TRIBUNGORONTALO.COM - Bupati Gorontalo Utara, Thariq Modanggu, langsung menerapkan kebijakan Hulu-Hilir Pascabencana Biau (H2PB) Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo.
H2PB kini memasuki tahap kedua, yakni penanganan infrastruktur berupa perbaikan tanggul dan normalisasi sungai pascabanjir di Kecamatan Biau.
Hal tersebut disampaikan Thariq melalui unggahan di akun Facebook pribadinya, Senin (2/6/2026), saat meninjau langsung sejumlah titik terdampak banjir.
Menurutnya, setelah penanganan darurat dilakukan pada fase pertama, pemerintah daerah kini mulai fokus pada perbaikan infrastruktur yang rusak akibat banjir.
"Ini tahap II dari Kebijakan H2PB (Hulu-Hilir Pasca Banjir Biau), yakni penanganan infrastruktur (tanggul dan sungai). Insya Allah dalam waktu dekat kita akan masuk tahap III yaitu penyelamatan hulu (hutan dan pohon)," tulis Thariq dalam unggahannya.
Thariq terlihat memantau pembersihan sekolah-sekolah yang sebelumnya terendam banjir serta mengawasi langsung perbaikan tanggul irigasi dan normalisasi Sungai Didingga.
Ia mengatakan sejumlah sekolah yang terdampak kini sudah kembali layak digunakan untuk pelaksanaan ujian.
"Berkat kerja keras berbagai pihak sekolah-sekolah yang terendam sudah memadai sebagai tempat pelaksanaan ujian pada besok hari tanggal 2 Juni 2026," tulisnya.
Selain itu, pekerjaan perbaikan tanggul irigasi dan normalisasi Sungai Didingga juga mulai berjalan.
"Begitu pula tanggul irigasi dan Sungai Didingga sudah mulai jalan pekerjaan perbaikan/normalisasi. Air bersih/PUDAM Insya Allah tidak lama lagi akan normal kembali," lanjutnya.
Kebijakan H2PB sendiri sebelumnya diperkenalkan Thariq pada hari ketiga pascabanjir Biau melalui video yang diunggah di akun Facebook pribadinya pada 29 Mei 2026.
Saat itu, ia menjelaskan konsep penanganan banjir dibagi dalam tiga tahapan utama.
Tahap pertama adalah penanganan darurat bagi warga terdampak, meliputi penyediaan dapur umum, distribusi air bersih, serta bantuan kebutuhan dasar lainnya.
Tahap kedua berfokus pada penanganan infrastruktur yang rusak akibat banjir, khususnya perbaikan tanggul irigasi yang jebol dan normalisasi aliran sungai yang menjadi penyebab meluasnya genangan.
Sementara tahap ketiga diarahkan pada penyelamatan kawasan hulu untuk mencegah banjir berulang di masa mendatang.
Thariq menyebut sejumlah langkah yang akan dilakukan pada tahap tersebut, antara lain investigasi kondisi hutan dan aktivitas penebangan kayu, penindakan terhadap praktik illegal logging, pelarangan pembukaan lahan baru di kawasan gunung dan perbukitan, penerapan sistem agroforestri pada lahan yang telah dibuka, hingga penggalakan Gerakan Agro Mopomulo (GAM).
Sebelumnya, Pemkab Gorontalo Utara juga telah berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai dan Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Gorontalo untuk mempercepat perbaikan tanggul yang jebol di Desa Didingga.
Tanggul tersebut diduga menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan meluasnya genangan air hingga ke permukiman warga saat banjir melanda Kecamatan Biau.
"Penanganan bencana tidak boleh hanya berhenti pada bantuan darurat kepada masyarakat terdampak. Yang lebih penting adalah memastikan sumber persoalan yang menyebabkan banjir dapat segera ditangani agar kejadian serupa tidak terus berulang," ujar Thariq.
Ia menegaskan percepatan perbaikan tanggul dan normalisasi sungai merupakan bagian dari implementasi kebijakan H2PB yang dirancang sebagai penanganan banjir secara komprehensif dari hulu hingga hilir. (*/Pemkab)