Bukan Mistis, Teror Api Rumah Seyegan Barasal dari Gas: Bupati Sleman Upayakan Langkah Penanganan
Joko Widiyarso June 03, 2026 01:03 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman menegaskan bahwa fenomena "teror api" misterius yang muncul dan melanda rumah Agusyani di Padukuhan Mriyan X, Dusun Kasuran, Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, tidak disebabkan oleh faktor mistis.

Hasil observasi dan penelitian lintas sektoral yang melibatkan para ahli memastikan bahwa kobaran api yang terus berulang dan bermunculan di beberapa titik diduga dipicu oleh kebocoran gas dari bawah tanah.

Hingga Selasa (2/6/2026) malam, atau hari kesebelas sejak pertama kali muncul, teror api di rumah dua lantai tersebut sama sekali belum berhenti.

Tercatat sudah ada 83 titik api yang membakar berbagai barang penghuni rumah. Selepas petang kemarin, dua titik api kembali menyala hebat dan memicu kepanikan warga.

Sekitar pukul 18.56 WIB, kardus dan terpal di atas gerobak yang berada di sawah belakang rumah terbakar dengan kobaran menjilat setinggi dua meter.

Berselang sepuluh menit, api menyambar dapur dan merembet ke regulator tabung gas. Beruntung, kesiapsiagaan warga yang berjaga menggunakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) berhasil meredam kebakaran sebelum meluas.

Total ada lima titik api baru yang muncul dalam sehari kemarin, termasuk satu titik yang menyambar sprei jemuran di utara rumah korban.

Berkoordinasi secara intensif 

Bupati Sleman Harda Kiswaya mengungkapkan, pihaknya telah berkoordinasi secara intensif dengan Rektor UPN "Veteran" Yogyakarta, pakar geologi Prof. Basuki, serta tim ahli dari UGM untuk merumuskan langkah-langkah penanganan. 

Satu di antara upaya yang dilakukan adalah dengan menggali lubang di beberapa titik yang diindikasikan sebagai sumber munculnya gas. 

"Kan dari UPN dan UGM kemarin katanya ada gas metana. Nah dalam rangka mencari itu sekarang itu bikin lubang-lubang untuk mencari aliran gas itu di tempat-tempat yang dimungkinkan (sumber gas)," kata Harda. 

Pembuatan lubang evakuasi gas ini difokuskan di area dekat rumpun bambu (dapuran pring) yang pernah terbakar, lokasinya berjarak 300an meter di belakang rumah Agusyani, serta area bendungan terdekat.

Langkah ini dilakukan secara hati-hati menggunakan cangkul terlebih dahulu guna menghindari risiko pengerukan massal yang dapat memicu semburan gas tidak terkendali. 

Kendati demikian, Harda menegaskan, Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Pemukiman (DPUPKP) Sleman telah disiagakan penuh apabila sewaktu-waktu membutuhkan alat berat untuk penggalian lubang. 

Jika gas besar, bisa dimanfaatkan 

Menurut Bupati, jika hasil penelitian laboratorium menunjukkan volume gas yang ditemukan sangat besar, pemerintah berencana memanfaatkannya untuk kemaslahatan warga. 

"Nanti akan diteliti seberapa besar potensinya. Kalau memang potensinya gede, dari UGM dan UPN menyarankan bisa kita (salurkan) ke masyarakat untuk sumber gas," katanya. 

Terkait Agusyani dan keluarga yang rumahnya terus dilanda kebakaran berulang, Harda menyarankan keluarga Agusyani agar sementara waktu mengosongkan lantai dasar dan memindahkan aktivitas tidur ke lantai atas atau lantai dua.

Struktur bangunan bawah dinilai masih rawan karena diduga berada tepat di atas jalur rekahan (patahan) migrasi gas. 

Lantai dasar rumah tersebut pernah ada rencana untuk dikeruk lalu dilapisi material khusus agar pori-pori tanah tertutup rapi.Terkait logistik dan penanganan dampak sosial akibat fenomena langka ini, Bupati Sleman memastikan bahwa Pemerintah akan hadir untuk memberikan jaminan bantuan. 

"(Mengenai perbantuan makanan) Pasti, kami bantu. Harusnya itu standar pelayanan lah. (Soal bantuan tempat tinggal sementara) Belum terpikirkan, karena tidak ada tempat juga dan belum tentu Pak Agus dan keluarga kerso. Tapi tinggal di lantai atas aman," kata Harda. Ia juga memastikan akan memberikan bantuan jika memang nanti ada rekomendasi pengerukan lantai dasar rumah Agusyani untuk menutup celah munculnya gas. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.