Abu Janda Sebut Jabar Provinsi Barbar, Reaksi Kang Dedi Mulyadi Mengejutkan
Saifullah June 03, 2026 01:22 AM

 

Pegiat media sosial Abu Janda menyebut Jawa Barat sebagai provinsi “barbar” dan tidak toleran, memicu polemik publik.

SERAMBINEWS.COM, BANDUNG – Polemik muncul setelah pegiat media sosial (medsos), Permadi Arya alias Abu Janda menyebut Jawa Barat sebagai provinsi “barbar” dan tidak menjunjung toleransi. 

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menolak keras label tersebut.

Menurutnya, masyarakat Jawa Barat (Jabar) sejak lama hidup dalam suasana yang menjunjung tinggi keterbukaan dan toleransi.

Sehingga tidak tepat jika citra negatif disematkan pada provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia.

Dedi menilai, isu intoleransi yang kerap dikaitkan dengan Jawa Barat lebih banyak dipicu oleh miskomunikasi antarwarga, bukan intoleransi yang mengakar. 

Ia menegaskan bahwa konflik yang muncul biasanya terjadi di wilayah perkotaan dengan masyarakat heterogen, di mana interaksi antarpendatang sering menimbulkan dinamika sosial yang kompleks.

Baca juga: Warga Aceh Polisikan Ade Armando dan Abu Janda, Ini Pemicunya

“Kalau ada konflik intoleransi, lebih disebabkan karena miskomunikasi. Bahkan pelakunya sering bukan warga asli Jawa Barat,” ujarnya.

Menurut Dedi, kondisi sosial Jawa Barat saat ini semakin kondusif. 

Potensi gesekan yang sebelumnya sempat menjadi perhatian publik disebut terus menurun.

Ia menekankan bahwa Jawa Barat adalah provinsi yang terbuka.

Terbukti dari tingginya mobilitas penduduk dari berbagai daerah yang datang untuk tinggal dan bekerja.

“Tidak ada kalimat barbar bagi Jawa Barat. Semua orang bisa hidup di sini dengan nyaman,” tegasnya.

Keberagaman masyarakat Jawa Barat justru dianggap sebagai kekuatan dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis. 

Baca juga: Diduga Cemarkan Nama Baik Jusuf Kalla, Ade Armando dan Abu Janda Akan Dilapor ke Polda Aceh 

Kang Dedi menambahkan, bahwa konflik berbasis suku hampir tidak pernah terjadi di wilayah tersebut.

Persoalan yang sesekali muncul biasanya terkait rumah ibadah, namun menurutnya hal itu dapat diselesaikan melalui dialog dan musyawarah.

“Konflik rumah ibadah bisa diselesaikan dengan pendekatan harmoni,” jelasnya.

Ia menekankan, bahwa komunikasi yang baik dan kebersamaan adalah kunci menjaga keharmonisan di tengah keberagaman. 

Pendekatan dialog diyakini mampu meredam potensi konflik sekaligus memperkuat persatuan.

Dedi berharap Jawa Barat tetap menjadi rumah yang nyaman bagi seluruh warga tanpa memandang latar belakang, suku, maupun keyakinan.

Baca juga: VIDEO - Detik-detik Tegang! Abu Janda Diusir Aiman dari Acara Usai Maki Narasumber

Abu Janda Dipolisikan

Sementara itu, pernyataan Permadi Arya atau Abu Janda sebelumnya juga memicu reaksi keras dari masyarakat Sumatera Barat, yang turut disebut “barbar”. 

Organisasi perantau Minang bahkan melaporkan pernyataan tersebut ke kepolisian.

Polemik ini menunjukkan betapa sensitifnya isu toleransi di ruang publik.

Sekaligus menegaskan pentingnya komunikasi yang bijak agar tidak menimbulkan perpecahan.(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.