Teddy, Imbas Kritik Kuker Prabowo
Rita Lismini June 02, 2026 07:40 PM

TRIBUNBENGKULU.COM - Dino Patti Djalal sebelumnya menyoroti langkah Prabowo yang tercatat telah melakukan 49 kali kunjungan ke luar negeri sejak dilantik sebagai Presiden RI pada 20 Oktober 2024 hingga 30 Mei 2026.

Dari total kunjungan tersebut, Prabowo telah mendatangi 28 negara dengan akumulasi waktu berada di luar negeri mencapai sekitar 95 hari selama 587 hari masa pemerintahannya.

Melalui statistik tersebut, Dino menilai frekuensi kunjungan luar negeri Prabowo cukup tinggi karena setara dengan satu dari enam hari masa jabatannya dihabiskan untuk perjalanan ke luar negeri.

Data tersebut disampaikan Dino melalui akun media sosial pribadinya pada Sabtu (30/5/2026).

Menurut Dino, perjalanan dinas seorang kepala negara membutuhkan biaya yang tidak sedikit karena mencakup berbagai kebutuhan mulai dari tim pendahulu (advance), sewa pesawat, hotel, logistik, konsumsi, pengamanan hingga uang harian delegasi.

"Satu perjalanan ke luar negeri, bisa keluar puluhan bahkan ratusan miliar," ungkap Dino dalam video yang diunggahnya.

Demi efisiensi anggaran negara, Dino kemudian memberikan sejumlah saran kepada Presiden Prabowo agar diplomasi Indonesia tetap berjalan efektif tanpa harus mengeluarkan biaya besar.

Salah satunya dengan memanfaatkan teknologi komunikasi seperti video call, Zoom atau telepon untuk sejumlah pertemuan bilateral.

Menurut pengalaman Dino, pertemuan tatap muka antarnegara sering kali lebih banyak diisi agenda seremonial dibanding pembahasan substansi.

"Suatu kunjungan bilateral biasanya hanya berpusat pada pembicaraan inti selama satu atau dua jam. Selebihnya basa-basi, jamuan, dan seremonial yang biasanya tidak perlu," ujarnya.

Karena itu, Dino menilai penggunaan video conference dapat menjadi alternatif yang lebih efisien.

"Dengan satu video call yang bernilai nol rupiah, negara praktis menghemat ratusan miliar," katanya.

Selain itu, Dino juga menyarankan Prabowo lebih sering menerima tamu negara di Indonesia daripada terus melakukan kunjungan ke luar negeri.

Ia mencontohkan Presiden China Xi Jinping yang aktif menerima kunjungan pemimpin dunia di Beijing.

Dino juga mengusulkan agar sebagian tugas diplomasi tingkat menteri dapat didelegasikan kepada Menteri Luar Negeri Sugiono sehingga beban agenda Presiden dapat berkurang.

Menanggapi kritik tersebut, Teddy Indra Wijaya memaparkan sejumlah capaian diplomasi luar negeri Presiden Prabowo.

Menurut Teddy, diplomasi yang dilakukan Prabowo telah menghasilkan investasi sebesar Rp2.430 triliun selama sekitar satu setengah tahun pemerintahan berjalan.

"Total investasi yang masuk dalam 1,5 tahun ini adalah sekitar Rp2.430 triliun, itu data dari BKPM," ujar Teddy.

Ia juga mencontohkan kunjungan Presiden Prabowo ke Jepang dan Korea Selatan yang disebut menghasilkan komitmen investasi baru senilai Rp575 triliun.

Dalam klarifikasinya, Teddy turut menyinggung jabatan Dino sebagai mantan Wakil Menteri Luar Negeri.

"Saya pikir beliau adalah Diplomat hebat, pernah menjadi Wakil Menteri Luar Negeri, walau hanya diberi kesempatan sekitar tiga bulan," kata Teddy.

Pernyataan itulah yang kemudian memicu polemik dan menjadi perbincangan luas di media sosial.

Dino Dibela Anies Baswedan 

Anies Baswedan turut mengungkap pandangannya mengenai sosok Dino Patti Djalal.

Melalui unggahan di Threads, Anies memberikan dukungan kepada Dino dengan mengungkap rekam jejak dan pengalamannya di dunia diplomasi yang telah dibangun selama puluhan tahun.

Anies mengaku telah mengenal nama Dino sejak masih menjadi mahasiswa di Universitas Gadjah Mada (UGM).

"Saat masih kuliah di UGM, saya mendengar kabar seorang diplomat muda Indonesia di London berani tampil di BBC World Debate, berhadapan dgn diplomat senior Ramos Horta, di saat atmosfer internasional sedang menyudutkan Indonesia," tulis Anies.

Menurut Anies, penampilan Dino saat itu membuatnya terkesan karena mampu menjaga nama Indonesia di forum internasional.

"Diplomat muda Indonesia itu tampil gemilang menjaga nama Indonesia tegak berwibawa. Di situlah pertama kali saya mendengar namanya: @dinopattidjalal," lanjutnya.

Beberapa tahun kemudian, Anies mengaku bertemu langsung dengan Dino saat menempuh pendidikan doktoral di Illinois, Amerika Serikat.

Ia menilai Dino sebagai diplomat yang cerdas, artikulatif, dan mampu menangani persoalan rumit dengan pendekatan diplomatik.

"Yang kami temui adalah diplomat muda yg cerdas, artikulatif, dan mampu menangani persoalan rumit dgn ketenangan diplomatik yg sulit ditiru," tulis Anies. 

Ungkit Rekam Jejak Dino

Anies juga menyinggung sejumlah pencapaian Dino selama berkarier sebagai diplomat.

Salah satunya saat menjabat Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat dan menggagas Kongres Diaspora Indonesia pertama di Los Angeles pada 2012.

"Tahun 2012, sebagai Dubes di AS, Dino menggagas Kongres Diaspora Indonesia pertama di Los Angeles, mempertemukan diaspora dari seluruh dunia. Saya termasuk yg ia undang," tulis Anies.

Ia juga menyoroti kiprah Dino dalam mendirikan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) yang disebutnya turut melahirkan generasi baru diplomat Indonesia.

Di akhir unggahannya, Anies menegaskan kemampuan Dino sebagai diplomat tidak dibangun secara instan, melainkan melalui proses panjang dan pengalaman yang teruji.

"Menguasai substansi, rekam jejaknya teruji, dan pengalaman memimpinnya luas. Itulah Dino. Karier diplomatiknya panjang dan ajeg, kecintaannya pada politik luar negeri Indonesia begitu dalam."

"Dino Patti Djalal, bukan karbitan jadi diplomat, bukan pula karbitan jadi pejabat," tulis Anies.

Profil Dino Patti Djalal

Dino Patti Djalal merupakan mantan Wakil Menteri Luar Negeri yang dikenal sebagai diplomat senior Indonesia sekaligus Bapak Diaspora Indonesia.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari dinopattidjalal.com, Dino lahir di Belgrade, Yugoslavia, pada 10 September 1965.

Ia merupakan putra diplomat senior Indonesia, Hasyim Djalal. Latar belakang keluarganya membuat Dino menghabiskan masa kecil hingga remaja di berbagai negara mengikuti penugasan orang tuanya.

Dino pernah tinggal di Jakarta, Yugoslavia, Guinea, Singapura, Washington DC, New York, Ottawa hingga Vancouver.

Untuk pendidikan, Dino menempuh SD Muhammadiyah dan SMP Al-Azhar sebelum melanjutkan SMA di McLean, Virginia, Amerika Serikat.

Setelah itu ia meraih gelar Sarjana Ilmu Politik dari Universitas Carleton, Kanada, Magister Ilmu Politik dari Universitas Simon Fraser, Kanada, serta gelar Doktor Hubungan Internasional dari London School of Economics and Political Science (LSE), Inggris.

Perjalanan Karier

Karier diplomasi Dino dimulai pada 1987 saat bergabung dengan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.

Selama hampir 40 tahun berkiprah di dunia diplomasi, Dino pernah menduduki berbagai posisi penting, mulai dari penugasan di London, Dili, hingga Washington DC.

Beberapa jabatan strategis yang pernah diembannya antara lain:

  • Bergabung dengan Kementerian Luar Negeri RI (1987)
  • Juru Bicara Pemerintah Indonesia dalam referendum Timor Timur (1999)
  • Direktur Urusan Amerika Utara (2004)
  • Staf Khusus Presiden untuk Urusan Internasional (2004-2010)
  • Duta Besar RI untuk Amerika Serikat (2010-2013)
  • Wakil Menteri Luar Negeri (2014-2015)
  • Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) (2015)
  • Ketua Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) (2018)

Selain itu, Dino juga dikenal sebagai penggagas Kongres Diaspora Indonesia pertama di Los Angeles pada 2012 dan pencetus istilah Diaspora Indonesia.

Ia juga pernah menerima sejumlah penghargaan, di antaranya Bintang Jasa Utama, Bintang Mahaputra Adipradana, serta penghargaan Antarbudaya untuk Inovasi dari Austria.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.