Bandung (ANTARA) - Ketua Umum Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Tiongkok (PPIT) Al Busyra Basnur menegaskan generasi muda Indonesia harus mengadopsi etos dan budaya kerja keras masyarakat Tiongkok dalam berbagai bidang termasuk penelitian, agar tidak terus-menerus jadi pasar global.

Mantan diplomat senior tersebut menyatakan, akselerasi kemajuan ekonomi yang dicapai Negeri Tirai Bambu dalam beberapa dekade terakhir tidak lepas dari tingginya disiplin dan daya saing sumber daya manusia (SDM) mereka di dunia kerja.

"Budaya kerja masyarakat di Tiongkok perlu kita pelajari. Mereka adalah pekerja keras yang tidak pernah membuang-buang waktu, dan disiplin waktunya sangat tinggi. Anak-anak muda kita daya kerjanya, daya saingnya, harus lebih ditingkatkan lagi," ujar Al Busyra saat diwawancarai di Bandung, Selasa.

Al Busyra, yang memiliki rekam jejak diplomatik hampir empat dekade di berbagai kawasan mulai dari Filipina, Italia, Amerika Serikat, hingga Afrika ini menilai, Indonesia sejatinya memiliki modal yang sangat besar untuk menjadi kekuatan ekonomi dunia.

Potensi tersebut mencakup cadangan ekonomi berupa ketersediaan bahan baku (raw material), jejaring internasional, hingga kualitas pendidikan.

Namun, potensi besar itu belum optimal karena kalah bersaing dalam hal etos kerja.

Oleh karena itu, dia mengingatkan, jika pembenahan mentalitas kerja ini tidak segera dilakukan, maka dominasi ekonomi asing akan sulit dibendung.

"Indonesia potensinya sangat besar. Tetapi untuk kemajuan ekonomi nasional, kita perlu banyak melihat, belajar, dan memperkuat diri dengan mencontoh banyak negara di dunia, termasuk Tiongkok. Belajarlah dari mereka cara bekerja," katanya.

Lebih lanjut, Al Busyra menyoroti sektor pendidikan yang merefleksikan bagaimana bahasa dan keterampilan berwujud pada jaminan masa depan profesi. Saat ini, penguasaan bahasa Mandarin menjadi magnet profesi karena menjanjikan pendapatan premium di pasar tenaga kerja domestik.

"Saya mendapatkan informasi, tenaga kerja Indonesia yang bisa berbahasa Mandarin dan bekerja di perusahaan Tiongkok di Indonesia, gajinya jauh lebih besar daripada pegawai yang tidak bisa," kata Al Busyra.

Ketimpangan juga terlihat pada arus pertukaran pelajar. Saat ini, jumlah mahasiswa Indonesia yang menempuh studi di Tiongkok telah menembus angka hampir 20.000 orang karena besarnya stimulus beasiswa dari pemerintah setempat.

Sebaliknya, jumlah mahasiswa Tiongkok yang belajar di Indonesia masih sangat minim.

Menyikapi realitas tersebut, Al Busyra menegaskan bahwa PPIT berkomitmen untuk terus menjembatani konektivitas antarmasyarakat (people-to-people connectivity), termasuk mendorong keseimbangan pemberian beasiswa bahasa bagi mahasiswa kedua negara.

"Jujur, Indonesia masih banyak yang harus dibenahi, tidak hanya dari sisi ekonomi tetapi juga dari sisi pendidikan. Ini menjadi momentum bagi kita untuk merenung dan membenahi diri," kata Al Busyra.