TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kepala Badan Meteorologi dan Klimatologi Geofisika (BMKG) RI periode 2017-2025, Prof Ir Dwikorita Karnawati, kembali menyampaikan pernyataan mengenai potensi gempa megathrust Jawa.
Dwikorita mengatakan ancaman gempa megathrust Jawa sama sekali bukan untuk menakut-nakuti masyarakat, melainkan sebagai dasar vital guna merancang skenario mitigasi dan kesiapsiagaan yang terukur.
Mengingat adanya seismic gap (zona kekosongan gempa besar) di titik kritis seperti Selat Sunda, Selatan Jawa, dan Mentawai yang telah menyimpan energi selama lebih dari 200 tahun.
“Data keilmuan ini mutlak diperlukan sebagai acuan kesiapan struktural darurat,” kata Dwikorita dalam seminar mengenai penanggulangan kebencanaan dengan tajuk “20 Tahun Gempa Yogya 2006 dan Antisipasi Gempa Bumi Megathrust Jawa” pada Sabtu (31/5/2026) di Ruang Multimedia, Gedung Pusat UGM.
Dia mengingatkan masyarakat untuk menyikapi informasi ancaman geologi ini dengan tenang, memperkuat edukasi mitigasi dan jalur evakuasi, serta tidak mudah terpancing oleh hoaks, agar selalu siap siaga merespons skenario terburuk kapan pun bencana tersebut melanda.
Meski belum adanya penelitian yang secara akurat dapat memprediksi gempa, Dwikorita menegaskan para ilmuwan terus mengupayakan meskipun hasilnya belum akurat.
"Lalu, kenapa ilmuwan repot-repot memikirkan hal yang sulit dicocokkan ini? Tujuannya adalah agar kita bisa menyusun mitigasi dan kesiapsiagaan. Hasil riset ini diperlukan untuk membangun skenario. Skenario adalah suatu asumsi seandainya itu terjadi. Karena tanpa skenario sama sekali, tidak ada dasar pegangan untuk melakukan mitigasi,” jelasnya.
Pakar gempa dari Teknik Geologi UGM, Ir Gayatri Indah Marliyani, menjelaskan pemahaman geologi mengenai ancaman sesar aktif dan potensi megathrust di Selatan Jawa sangat krusial sebagai fondasi utama mitigasi bencana, bukan untuk memicu kepanikan di masyarakat.
Mengingat ilmu pengetahuan saat ini belum mampu memprediksi kapan gempa akan terjadi dan adanya tantangan hilangnya memori kolektif mengenai bencana pada generasi muda pascagempa Jogja 2006.
“Daripada fokus untuk menebak-nebak kapan gempa akan terjadi, yang lebih utama adalah bagaimana memitigasi risiko dari bencana tersebut,” ujarnya.
Dia pun menyoroti bahwa sebenarnya megathrust sendiri dalam 32 tahun terakhir sudah pernah terjadi dua kali di Jawa, yaitu pada tahun 1994 di Banyuwangi Selatan (disertai tsunami destruktif) dan tahun 2006 di Pangandaran (juga disertai tsunami, tak lama setelah gempa darat Jogja).
Baca juga: Belajar dari Gempa Jogja 2006, Pengamat Ungkap Modal Utama Hadapi Megathrust Jawa
Terkait ancaman megathrust tersebut, Gayatri mengajak masyarakat dan pemerintah untuk membangun infrastruktur rumah yang tahan gempa.
"Kita harus memperkuat rumah tahan gempa, membuat dan mengenali jalur evakuasi, serta mengikuti informasi yang valid agar tidak termakan hoaks yang menakut-nakuti,” ingatnya.
Rektor UGM, Prof dr Ova Emilia, menyoroti bagaimana kemampuan masyarakat Yogyakarta bangkit dengan cepat dari kejatuhan pascagempa 2006, sekaligus fenomena "paradoks Yogyakarta" dimana masyarakatnya memiliki angka harapan hidup tertinggi dengan mortalitas ibu dan bayi terendah di Indonesia, meski dihadapkan pada tingkat kemiskinan dan penyakit yang cukup tinggi dalam keynote speech-nya yang berjudul, “Kearifan Lokal dan Masyarakat Tangguh Bencana di Yogyakarta”.
Ova menjelaskan percepatan pemulihan pasca bencana ditopang oleh tingginya modal sosial (seperti gotong-royong dan andhap asor) serta nilai spiritual nerimo ing pandum, yang berfungsi sebagai mekanisme koping tangguh dan memberikan kebermaknaan hidup melampaui ukuran materi semata.
“Saya kira ini menjadi fenomena yang perlu kita pelajari untuk mempersiapkan apa yang akan datang. Jogja memiliki kekayaan nilai sosial, budaya, dan spiritual,” paparnya.
Seperti diketahui, gempa yang terjadi pada 27 Mei 2006 silam dengan magnitudo 6,4 SR tersebut mengakibatkan kerugian yang sangat besar bagi Yogyakarta dan sekitarnya.
Berdasarkan data yang dihimpun oleh Bappenas bersama Pemerintah Jawa Tengah, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta, dan sejumlah mitra internasional, gempa Bantul tahun 2006 mengakibatkan sekitar 5.700 korban meninggal dunia dan 70.000 orang mengalami luka-luka.
Bencana tersebut juga menyebabkan sekitar 154.000 rumah hancur serta 260.000 rumah mengalami kerusakan berat, dengan total kerugian yang ditaksir mencapai Rp29,1 triliun. (hda)