BANGKAPOS.COM, BELITUNG - Deburan ombak memecah kesunyian sore di pesisir Desa Batu Itam, Kecamatan Sijuk, Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Di antara hamparan pasir putih dan laut yang tenang, gugusan batuan tua berdiri kokoh menghadap cakrawala.
Saat matahari perlahan turun ke ufuk barat, warna jingga mulai menyelimuti kawasan Pantai Batu Pengasah, menciptakan panorama yang memikat siapa saja yang datang.
Sekilas, pantai ini tampak seperti destinasi pesisir pada umumnya.
Air laut yang jernih, pasir putih, serta semilir angin menjadi suguhan pertama yang menyambut pengunjung.
Namun, ketika melangkah lebih dekat ke hamparan batuan yang membentang di sepanjang pantai, tersimpan cerita panjang tentang sejarah alam dan kehidupan masyarakat pesisir Belitung.
Nama Batu Pengasah bukanlah sekadar penanda lokasi.
Menurut cerita yang diwariskan turun-temurun, batuan di kawasan tersebut dahulu kerap dimanfaatkan para nelayan untuk mengasah parang, pisau, dan berbagai peralatan yang digunakan saat melaut.
“Kalau cerita orang tua, dulu batu-batu di sini sering dipakai untuk mengasah parang atau pisau. Makanya tempat ini dinamakan Pantai Batu Pengasah,” ujar Sandi, anggota Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Tunas Batu Pengasah, Minggu (31/5/2026).
Keunikan pantai ini tidak hanya terletak pada sejarah penamaannya. Kawasan tersebut juga menyimpan kekayaan geologi yang langka.
Salah satu daya tarik utama adalah keberadaan batuan arkose yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai batu pengasah.
Berdasarkan pengamatan sejumlah ahli geologi, batuan itu diperkirakan berusia sangat tua, bahkan lebih tua dari periode Jura maupun Trias.
Selain arkose, terdapat pula batuan lava bantal berwarna kemerahan yang terbentuk akibat aktivitas vulkanik purba.
Kehadiran dua jenis batuan tersebut menjadikan Batu Pengasah tidak hanya menarik sebagai tujuan wisata, tetapi juga sebagai lokasi pembelajaran geologi yang bernilai tinggi.
Pantai ini mulai dikembangkan sebagai destinasi wisata sekitar 2022.
Berawal dari kegiatan eksplorasi jalur tracking yang dilakukan tim desa, potensi kawasan tersebut kemudian mulai diperkenalkan kepada masyarakat luas.
Menjelang petang, Batu Pengasah berubah menjadi salah satu lokasi terbaik menikmati matahari terbenam di Belitung.
Posisi pantai yang langsung menghadap laut lepas membuat pemandangan senja terlihat begitu sempurna.
Siluet batuan purba yang berpadu dengan cahaya keemasan matahari menjadi daya tarik tersendiri bagi para fotografer maupun pemburu konten visual.
“Pengunjung bisa menikmati sunset dengan latar hamparan batu khas Batu Pengasah. Itu salah satu daya tarik utama di sini,” kata Sandi.
Keindahan pantai semakin lengkap dengan hamparan hutan mangrove yang tumbuh subur di sekitarnya.
Berbagai jenis mangrove, seperti Rhizophora, Perpat, Truntum, Nipa, Nyire, hingga Buta-buta, membentuk ekosistem pesisir yang masih terjaga.
Bagi pengunjung, kawasan mangrove bukan hanya tempat menikmati alam.
Area ini juga menjadi ruang edukasi terbuka tentang pentingnya menjaga lingkungan pesisir.
Wisatawan dapat menyusuri jalur mangrove, mengenal fungsi ekologisnya, hingga mengikuti kegiatan penanaman bibit.
“Melalui kegiatan edukasi ini kami ingin mengajarkan pentingnya mangrove bagi kehidupan. Mangrove berfungsi melindungi pantai dari abrasi dan menjadi habitat berbagai jenis ikan untuk berkembang biak,” jelas Sandi.
Beragam aktivitas lain juga dapat dicoba, mulai dari mencari kerang timong, berburu kepiting bakau, hingga menyaksikan langsung aktivitas warga yang mencari hasil laut di sekitar kawasan tersebut.
Menariknya, seluruh pengalaman itu dapat dinikmati dengan biaya yang sangat terjangkau.
Berbekal tiket masuk Rp3.000 per orang, pengunjung sudah bisa menikmati panorama pantai, menyusuri kawasan mangrove, berenang, serta memanfaatkan fasilitas yang tersedia.
Lokasinya pun relatif mudah dijangkau dari Tanjungpandan.
Setelah melewati Jembatan Kubu menuju arah Pantai Tanjung Tinggi, pengunjung hanya perlu mengikuti penunjuk arah menuju gerbang Batu Pengasah dan berjalan kaki menyusuri jalur mangrove menuju pantai.
Di tengah menjamurnya destinasi wisata modern, Pantai Batu Pengasah menawarkan sesuatu yang berbeda.
Bukan hanya keindahan alam, tetapi juga perpaduan antara sejarah budaya nelayan, jejak geologi purba, dan pelajaran tentang pentingnya menjaga ekosistem pesisir. (Posbelitung.co/Dede Suhendar)