TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Mentari pada Rabu (3/6/2026) siang menyengat kawasan Batu Busuk, Kelurahan Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, Kota Padang.
Di bawah cuaca yang gerah itu, deru mesin kendaraan sesekali memecah keheningan di wilayah yang beberapa waktu lalu luluh lantak dihantam banjir bandang.
Di tepi jalan, sebuah bangunan bersahaja berdiri, kontras dengan lanskap sekitarnya yang masih menyisakan trauma visual akibat amukan air tangis alam.
Di dalam bangunan baru itulah Desi terlihat sibuk menata beberapa barang dagangan. Tangannya yang cekatan menyusun barisan mi instan dan minuman kemasan di atas.
Baca juga: Dari Daerah untuk Indonesia, Tribun Network Gelar Cita Loka Fest 2026 di Aryaduta Jakarta
Warung ini adalah ruang hidup barunya, sebuah tempat di mana ia kembali merajut asa ekonomi keluarga yang sempat terputus total.
Bagi Desi, kedai kecil ini bukan sekadar tempat bertransaksi jual beli, melainkan simbol ketangguhan.
Jauh sebelum hari ini, ia adalah pemilik sebuah warung mapan yang menjadi sumber nafkah utama keluarganya.
Namun, dalam hitungan jam saat banjir bandang menerjang kawasan tersebut, seluruh investasi hidupnya hanyut tanpa sisa, meninggalkan duka mendalam dan ketidakpastian.
"Kalau hanya meratapi yang sudah hilang, dapur tidak akan mengepul," ujar Desi saat ditemui.
Kerutan di wajahnya tidak mampu menyembunyikan gurat ketabahan yang kuat, sebuah cerminan dari banyak warga pinggiran Padang yang dipaksa berteman dengan risiko bencana hidrometeorologi.
Baca juga: UPDATE Peluru Nyasar di UNP, Mahasiswi Sosiologi Masih Dirawat, Kampus Koordinasi dengan Pangdam
Proses bangkitnya Desi tidak terjadi dalam semalam. Bangunan tempatnya berjualan saat ini merupakan buah dari gotong royong dan uluran tangan berbagai pihak, mulai dari komunitas relawan hingga bantuan sosial pascabencana.
Solidaritas sosial inilah yang menjadi jembatan pertama bagi para penyintas untuk keluar dari fase kritis kedaruratan.
Namun, Desi sadar betul bahwa ketergantungan pada filantropi memiliki batas kedaluwarsa.
Ketergantungan yang berkepanjangan justru akan mematikan daya hidup. Atas dasar kesadaran itulah, ia memilih segera membuka kembali usahanya secara berangsur-angsur, mengais kembali modal tersisa demi menopang masa depan secara mandiri.
Langkah kaki untuk mandiri memang harus dijemput sesegera mungkin oleh para korban. Menunggu bantuan pemerintah atau donatur terus-menerus bukanlah pilihan yang bijak di tengah dinamika ekonomi pascapandemi dan bencana global yang kian tidak menentu.
Baca juga: PT Semen Padang Peringati Hari Lahir Pancasila, Teguhkan Semangat Persatuan
Sementara warga lain bernama Depi sedang melihat rumah indekos yang sebelum bencana menjadi sumber pendapatan pasif bagi keluarganya.
Sebelum air bah datang merendam kawasan Pauh, kamar-kamar indekos milik Depi selalu terisi penuh oleh mahasiswa maupun pekerja lokal.
Lokasi Batu Busuk yang relatif dekat dengan beberapa akses fasilitas publik dan kampus menjadikannya salah satu kawasan hunian sewa yang cukup diminati di pinggiran Kota Padang.
Kini, suasananya berubah drastis menjadi lengang. Kamar-kamar itu kosong melompong, menyisakan lantai yang bersih namun hampa.
Para penghuni lama memilih angkat kaki pascabencana, kemungkinan besar karena faktor trauma psikologis atau kekhawatiran akan aksesibilitas dan keamanan lingkungan yang belum sepenuhnya pulih.
Kehilangan penyewa menjadi pukulan sekunder bagi perekonomian Depi setelah kerugian fisik akibat banjir.
Memulihkan kepercayaan publik, khususnya para pencari hunian sewa, agar mau kembali tinggal di kawasan bekas bencana merupakan tantangan tersendiri yang memerlukan waktu tidak sebentar.
Baca juga: Prakiraan Cuaca Mentawai Hari Ini Rabu 3 Juni 2026, Siang hingga Sore Berpotensi Hujan Ringan
Tantangan pascabencana di Batu Busuk ternyata tidak berhenti pada hilangnya mata pencaharian semata, melainkan juga bergeser ke krisis pemenuhan kebutuhan dasar.
Saat intensitas hujan menurun dan cuaca berganti menjadi terik menyengat seperti beberapa hari terakhir, masalah baru yang tak kalah pelik langsung muncul ke permukaan.
Sumur-sumur galian warga, yang selama ini menjadi urat nadi pasokan air bersih untuk keperluan domestik, mulai mengering.
Lapisan tanah yang sempat jenuh air saat banjir kini justru mengalami penurunan debit air tanah yang drastis ketika kemarau kecil melanda, menyulitkan warga untuk beraktivitas harian secara normal.
Beruntung bagi Depi, ia sempat mengantisipasi kerentanan krisis air bersih ini dengan memasang tangki penampung air (tedmond) di area rumahnya.
Keberadaan tandon air ini menjadi penyelamat darurat, memungkinkannya menampung sisa-sisa pasokan air yang ada untuk menjaga ketersediaan air bersih di tengah masa paceklik hidrologi pascabencana ini.(*)