Rupiah Sentuh Rp17.900 per Dollar AS, Terlemah Sepanjang Sejarah
Faisal Zamzami June 03, 2026 03:03 PM

 

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan berat dan menembus level Rp17.900 per dollar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (3/6/2026).

Pelemahan ini menjadi rekor terburuk sepanjang sejarah rupiah terhadap mata uang Negeri Paman Sam.

Data pasar menunjukkan rupiah sempat berada di kisaran Rp17.890 per dollar AS pada pagi hari dan terus melemah hingga menyentuh Rp17.926 per dollar AS menjelang siang.

Kondisi tersebut menempatkan rupiah sebagai salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Asia pada hari yang sama.

Penguatan dollar AS menjadi faktor utama yang menekan mata uang negara berkembang. Meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah mendorong investor global memburu aset aman (safe haven), termasuk dollar AS.

Selain itu, pasar juga menilai peluang kenaikan suku bunga bank sentral AS (The Fed) masih terbuka setelah sejumlah indikator ekonomi Amerika menunjukkan kondisi yang relatif kuat.

Di kawasan Asia, sebagian besar mata uang bergerak terbatas. Yen Jepang dan dollar Singapura mencatat penguatan tipis terhadap dollar AS, sementara won Korea Selatan, baht Thailand, peso Filipina, ringgit Malaysia, dan yuan China mengalami pelemahan.

Baca juga: Rupiah Melemah, Harga Ayam Geprek Masih Aman: Benarkah Kita Bisa Santai?

Secara kumulatif sejak awal tahun, rupiah tercatat melemah sekitar 6,82 persen dibandingkan posisi akhir 2025.

Angka tersebut menjadikan rupiah sebagai salah satu mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia sepanjang 2026.

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menilai sentimen eksternal masih mendominasi pergerakan rupiah.

Menurutnya, konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Iran dan jalur perdagangan energi global, meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan minyak dan gas dunia.

Selain faktor geopolitik, kebijakan perdagangan terbaru Pemerintah AS juga menjadi perhatian pelaku pasar.

Presiden Donald Trump baru-baru ini menandatangani kebijakan perubahan tarif impor untuk sejumlah komoditas industri, yang dinilai dapat memengaruhi arus perdagangan global dan memperkuat posisi dollar AS.

Dari dalam negeri, inflasi Indonesia pada Mei 2026 tercatat meningkat menjadi 0,28 persen secara bulanan.

Sementara itu, inflasi tahunan berada di level 3,08 persen. Meski demikian, terdapat sejumlah indikator positif, seperti membaiknya aktivitas manufaktur dan berlanjutnya surplus neraca perdagangan.

Data S&P Global menunjukkan PMI Manufaktur Indonesia naik ke level 50,0 pada Mei 2026 setelah sebelumnya berada di level 49,1 pada April.

Di sisi lain, neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus dengan total mencapai 5,64 miliar dollar AS sepanjang Januari hingga April 2026.

Meskipun terdapat beberapa sentimen positif dari domestik, tekanan eksternal dinilai masih menjadi faktor dominan yang membayangi pergerakan rupiah dalam jangka pendek.

Pelaku pasar kini menantikan perkembangan konflik geopolitik global serta arah kebijakan moneter AS yang akan menentukan pergerakan mata uang dunia dalam beberapa bulan mendatang.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.