Drone Hizbullah Kembali Makan Korban IDF: Perwira Israel Tewas, 7 Tentara Zionis Ambruk
TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan di perbatasan Israel-Lebanon kembali memakan korban.
Tentara Israel pada Senin (1/6/2026) malam mengumumkan tewasnya seorang perwira serta tujuh tentara lainnya yang terluka dalam operasi militer di Lebanon selatan.
Peristiwa ini menambah daftar korban di tengah meningkatnya serangan drone yang dalam beberapa pekan terakhir menjadi perhatian utama militer Israel (IDF).
Baca juga: Angka yang Bikin Israel Ketar-ketir: 690 Personel IDF Luka-luka dalam Pertempuran dengan Hizbullah
Dalam pernyataannya, militer Israel menyebut korban tewas adalah Kapten Dr. Uri Yosef Silvester, 30 tahun, seorang petugas medis dari Batalyon Shaked Brigade Givati yang berasal dari Tel Aviv. Ia dilaporkan gugur saat bertugas di wilayah Lebanon selatan.
Militer juga mengungkapkan bahwa dalam insiden yang sama, tiga personel mengalami luka serius, satu lainnya luka sedang, sementara tiga tentara lainnya mengalami luka ringan.
Namun, pihak militer tidak menjelaskan secara rinci bagaimana insiden tersebut terjadi.
Sejumlah media Israel kemudian melaporkan bahwa korban jatuh akibat serangan drone bermuatan bahan peledak yang diduga dilancarkan Hizbullah.
Hingga laporan ini muncul, belum ada konfirmasi resmi dari Hizbullah mengenai klaim tersebut.
Menurut laporan Otoritas Penyiaran Israel, serangan terjadi ketika pasukan Batalyon Shaked Brigade Givati sedang beroperasi di wilayah Zawtar al-Sharqiya, sebelah utara Sungai Litani, dekat kawasan Kastel Beaufort di Lebanon selatan.
Drone yang membawa bahan peledak disebut menghantam pasukan yang berada di lokasi tersebut.
Insiden ini terjadi hanya beberapa jam setelah militer Israel mengumumkan kematian seorang tentara lain dan luka-luka pada tiga personel akibat serangan drone terpisah di Lebanon selatan.
Dalam kasus sebelumnya, media Israel menyebut serangan menargetkan pasukan Brigade Golani yang sedang beroperasi di wilayah Yahmour, sektor timur Lebanon selatan.
Serangan-serangan drone belakangan menjadi perhatian serius bagi Israel.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bahkan menyebut ancaman tersebut sebagai tantangan besar yang harus segera diatasi oleh militer.
Media Israel melaporkan bahwa kalangan militer semakin khawatir terhadap perkembangan teknologi drone yang digunakan Hizbullah.
Drone tersebut disebut dilengkapi kamera canggih dan memiliki kemampuan beroperasi pada malam hari, sehingga menyulitkan pasukan Israel yang bertugas di lapangan.
Kekhawatiran itu muncul setelah beberapa insiden serupa terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Pada Sabtu malam, Sersan Satu Michael Tokin, 21 tahun, tewas dalam serangan drone yang menargetkan patroli Brigade Givati di dekat Zawtar al-Sharqiya.
Sebelumnya, Kamis lalu, Sersan Rotem Yanai, 20 tahun, juga tewas akibat serangan drone terhadap posisi militer Israel di dekat Moshav Goren, kawasan perbatasan utara Israel.
Rangkaian serangan ini terjadi ketika konflik antara Israel dan Hizbullah masih terus berlangsung meski terdapat upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan.
Dalam beberapa hari terakhir, Hizbullah dilaporkan meningkatkan penggunaan rudal dan drone terhadap posisi militer Israel di Lebanon selatan maupun wilayah dekat perbatasan.
Kelompok tersebut menyatakan serangan dilakukan sebagai respons atas apa yang mereka sebut sebagai pelanggaran berulang Israel terhadap perjanjian gencatan senjata yang berlaku sejak 17 April dan diperpanjang hingga awal Juli.
Situasi keamanan yang belum stabil ini menjadi latar belakang putaran baru perundingan antara Lebanon dan Israel yang dijadwalkan berlangsung di Washington pada 2–3 Juni.
Pembicaraan tersebut merupakan kelanjutan dari tiga putaran negosiasi sebelumnya yang dimediasi Amerika Serikat sejak April lalu.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan Lebanon pada Senin melaporkan jumlah korban akibat konflik yang berlangsung sejak awal Maret telah mencapai 3.433 orang meninggal dunia dan 10.395 lainnya terluka.
Angka tersebut menunjukkan bahwa meski jalur diplomasi terus diupayakan, kondisi di lapangan masih jauh dari stabil dan berpotensi memicu eskalasi lebih lanjut.
(oln/khbrn/*)