Embun Beku Menyelimuti Savana Propok, Wisatawan Berbondong Nikmati Sensasi Dingin Ekstrem
Idham Khalid June 03, 2026 11:20 AM

 

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Rozi Anwar 

TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK TIMUR - Fenomena langka menghiasi kawasan non-pendakian Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), tepatnya di Savana Propok, Desa Bebidas, Kecamatan Wanasaba, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Hamparan rerumputan luas yang biasanya kering dan hangat kini berubah putih keperakan oleh lapisan es yang membeku setiap pagi dalam beberapa hari terakhir.

Pemandangan eksotis ini sontak menjadi magnet baru bagi para pelancong. Rosidi Anwar, salah satu pengelola kawasan Savana Propok, mengungkapkan bahwa fenomena es tersebut telah berlangsung selama tiga hari terakhir. Bahkan, suhu udara pada pagi hari sempat menyentuh angka 2 hingga 4 derajat Celcius.

"Sudah tiga hari berturut-turut es ini muncul. Suhu paginya bisa turun sampai 2–4 derajat," kata Rosidin saat ditemui, pada Rabu (3/6/2026).

Menurutnya, kehadiran butiran-butiran es yang menempel di ujung rumput layaknya kristal-kristal kecil menjadikan Savana Propok semakin mempesona. 

Tak hanya di dedaunan, es juga menyelimuti tenda-tenda para pengunjung yang bermalam di Savana Propok.

"Jumlah pengunjung yang camping cukup meningkat. Pemandangannya makin cantik, ada es berbentuk kristal di rumput dan di tenda," tambahnya.

Kepala Subbagian Tata Usaha TNGR, Astekita Ardiaristo, menjelaskan bahwa fenomena beku di ketinggian Savana Propok merupakan hal yang wajar terjadi, terutama ketika memasuki masa peralihan musim.

"Ini fenomena biasa di kawasan pegunungan. Apalagi sekarang sudah mulai kemarau dan ada pengaruh dari musim dingin di Benua Australia yang mulai terjadi," jelas Astekita.

Baca juga: Savana Propok Rinjani Terbakar, Pemadaman Dihentikan Sementara

Meski suhu ekstrem melanda, kawasan Savana Propok tetap dibuka untuk umum. Namun, pihak pengelola memberikan peringatan serius bagi para calon pendaki atau pengunjung yang ingin bermalam. 

Wisatawan diminta mempersiapkan perlengkapan tebal seperti jaket musim dingin dan sleeping bag yang lebih hangat, terutama untuk menghadapi malam hingga pagi hari.

"Kami hanya mengingatkan agar pendaki lebih siap, terutama bawa jaket atau sleeping bag yang tebal," pungkas Astekita.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut fenomena suhu udara dingin yang terjadi di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) masih berpotensi berlangsung hingga Juli atau Agustus 2026.

Kondisi ini dipengaruhi dinamika atmosfer, termasuk penguatan dan pelemahan angin monsun Australia.

BMKG mencatat suhu terendah terjadi di wilayah Sembalun, Lombok Timur, pada 31 Mei 2026 pukul 06.30 Wita, yang mencapai sekitar 8 derajat Celsius.

Sementara itu, suhu di wilayah lain di NTB terpantau berkisar antara 17,9 hingga 21,5 derajat Celsius.

Forecaster BMKG Bandara Internasional Lombok (BIL), Aprilia Mustika, menjelaskan bahwa kondisi suhu dingin di malam hingga pagi hari merupakan fenomena yang umum terjadi saat memasuki periode musim kemarau atau peralihan menuju musim kemarau.

Menurutnya, minimnya tutupan awan pada siang hingga sore hari membuat panas yang diterima permukaan bumi lebih mudah dilepaskan kembali ke atmosfer pada malam hari.

“Minimnya tutupan awan di siang atau sore hari menyebabkan panas yang diserap bumi pada siang hari akan lebih mudah dilepaskan kembali ke atmosfer dengan sangat cepat (radiasi balik) tanpa adanya penghalang yaitu awan,” ujar Aprilia Mustika.

Selain itu, kelembapan udara yang relatif rendah turut menyebabkan suhu lebih cepat turun pada malam hari. Kondisi tersebut membuat permukaan bumi tidak mampu mempertahankan panas setelah matahari terbenam.

“Kelembaban udara yang rendah menyebabkan permukaan bumi tidak bisa menahan panas lebih lama setelah matahari terbenam. Alhasil, udara dingin dari lapisan atmosfer atas lebih mudah turun ke permukaan,” katanya.

Faktor lain yang turut berpengaruh adalah pergerakan angin musiman. Saat ini, wilayah NTB telah memasuki periode angin monsun Australia yang membawa massa udara kering dari Benua Australia ke wilayah Indonesia bagian selatan.

“Pergerakan angin di wilayah NTB sudah memasuki monsun Australia yang membawa massa udara bersifat kering, sehingga mendukung kondisi cuaca tersebut,” jelasnya.

BMKG juga menyebut, dalam beberapa hari ke depan suhu udara diperkirakan mengalami sedikit peningkatan. Hal ini disebabkan oleh melemahnya kecepatan angin sehingga pengaruh massa udara dingin dari Australia berkurang, serta meningkatnya kelembapan atmosfer yang mendukung pembentukan awan.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.