Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Maula M Pelu
AMBON, TRIBUNAMBON.COM - Berdasarkan hasil pemantauan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku di 3 kabupaten/kota, pada Mei 2026 secara total terjadi inflasi y-on-y sebesar 3,27 persen, atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,75 pada Mei 2025 menjadi 112,31 pada Mei 2026.
Sementara tingkat inflasi month to month (m-to-m) sebesar 0,93 persen.
Tiga kabupaten kota yang menjadi barometer ialah, Maluku Tengah, Kota Tual, dan Kota Ambon.
Baca juga: Kejari SBB Usut Dugaan Korupsi SPPD Fiktif di Sekretariat DPRD, 8 Saksi Diperiksa Jaksa
Baca juga: Sial! Baru Pertama Kali Beli Sabu, Mahasiswa Ambon Diciduk Polisi di Hunuth
Dalam presentasi ini diikuti berbagai pihak, mulai dari pemerintah Provinsi, Kementerian terkait, hingga pihak swasta dan insan pers.
Dalam pemaparan Maritje Pattiwaellapia, disampaikan berdasarkan data analisis BPS Maluku, Inflasi y-on-y terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya 9 indeks kelompok pengeluaran, yaitu:
1. Kelompok transportasi sebesar 5,30 persen;
2. Kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 4,85 persen;
3. Kelompok kesehatan sebesar 4,75 persen;
4. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 4,63 persen;
5. Kelompok pendidikan sebesar 2,84 persen;
6. Kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 2,07 persen;
7. Kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 1,59 persen;
8. Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 1,26 persen;
9. Kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,64 persen.
Sementara ada dua kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks, yaitu:
1. Kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 1,11 persen
2. Kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,57 persen.
Lebih spesifik ungkap Maritje Pattiwaellapia, komuditas yang dominan memberikan andil/sumbangan inflasi y-on-y pada Mei 2026, antara lain: tarif angkutan udara, emas perhiasan, bawang merah, beras, sigaret kretek mesin (SKM), tomat, ikan tongkol/komu, ikan cakalang, nasi dengan lauk, mobil, kacang panjang, bahan bakar rumah tangga, daging ayam ras, buncis, biaya akademi/perguruan tinggi, sawi hijau, tarif rumah sakit, cabai merah, minyak goreng dan sepeda motor.
Sedangkan komoditas yang memberikan andil/sumbangan deflasi y-on-y, antara lain: sabun mandi, sabun detergen bubuk, cabai rawit, daun singkong, popok bayi sekali pakai/diapers, lemon, ikan asap, baju muslim wanita, makanan ringan/snack, sagu, kelapa, sepatu pria, baju anak stelan, bawang bombay, ikan selar/kawalinya, wortel, hand body lotion, baju kaos tanpa kerah/t-shirt anak, susu cair kemasan dan sandal anak.
Sementara berdasarkan presentasi per bulannya, komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan inflasi m-to-m pada Mei 2026, antara lain: ikan layang/momar, sawi hijau, ikan tongkol/komu, buncis, tarif angkutan udara, ikan cakalang, kacang panjang, mobil, bayam, ikan selar/kawalinya, ketimun, kangkung, bahan bakar rumah tangga, air kemasan, sigaret kretek mesin (SKM), daun melinjo, beras, minyak goreng, solar dan pisang.
Sedangkan komoditas yang memberikan andil/sumbangan deflasi m-to-m, antara lain: cabai rawit, tomat, telur ayam ras, cabai merah, bawang merah, ikan asap, emas perhiasan, talas/keladi, tahu mentah, ikan tuna, biskuit, ikan baronang/samandar, obat dengan resep, labu siam/jipang, semangka, jeruk, ketela rambat dan bunga pepaya.
Untuk kelompok pengeluaran pada Mei 2026 yang memberikan andil/sumbangan inflasi y-on-y, yaitu:
1. Kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 1,69 persen;
2. Kelompok transportasi sebesar 0,70 persen;
3. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,39 persen;
4. Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar dan kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,16 persen;
5. Kelompok pendidikan sebesar 0,11 persen;
6. Kelompok kesehatan sebesar 0,09 persen;
7. Kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,04 persen;
8. Kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,02 persen.
Sedangkan kelompok pengeluaran yang memberikan andil/sumbangan deflasi y-on-y, yaitu: kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,06 persen dan
kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,03 persen.
Untuk tiga kota atau kabupaten, Inflasi y-on-y tertinggi terjadi di Kota Tual sebesar 3,93 persen dengan IHK sebesar 114,13 dan terendah terjadi di Kota Ambon sebesar 2,84 persen dengan IHK sebesar 113,61.
Sementara untuk Maluku Tengah sebesar 3,87 persen dengan IHk sebesar 110,10.
Tentu inflasi ini akan menjadi pertimbangan bagaimana daerah menindaklanjutinya. (*)