TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Teror kebakaran misterius yang terjadi rumah milik Agus Yani di Kasuran, Margomulyo, Seyegan, Sleman sejak beberapa hari terakhir hingga saat ini masih terus terjadi.
Hingga Selasa (2/6/2026) dini hari, setidaknya sudah terjadi 83 kebakaran di rumah tersebut.
Kebakaran misterius itupun menarik perhatian dari sejumlah ahli dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta dan Universita Gadjah Mada (UGM) untuk melakukan penelitian.
Dari penelitian awal, tim menemukan adanya kandungan gas baik metana maupun hidrogen di lokasi kebakaran.
Meski belum disimpulkan, diduga kuat, penyebab kebakaran misterius itu karena gas.
Tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) yang mendatangi langsung lokasi kebakaran beberapa waktu lalu mendeteksi adanya lonjakan suhu drastis yang dibarengi dengan kenaikan volume gas Hidrogen (H2) pada barang yang terbakar di rumah tersebut.
Fenomena ini disebut auto-ignition atau penyalaan spontan, di mana api muncul sendiri tanpa pemantik eksternal akibat unsur dalam 'segitiga api' mencapai kondisi optimum pada posisi stoikiometri.
Ketua Tim Peneliti dari Fakultas Teknik UGM, Prof. Ir. Alva Edy Tantowi menjelaskan, sifat gas yang dinamis menjadi alasan mengapa titik kebakaran di rumah Agusyani selalu acak dan berpindah-pindah di dalam rumah.
"Jadi ada satu kondisi mengapa barang (yang) terbakar bisa berpindah-pindah, karena berupa gas. Gas itu bisa berkonsentrasi di sana, memenuhi syarat (segitiga api), maka menyala. Nanti pindah lagi, memenuhi syarat, menyala lagi," jelas Prof. Alva, Senin (1/6/2026).
Saat melakukan observasi di lokasi kejadian, tim peneliti UGM yang terdiri dari pelbagai disiplin ilmu ini menyaksikan langsung selembar kaos yang tergantung di dalam kamar ruang tengah mendadak terbakar.
Api sempat dipadamkan menggunakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR), namun api di kaos tersebut kembali menyala.
Melalui instrumen alat ukur, atmosfer di dalam ruang kamar tersebut diduga mengandung unsur pemicu yang tinggi. Namun, gas tidak dapat menyala sendiri tanpa ada media fisik. Misalnya kain, kertas ataupun barang-barang yang posisinya tergantung.
Oleh karena itu, untuk meminimalisir risiko kebakaran susulan yang lebih besar, Prof. Alva meminta agar ruangan-ruangan dengan konsentrasi gas tinggi segera dikosongkan dari segala benda yang mudah terbakar.
"Ruangan tadi saya minta dikosongkan, agar meminimalisir kebakaran karena di ruangan itu ada kain, media yang mudah terbakar," kata dia.
Baca juga: Hari Kesebelas Teror Api di Sleman: 83 Titik Kebakaran Misterius di Rumah Agus Yani
Dikutip dari berbagai sumber, gas hidrogen (H2) adalah unsur kimia paling sederhana, paling ringan, dan paling melimpah di alam semesta.
Pada kondisi suhu dan tekanan standar, hidrogen tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa, dan berbentuk gas diatomik (terdiri dari dua atom hidrogen yang berikatan).
Gas hidrogen sangat mudah terbakar karena memiliki karakteristik kimia yang unik dan reaktivitas yang tinggi terhadap oksigen.
Gas hidrogen akan terbakar jika tiga unsur utamanya terpenuhi.
Ketiga unsur utama itu yakni :
4. Mengapa Hidrogen Sangat Mudah Meledak?
Jika gas hidrogen bercampur dengan oksigen di udara dalam proporsi tertentu (rentang konsentrasi 4 persen hingga 75 persen) dan terkena percikan api, reaksi pembakaran akan berjalan sangat cepat.
Kecepatan reaksi yang ekstrem ini menyebabkan ekspansi gas secara mendadak yang menghasilkan gelombang kejut atau ledakan. (*)