Rupiah Terlemah Sepanjang Sejarah, Menkeu Purbaya Pastikan APBN Aman dan Ekonomi Tetap Kuat
M Zulkodri June 03, 2026 01:21 AM

 

POSBELITUNG.CO--Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang menembus level terlemah sepanjang sejarah memicu perhatian berbagai kalangan.

Namun pemerintah menegaskan kondisi ekonomi nasional masih berada dalam jalur yang kuat dan terkendali.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan pelemahan rupiah belum mengganggu kemampuan pemerintah menjalankan program-program pembangunan maupun aktivitas pemerintahan.

Menurutnya, pergerakan kurs yang terjadi saat ini telah diperhitungkan dalam penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Pernyataan tersebut disampaikan Purbaya saat menjawab pertanyaan wartawan dalam konferensi pers di Jakarta, Minggu (31/5/2026).

"Dari sisi anggaran, kami sudah menghitung depresiasi rupiah pada level yang mendekati posisi saat ini. Jadi anggaran kami masih aman meskipun rupiah melemah ke level sekarang," ujar Purbaya.

Berdasarkan data perdagangan terbaru, nilai tukar dolar Amerika Serikat berada di kisaran Rp17.823 hingga Rp17.900 per dolar AS.

Angka tersebut menjadi salah satu level terlemah yang pernah dialami rupiah.

Meski demikian, Purbaya menegaskan pemerintah tidak terlalu fokus pada pergerakan jangka pendek mata uang, melainkan memperkuat fundamental ekonomi nasional agar tetap tumbuh secara berkelanjutan.

Menurut dia, kekuatan mata uang pada akhirnya sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi yang mendasarinya.

Karena itu, pemerintah saat ini memprioritaskan upaya menjaga pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek, menengah, maupun panjang.

"Secara teori, ketika ekonomi suatu negara kuat, mata uangnya juga akan ikut menguat. Saat ini fokus kami adalah memastikan ekonomi domestik terus tumbuh kuat," katanya.

Indonesia Masih Jadi Salah Satu yang Terkuat di G20

Baca juga: Prabowo Copot Kepala BGN Dadan Hindayana, Pemerintah Audit Dugaan Jual-Beli Dapur Program MBG

Purbaya juga menilai prospek ekonomi Indonesia masih sangat menjanjikan dibandingkan banyak negara lain.

Ia menyebut laju pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di posisi kedua tertinggi di antara negara-negara anggota G20, hanya berada di bawah India.

Menurutnya, capaian tersebut menjadi sinyal bahwa fondasi ekonomi nasional masih solid meskipun menghadapi tekanan global dan gejolak pasar keuangan internasional.

"Pertumbuhan ekonomi kita jauh lebih cepat dibandingkan banyak negara lain. Di kelompok G20 kita berada di posisi kedua setelah India. Karena itu prospek ekonomi Indonesia masih kuat," ujarnya.

Pemerintah juga optimistis arus investasi asing akan terus masuk ke Indonesia.

Masuknya investasi, khususnya investasi langsung atau Foreign Direct Investment (FDI), diyakini dapat membantu memperkuat nilai tukar rupiah dalam jangka panjang.

Purbaya menilai investor global akan terus melirik Indonesia karena menawarkan peluang pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dibandingkan banyak negara lain di kawasan.

Analis Ingatkan Dampak ke Masyarakat Mulai Terasa

Di sisi lain, analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memberikan pandangan berbeda.

Menurutnya, pelemahan rupiah mulai memberikan dampak nyata terhadap kondisi ekonomi masyarakat, terutama kelompok kelas menengah.

Ibrahim menilai kelompok ini menghadapi tekanan ganda akibat kenaikan harga berbagai kebutuhan hidup yang tidak diimbangi dengan peningkatan pendapatan.

Menurut dia, kondisi tersebut diperparah dengan meningkatnya angka pengangguran dan pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam beberapa bulan terakhir.

"Banyak masyarakat kelas menengah yang turun kasta menjadi kelas bawah. Pengangguran dari Januari sampai Maret sudah mencapai lebih dari 14 ribu orang," kata Ibrahim.

Ia mengungkapkan risiko gelombang PHK masih berpotensi berlanjut dalam waktu dekat.

Bahkan, terdapat indikasi sekitar 9.000 pekerja tambahan berpotensi kehilangan pekerjaan dalam dua bulan mendatang.

Jika kondisi tersebut terus berlanjut, daya beli masyarakat dikhawatirkan akan semakin melemah dan berdampak terhadap konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi nasional.

"Kemungkinan besar ini akan berpengaruh terhadap daya beli masyarakat yang pasti akan turun," ujarnya.

Daya Beli Dinilai Mulai Melemah

Ibrahim mengatakan tanda-tanda penurunan daya beli sudah terlihat di sejumlah pusat perdagangan dan pasar tradisional.

Aktivitas jual beli masih berlangsung, tetapi jumlah konsumen dinilai tidak seramai sebelumnya.

Menurutnya, banyak masyarakat kini lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang dan hanya memprioritaskan kebutuhan pokok.

"Kalau kita lihat sekarang banyak yang berjualan, tetapi pembelinya sedikit. Ini menunjukkan dampak pelemahan rupiah mulai terasa terhadap daya beli masyarakat," jelasnya.

Selain faktor nilai tukar, kenaikan biaya distribusi barang dari daerah penghasil ke wilayah konsumen juga menjadi salah satu penyebab harga kebutuhan masyarakat terus meningkat.

Ibrahim memperingatkan bahwa jika daya beli terus menurun sementara lapangan pekerjaan terbatas, tekanan ekonomi akan semakin berat bagi kelompok masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah.

Meski pemerintah meyakini kondisi ekonomi nasional masih kuat, perkembangan nilai tukar rupiah dan kondisi daya beli masyarakat diperkirakan akan tetap menjadi perhatian utama dalam beberapa bulan mendatang.(*)

(Tribunnews/Tribun Medan/Bangkapos.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.