Inflasi Pangkalpinang Mei 2026, Harga Tiket Pesawat hingga Cabai Jadi Pemicunya
Ardhina Trisila Sakti June 02, 2026 10:03 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Pangkalpinang mencatat Kota Pangkalpinang mengalami inflasi tahunan atau year on year (y-on-y) sebesar 1,99 persen pada Mei 2026.

Kenaikan harga sejumlah komoditas, terutama transportasi udara, bahan pangan hingga emas perhiasan menjadi pemicu utama inflasi di ibu kota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Berdasarkan data BPS, inflasi y-on-y pada Mei 2026 ditandai dengan kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 105,89 pada Mei 2025 menjadi 108,00 pada Mei 2026.

Selain inflasi tahunan, Pangkalpinang juga mencatat inflasi bulanan (month to month / m-to-m) sebesar 0,33 persen dibanding April 2026. Sementara secara kumulatif sejak awal tahun atau year to date (y-to-d), inflasi tercatat 0,44 persen dibanding Desember 2025.

Dalam kesempatan itu turut hadir perwakilan Pemerintah Kota Pangkalpinang, yakni Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Kota Pangkalpinang Juhaini, serta Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kota Pangkalpinang M Belly Jawari.

Dewi menjelaskan, inflasi tahunan terjadi akibat kenaikan harga secara umum pada sejumlah kelompok pengeluaran masyarakat.

Kelompok yang mengalami kenaikan tertinggi yakni transportasi sebesar 4,23 persen, disusul perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 3,55 persen, pakaian dan alas kaki sebesar 3,51 persen, serta makanan, minuman, dan tembakau sebesar 3,28 persen.

Selain itu, kelompok kesehatan mengalami kenaikan 2,32 persen, kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan 1,38 persen, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 1,15 persen, kelompok rekreasi, olahraga dan budaya 1,18 persen, serta penyediaan makanan dan minuman/restoran 0,95 persen.

"Inflasi y-on-y terjadi karena adanya kenaikan harga secara umum yang ditunjukkan oleh naiknya indeks pada sebagian besar kelompok pengeluaran," ujar Dewi.

Meski demikian, terdapat satu kelompok yang mengalami deflasi tahunan cukup dalam, yakni kelompok pendidikan sebesar 10,53 persen.

Secara kontribusi terhadap inflasi tahunan, kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan andil 1,03 persen, diikuti transportasi sebesar 0,58 persen dan perawatan pribadi serta jasa lainnya sebesar 0,21 persen.

Kemudian kelompok pakaian dan alas kaki memberi andil 0,20 persen, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 0,18 persen, sementara kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan serta restoran masing-masing menyumbang 0,08 persen.

Di sisi lain, kelompok pendidikan menjadi faktor penahan laju inflasi dengan memberikan andil deflasi sebesar 0,47 persen.

BPS juga mencatat sejumlah komoditas yang paling dominan menyumbang inflasi tahunan pada Mei 2026.

Komoditas tersebut di antaranya angkutan udara, emas perhiasan, cumi-cumi, daging ayam ras, bahan bakar rumah tangga, ikan selar, cabai rawit, cabai merah, sepeda motor, dan kopi bubuk.

Selain itu, komoditas seperti bayam, kacang panjang, sate, sewa rumah, telepon seluler, ikan singkur, bawang merah, hingga kerudung atau jilbab juga ikut mendorong kenaikan harga secara tahunan.

Sementara komoditas yang menjadi penyumbang deflasi tahunan antara lain tarif sekolah menengah atas (SMA), kentang, bawang putih, jeruk, anggur, air kemasan, ikan tongkol, krim wajah, mi instan kering, hingga produk kebutuhan rumah tangga seperti sabun cuci piring dan pewangi pakaian.

Untuk inflasi bulanan atau m-to-m sebesar 0,33 persen, komoditas yang dominan menyumbang kenaikan harga antara lain angkutan udara, cabai merah, baju muslim wanita, bahan bakar rumah tangga, bawang merah, dan kopi bubuk.

Kenaikan juga dipicu harga ikan tenggiri, minyak goreng, telepon seluler, laptop/notebook, semangka, lipstik, hingga sejumlah bahan pangan seperti kangkung, bayam, dan tomat.

Sebaliknya, komoditas yang menahan laju inflasi bulanan atau mengalami penurunan harga antara lain daging ayam ras, cabai rawit, sejumlah jenis ikan laut seperti ikan selar, ikan tongkol, ikan kembung, ikan bawal, serta udang basah, jeruk, dan emas perhiasan.

"Kondisi inflasi yang masih berada di bawah 2 persen secara tahunan menunjukkan harga barang dan jasa di Pangkalpinang relatif terkendali. Namun, fluktuasi harga komoditas pangan serta biaya transportasi, khususnya tiket pesawat, masih menjadi faktor utama yang memengaruhi dinamika inflasi di kota tersebut," terang Dewi.

(Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.