Opini: Menjadi Manusia Indonesia Merdeka di Tengah Bahaya Populisme 
Dion DB Putra June 03, 2026 08:19 AM

Oleh: Gebrile Mikael Mareska Udu
Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

POS-KUPANG.COM - Kemerdekaan sering dipahami sebagai situasi terbebas dari penjajahan bangsa asing. 

Dalam sejarah bangsa, usaha mencapai kemerdekaan itu telah melahirkan citra manusia Indonesia yang merdeka. 

Mereka adalah sosok yang berdiri tegak membela rakyat kecil di depan penindasan kolonial—sosok yang berpikir kritis, berani bersuara, tidak tunduk pada kuasa, sulit diajak kompromi—demi martabat luhur sebuah bangsa. 

Merekalah corong kebenaran di tengah tipu muslihat penjajah. Di hadapan penjajah ada yang tampil agresif-revolusioner, ada pula yang menawarkan pendekatan humanis-reflektif. 

Dewasa ini, citra manusia Indonesia yang merdeka sangat dibutuhkan. Bukan lagi melawan bangsa kolonial melainkan struktur kepemimpinan yang cenderung populis. 

Baca juga: Opini: Kerugian Negara dan Alarm Tata Kelola Keuangan Publik

Penindasan tidak selalu dalam bentuk penjajahan fisik, tetapi juga melalui praktik kekuasaan yang membungkam kritik, memelihara ketakutan, memanfaatkan penderitaan rakyat demi kepentingan politik tertentu serta mengontrol aspirasi publik lewat janji-janji populis yang seringkali tidak berakar pada kenyataan. 

Inilah wajah penjajahan gaya baru pasca kolonial (Urbinati, 2019).
Kita menyaksikan politik hari ini tidak lagi sepenuhnya bergerak melalui gagasan dan argumentasi yang rasional melainkan mengandalkan gimmick, kedekatan emosional, dan pencitraan untuk membangun legitimasi kekuasaan. 

Rakyat tidak selalu diajak memahami persoalan secara kritis, tetapi lebih sering diarahkan untuk merasakan optimisme, kedekatan, dan kesederhanaan narasi yang dibangun penguasa. 

Dalam situasi semacam ini, demokrasi perlahan berisiko berubah menjadi panggung pertunjukan politik, sementara persoalan-persoalan struktural yang nyata justru tersamarkan di balik euforia simbolik.  

Oleh karena itu, kita membutuhkan sosok manusia Indonesia yang merdeka. Sosok yang mampu membongkar mentalitas bangsa di balik fenomena itu. 

Ada dua pemikiran tokoh yang sangat berpengaruh dalam sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia yang dapat dijadikan teladan. Mereka adalah Tan Malaka—dengan nama asli Sutan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka—dan Pramoedya Ananta Toer.

Pemikiran Tan Malaka

Tan Malaka adalah seorang revolusioner, pemikir, dan pejuang kemerdekaan Indonesia yang mengabdikan hidupnya untuk cita-cita Indonesia merdeka dan berdaulat. 

Ia dikenal sebagai tokoh yang berani menentang kolonialisme, hidup dalam pengasingan di berbagai negara, serta tetap setia memperjuangkan keadilan sosial bagi rakyat kecil. 

Bagi Tan Malaka, tembok besar penghalang menuju Indonesia Merdeka adalah alam pikiran bangsa Indonesia yang masih didominasi oleh logika mistika. 

Logika semacam ini membawa bangsa Indonesia pada cara berpikir yang bersifat mistik dan gaib, yang menjelaskan segala sesuatu di dunia ini dengan mengacu pada tindakan roh di alam gaib (Malaka, 2025). 

Tan Malaka sangat terobsesi untuk membebaskan bangsa Indonesia dari kungkungan keterbelakangan ini. 

Menurutnya, logika mistika membuat masyarakat menerima nasib tanpa usaha, karena segala sesuatu dianggap sudah ditentukan oleh kekuatan tak terlihat. 

Ia menyebut bahwa mistik adalah bentuk berpikir yang tidak berkembang, karena tidak membuka ruang untuk pertanyaan, eksperimen, atau pembuktian. 

Dalam pandangannya, logika mistika adalah warisan kolonial dan feodal yang sengaja dipelihara untuk melemahkan daya kritis rakyat. 

Akibatnya masyarakat Indonesia cenderung berpikir pasrah, irasional, dan terlalu bergantung pada kekuatan di luar manusia. 

Padahal, kemiskinan, ketidakadilan, dan keterbelakangan yang mereka alami sesungguhnya merupakan hasil dari sistem kolonial dan feodal yang menindas.

Pembebasan dari logika mistik dan gagasan-gagasan yang didasarkan pada kekuatan gaib itu penting agar manusia Indonesia dapat berpikir kritis mengenai bagaimana berjuang menghadapi penjajah dan tidak terbuai pada romantisme tidak produktif dari gagasan mereka. 

Dalam konteks inilah lahir karya Tan yang berjudul Madilog. Ia menawarkan cara berpikir baru yang dapat menghapus logika mistika itu. Cara berpikir itu sebenarnya sudah tercantum dalam akronim judul bukunya Madilog yakni Ma-(terialisme), Di-(alektika), dan Lo-(gika). 

Yang dimaksud dengan materialisme adalah pemahaman atau pandangan bahwa yang ada adalah materi dan segala sesuatu yang ada mesti berasal dari materi. 

Di sini hendak ditegaskan bahwa materi ada terlebih dahulu untuk menentukan suatu ide. 

Materialisme memandang realitas secara nyata dengan memakai ilmu pengetahuan dan bukan dengan kacamata mitos (Malaka, 2025). 

Tan Malaka mengkritik orang-orang Indonesia yang enggan bersikap kritis dan hanya menggantungkan diri pada agama dan kepercayaan yang mereka yakini membawa mereka pada kebahagiaan akhirat.

Materialisme dalam Madilog dipahami sebagai alat untuk membuka wawasan rakyat tentang kenyataan sosial yang objektif sehingga mereka mampu melihat bahwa penindasan yang dialami bukanlah takdir, melainkan hasil dari sistem kolonial yang perlu diubah. 

Tan Malaka menolak pandangan idealis yang sering mengedepankan gagasan atau cita-cita tanpa memperhatikan kondisi nyata masyarakat. 

Dialektika dalam buku Madilog karya Tan Malaka merupakan metode berpikir yang menekankan bahwa perubahan sosial terjadi melalui proses kontradiksi antara elemen-elemen yang bertentangan, di mana setiap tahapan perubahan dimulai dari tesis (keadaan awal atau status quo), dihadapkan dengan antitesis (oposisi atau konflik terhadap sistem yang ada), hingga mencapai sintesis (penyelesaian konflik yang melahirkan tatanan baru yang lebih maju). 

Tan Malaka memandang dialektika sebagai alat untuk memahami bahwa perubahan dalam masyarakat selalu terjadi melalui proses kontradiksi antara kelas penindas (penjajah) dan kelas tertindas (rakyat Indonesia). 

Dialektika membantu membangun kesadaran bahwa perubahan politik hanya mungkin terjadi jika rakyat sadar akan posisi dan hak mereka (Malaka, 2025). 

Terakhir logika dalam Madilog digunakan untuk membentuk cara berpikir yang rasional, yang dapat menolak segala bentuk irasionalitas dan dogma yang dipaksakan oleh penjajah. 

Tan Malaka percaya bahwa hanya dengan cara berpikir logis dan terstruktur, rakyat Indonesia dapat memahami dan melawan penjajahan.

Logika menjadi alat penting untuk mengarahkan kesadaran kolektif ke arah pembebasan, sekaligus menjaga fokus pada tujuan nasional yaitu kemerdekaan dan keadilan sosial. 

Bagi Tan Malaka, logika adalah pondasi yang akan membangun kemampuan berpikir kritis di kalangan rakyat agar mereka tidak mudah terpengaruh oleh ideologi kolonial (janji-janji, pujian) yang menyesatkan.

Pemikiran Pramoedya Ananta Toer

Tokoh kedua adalah Pramoedya Ananta Toer. Pendekataannya cenderung humanis-reflektif. 

Jika Tan Malaka menginginkan bangsa Indonesia beralih dari logika mistik menuju cara berpikir yang materialis, dialektis, dan logis agar menjadi manusia yang merdeka, maka Pramoedya Ananta Toer menekankan pentingnya membebaskan manusia Indonesia dari mentalitas bangsa terjajah yang tunduk pada kekuasaan. 

Bagi Pram, mentalitas tersebutlah yang telah meninabobohkan daya kritis dan juang untuk keluar dari penindasan. 

Kritikan Pram bisa ditemukan dalam berbagai novel yang ia hasilkan salah satunya novel Bumi Manusia (BM). 

Pram merefleksikan bahwa kecenderungan mengagungkan kekuasaan itu sebagai hal yang biasa karena lahir dari sikap tunduk, takut, silau terhadap kekuasaan sehingga apapun yang dikehendaki penguasa diterima begitu saja. 

Berikut ini contoh kutipan yang terdapat dalam novel Bumi Manusia, Apa guna belajar ilmu dan pengetahuan Eropa, bergaul dengan orang-orang Eropa, kalau akhirnya toh harus merangkak, beringsut seperti keong dan menyembah seorang raja kecil yang barangkali buta huruf pula? (Toer, 2005)


Kutipan tersebut menggambarkan kritik Pram melalui tokoh Minke.  Bahwasanya budaya feodal-lah yang membuat manusia kehilangan martabatnya di depan kekuasaan. Selain itu ada juga gambaran rasa inferior bangsa pribumi di hadapan bangsa Eropa.

“Begitu berhadapan dengan seorang Eropa, orang-orang pribumi itu seakan kehilangan harga dirinya.” (Toer, 2005).

Pram memperlihatkan bagaimana kolonialisme membentuk mentalitas bangsa terjajah yakni, silau terhadap kekuasaan, takut melawan dan merasa diri lebih rendah.

Berhadapan dengan gambaran mentalitas buruk tersebut, Pram akhirnya juga memberikan suatu perlawanan melalui tokoh Minke. 

Ketika ia dipaksa untuk menghadap bupati dengan ritual merangkak dan menyembah ada momen penolakan dalam batinnya. 

Baginya ini adalah bentuk penghinaan terhadap martabat manusia yang bertentangan dengan pendidikan modern yang ia terima (Toer, 2005).

Pada intinya, Pram melalui karyanya hendak mengatakan bahwa kekuasaan tidak selalu bekerja melalui kekerasan atau kebijakan politik semata, tetapi juga melalui pembentukan mentalitas masyarakat yang membuat rakyat terbiasa tunduk, mengagungkan penguasa, dan kehilangan keberanian untuk bersikap kritis terhadap kekuasaan.

Membaca Populisme dan Krisis Manusia Indonesia yang Merdeka

Dari pemikiran Tan Malaka dan Pramoedya Ananta Toer tampak bahwa kemerdekaan manusia Indonesia tidak cukup dipahami hanya sebagai terbebas dari penjajahan fisik. 

Tan Malaka melihat bahwa penjajahan juga bekerja melalui cara berpikir yang membuat rakyat kehilangan daya kritisnya. 

Karena itu, melalui Madilog—materialisme, dialektika, dan logika—ia berusaha membebaskan manusia Indonesia dari logika mistika agar rakyat mampu melihat realitas sosial secara rasional dan memahami bahwa ketidakadilan bukanlah takdir, melainkan hasil dari struktur sosial dan politik yang dapat diubah.

Sementara itu, Pramoedya Ananta Toer membongkar warisan mentalitas feodal yang membuat rakyat terbiasa tunduk, takut, silau terhadap kekuasaan, dan kehilangan keberanian untuk menjaga martabatnya di depan penguasa. 

Jika Tan mengkritik ketidakmampuan rakyat untuk membaca realitas secara rasional, maka Pramoedya mengkritik kebiasaan masyarakat yang terlalu mudah mengagungkan penguasa. 

Dalam sintesis keduanya, manusia Indonesia yang merdeka adalah manusia yang tidak mudah dikuasai oleh rasa takut, euforia, maupun simbol-simbol kekuasaan. 

Ia mampu berpikir kritis terhadap relaitas sosial sekaligus menjaga martabatnya sebagai warga negara yang sadar akan hak dan kepentingannya. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.