BANGKAPOS.COM, BOYOLALI - Hasil autopsi akan memastikan penyebab kematian misterius wanita berinisial A (57), warga Desa Sindon, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.
Korban ditemukan meninggal dunia di kamar rumahnya dalam kondisi tangan mengepal pada Selasa (19/5/2026).
Jasad A pertama kali ditemukan oleh anaknya yang curiga karena lampu rumah belum dimatikan.
Namun keluarga baru melaporkan peristiwa tersebut kepada polisi sepekan kemudian setelah menemukan sejumlah kejanggalan.
Setelah jenazah dimakamkan, keluarga mulai menemukan sejumlah hal yang dianggap tidak wajar hingga akhirnya memutuskan melapor ke polisi.
Kapolres Boyolali AKBP Indra Maulana Saputra meminta masyarakat tidak berspekulasi karena proses penyelidikan masih berlangsung.
“Apakah ada indikasi tanda-tanda kekerasan atau hal lain terkait penyebab meninggalnya itu.”
Ia menegaskan hingga kini pihaknya belum menyimpulkan penyebab kematian korban, termasuk apakah korban meninggal secara wajar atau tidak wajar.
“Kan indikasinya banyak. Apakah karena sakit, apakah karena serangan jantung, atau penyebab lain. Kita masih menunggu hasil autopsi,” jelasnya.
Terkait isu yang beredar bahwa korban meninggal setelah mengonsumsi sate yang dikirim orang tak dikenal melalui ojek online, Kapolres menegaskan hal tersebut masih sebatas dugaan.
Apalagi, jarak waktu antara kejadian dan laporan resmi ke polisi mencapai sekitar satu minggu.
Karena itu, polisi menilai hasil autopsi menjadi petunjuk paling penting untuk mengungkap penyebab kematian korban.
“Karena rumah pun sudah dibersihkan sama keluarga, sudah bersih dan semuanya. Sehingga kita menunggu hasil dari Dokpol saja,” jelas Indra.
Bangkai Ayam Mati Diuji di Laboratorium
Mengenai bangkai ayam yang diamankan keluarga karena diduga mati setelah mematuk sisa sate, AKBP Indra mengatakan barang bukti tersebut masih dalam pemeriksaan laboratorium.
Namun menurutnya, kematian ayam tersebut belum dapat dijadikan petunjuk pasti bahwa sate ayam yang dikonsumsi korban mengandung racun.
Pasalnya, ayam yang mati merupakan ayam liar yang bisa saja mengonsumsi berbagai jenis makanan dari tempat lain.
“Bisa saja ayam itu sudah makan di mana, terus makan itu (sisa sate). Indikasinya kan sangat banyak. Namanya ayam liar itu makannya apa saja,” jelasnya.
Polisi mengimbau masyarakat tidak berspekulasi karena penyebab kematian ayam maupun korban masih dalam proses penyelidikan.
Polres Boyolali akan mengikuti prosedur yang berlaku dan menunggu hasil resmi dari Dokpol Polda Jawa Tengah untuk memastikan penyebab utama kematian korban.
Indra menambahkan, korban ditemukan meninggal dunia di rumahnya di Desa Sindon pada 19 Mei 2026.
Karena saat itu tidak ditemukan tanda-tanda mencurigakan seperti pencurian, keluarga langsung memakamkan jenazah sesuai kaidah agama.
Namun pada 25 Mei 2026 atau sekitar satu minggu setelah pemakaman, keluarga mulai merasa ada kejanggalan terkait kematian korban.
“Satu minggu setelah pemakaman, tepatnya 25 Mei, pihak keluarga terutama anak pelapor merasa ada kejanggalan terkait kematian ibunya. Pihak keluarga memutuskan untuk mencari tahu penyebab pasti kematian almarhumah dan secara resmi membuat laporan ke Polres Boyolali pada tanggal tersebut,” tuturnya.
Hingga kini, polisi masih menunggu hasil autopsi dan pemeriksaan laboratorium untuk mengungkap penyebab pasti kematian wanita tersebut.
Awal Mula Keluarga Curiga
Kakak korban, Widodo, mengungkapkan kejanggalan pertama muncul saat proses pemandian jenazah.
Menurutnya, ditemukan luka berwarna kebiruan pada bagian mulut dan telinga korban.
Selain itu, sehari sebelum meninggal dunia, korban diketahui menerima kiriman sate ayam melalui pengemudi ojek online.
Keluarga mencurigai sate ayam tersebut telah dicampur racun dan menjadi penyebab kematian korban.
Sate ayam itu diduga dikirim oleh menantu korban berinisial P, namun menggunakan nama anak korban, Luriyanti.
Widodo menilai lokasi pembelian sate yang berada dekat rumah Luriyanti diduga dipilih agar pelaku tidak dicurigai.
"Jarak rumah terduga pelaku di Kartasura relatif jauh, namun ia justru memesan sate di area Pandean yang dekat dengan rumah anak korban, sehingga muncul kecurigaan adanya upaya untuk mengambinghitamkan anak korban sendiri," katanya, Senin (1/6/2026), dikutip dari YouTube Tribunnews.com.
Menurut keluarga, sesaat setelah sate dikirimkan, P sempat datang ke rumah korban dengan membawa roti bakar.
Kedatangan tersebut diduga untuk mengecek situasi setelah makanan itu diterima korban.
Saat kasus mulai dilaporkan kepada polisi, P disebut berusaha meredam pihak keluarga agar persoalan tersebut tidak diperpanjang.
Bahkan, menurut keluarga, P sempat menyampaikan kepada aparat bahwa benda yang diberikan kepada korban bukan racun.
Ia berdalih bahwa yang diberikan hanyalah jampi-jampi agar korban lebih mudah saat dimintai uang.
Widodo menuturkan hubungan antara P dan korban selama ini tidak harmonis.
“Terduga pelaku P sering meminta uang ke korban dengan cara berbohong. Jadi P ini tidak merasa bersalah, tidak merasa dosa, dan tidak punya malu,” tuturnya, Minggu (31/5/2026).
Selain itu, P disebut kecanduan judi online dan kerap berutang kepada teman-temannya.
Kecurigaan keluarga semakin menguat setelah beberapa ekor ayam mati usai memakan sisa sate milik korban.
"Ada 5 ekor ayam mati setelah memakan sate sisa dari korban, kemudian untuk sampel satu ekor ayam yang mati itu kita simpan," katanya.
(Trubunjateng.com/Muslimah/Tribunnews.com)